Hidup
ini selalu dinamis, berubah dan juga tidak stagnan. Selalu mengarah pada
perubahan yang tidak akan pernah berhenti berputar. Entah perubahan itu kearah yang
lebih baik, atau menjemukan bahkan merusak, kita tidak pernah tahu.
Perubahan
sedikit demi sedikit pun tidak luput dalam kehidupaku. Aku yang dahulu hanyalah
anak bungsu yang manja, hanya memikirkan tentang bahagiaku saja, karirku saja,
dan pusat kebahagiaanku hanya bermain dan menemani Ibu, lambat laun pun berubah
setelah menjadi istri.
Suamiku
yang baik hati membawaku kerumahnya yang mungil namun membahagiakan. Membesarkan
buah hati kami dan juga menjalani aktifitas sebagaimana layaknya pasangan muda
pada umumnya. Pagi hari bekerja dengan sebelumnya menitipkan anak ke
pengasuhnya, pulang kerja di sore hari (bersyukurlah kota ini bebas macet yang
membuat kepala mau pecah), dan menjalankan rutinitas ibu rumah tangga dimulai
sejak beduk magrib berkumadang. Aku menjalaninya dalam lelah yang bahagia. Setelah
pulang kerja, aku akan segera memasakkan lauk untuk makan malam, mencuci
piring, membereskan rumah dan bercanda bersama anak dan suamiku. Aku bahagia. Walaupun
harus tidur paling cepat pukul duabelas malam dan bagun pagi-pagi sekali. Aku bahagia
karena aku didukung oleh suami yang sungguh baik dan perhatian.
Namun
dalam bahagiaku, aku melupakan ada Ibu yang kesepian.
Ketika
suami memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Kota Hujan, otomatis aku dan
buah hati harus ‘hijrah’ kerumah Ibu karena selain lokasi rumah kami dan tempat
aku bekerja cukup jauh dan membuatku kesulitan untuk mengasuh anak sendirian
selepas pulang bekerja, masalah financial
pun menjadi prioritas utama. Harapan kami, dengan tinggal sementara dirumah Ibu
akan dapat mengurangi keterbatasan financial
yang akan aku hadapi ketika suami harus melajutkan kuliah. Ibu pun menyanggupi
dan dalam aku kembali masuk dalam zona nyamanku.
Ketika
seorang anak telah menikah, bagaimanapun anak tersebut akan tetap dianggap
sebagai “anak kecil” yang masih harus diatur, diarahkan dan juga diawasi. Sedangkan
dalam paradigma seorang anak yang telah menikah, ia akan berpikir bahwa ia
adalah seseorang yang telah dewasa, memiliki pendapat, pola dan pemikiran tertentu
tentang bagaimana dan apa yang harus ia lakukan. Entah itu dalam mengelola
keuangan, mengasuh anak, mengurus anak dan juga memenejemen waktu.
Tapi
perbedaan “idealisme” antara orangtua
dan anak yang telah menikah namun tinggal serumah tidak akan berjalan dengan
mulus dan rata seperti jalan tol ataupun paha cherrybelle. Perlahan tapi pasti pergesekan akan terjadi. Seperti yang
terjadi antara aku, Ibu dan Bapak.
Terutama
Ibu.
Ibu
masih seperti Ibu yang dulu, tidak berubah. Aku yang telah berubah. Ibu masih
Ibu yang manja, yang ingin dimengerti, yang mudah merajuk, dan juga keras
kepala. Ibu seyogyaya tidak pernah berubah. Aku telah mahfum dengan sikap Ibu
ini. Tapi sekali lagi, aku yang berubah.
Ibu
yang tetap ingin bisa berkisah dan bercerita denganku berjam-jam.
Ibu
yang tetap ingin aku menyapu dipagi hari, mencuuci piring disore hari.
Ibu
yang tetap ingin memarahiku ketika aku tidak mencuci baju, memasak ataupun
bangun kesiangan.
Ibu
yang tetap ingin mengatur bagaimana aku berpakaian dan bersikap.
Ibu
yang tetap ingin aku memboncengnya kemanapun ia pergi dengan senang hati.
Ibu
tidak berubah. Aku yang berubah.
Aku
yang tidak dapat lagi menemaninya bercerita sampai tengah malah dan memeluknya
sepanjang malam karena harus mengurus anakku yang aktif luar biasa, Alhamdulillah.
Aku
yang tidak dapat lagi mengerjakan pekerjaan rumah seperti seharusnya karena
anakku yang rewel tidak mau ditinggal, atau seringkali merecokiku setiap kali
aku bekerja dan juga kelelahan dahsyat yang melanda setiap kali pulang bekerja.
Aku
yang tidak dapat lagi menemani Ibu pergi dengan bebas dan nyaman karena harus
membawa anakku kemana-mana dengan segala kerepotan dan kehebohan yang ada.
Aku
yang terlalu memprioritaskan suamiku dan anakku sehingga aku melupakan bahwa
Ibu pun ingin tetap menjadi prioritasku.
Aku
yang terlalu asyik dengan duniaku sehigga aku melupaka bahwa aku adalah dunia
Ibu.
Aku
berubah.
Aku
merasa telah dewasa, sehingga walaupun aku memiliki keterbatasan financial, aku tetap memiliki hak utuk
menentukan dan mengatur ingin seperti apa aku mengasuh anakku. Dengan caraku. Dengan
polaku. Yang tentunya berbeda dengan cara mereka mendidikku.
Aku
yang berubah.
Aku
yang tidak dapat memberikan perhatian yang sama antara Ibu, Suamiku dan Anakku.
Aku mengorbakan Ibu dalam kebahagiaanku.
Sampai
saat ini aku tidak tahu bagaimana harus menjadi seseorang yang adil bagi
mereka. Ditambah dengan kenyataan bahwa kami harus mengikuti suami yang akan
ditempatkan bekerja di kota Palembang, membuat hubungan ini menjadi semakin
memburuk.
Ibu
down.
Ibu
seperti kehilangan arah. Lagi-lagi aku lupa bahwa aku adalah dunia Ibu. Karena aku
sedang menggenggam duniaku, aku lebih memikirkan duniaku sehingga melupakan
Ibu. Aku yang lebih mengejar bahagiaku sehingga melupakan bahagia Ibu.
Aku
sadar aku terlihat kejam dimata Ibu ketika aku memilih untuk bersama keluargaku dibandingkan bersama
Ibu. Bahkan aku tidak tahu apakah keputusan ini benar atau tidak. Tinggal dengan
mertua terdengar tidak lebih baik dibadingkan tinggal bersama dengan orangtua
sendiri. Bisa jadi keputusan ini akan aku sesali, tapi aku sadar aku akan lebih
menyesal jika harus membuat anak-anakku nantinya hidup seperti aku sewaktu
kecil. Selalu berjauhan dengan Bapakku. Aku hanya mampu memotivasi diriku bahwa
aku akan bahagia dimanapun aku berada asalkan aku bersama dengan keluargaku. Aku
yakin semua kesulitan akan mampu aku hadapi asalkan aku bersama dengan orang
yang aku cintai, dan mencitaiku.
Aku
berubah.
Hidupku
berubah. Aku bukan lagi anak gadis remaja Ibu yang dapat menemani Ibu seperti
yang dahulu aku lakukan.
Semoga
Allah memberikan jalan keluar atas segala kecamuk yang sedang aku hadapi.
Semoga
Allah memberikanku kesempatan untuk membahagiakan Ibu dan Bapak, setidaknya
agar mereka bisa meganggapku sebagai anak yang mereka harapkan. Bukannya sebagai
aak yang mereka sesalkan.