Minggu, 28 Agustus 2016

Cerita Agustus ku

Ada beberapa keinginan dalam hidup yang nyatanya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
Membuat waktu berjalan terasa amat lambat dan sungguh terasa menyesakkan.
Itu adalah saat dimana kamu merasa patah hati.
Aku mengira patah hati hanya untuk mereka yang sedang kasmaran dimasa belia. Ternyata setua ini pun aku masih bisa patah hati.

Malam tadi aku memandang wajah Arjuna dengan mata yang berkaca. Ia tidak terlalu rewel rasanya. Mungkin ia paham bahwa ibunya ini sedang menata hati. Ibunya sedang merasa bersedih. Sudah berapa kali ia menyaksikan ibunya dalam wajah kelelahan ini menangis. Ia akan bersikap seolah mengerti. Diam tanpa melakukan hal hal aneh yang sesekali membuat ibunya dongkol.

Apapun yang terjadi aku sungguh ingin memberikan segala yang terbaik yang aku punya untuk Arjuna. Aku tahu perjuangan itu sungguh sulit, pun disaat aku sedang patah hati ini. Kesepian ini. Sendiri ini. Tapi dihadapannya aku harus kuat. Aku menguatkan hatiku walaupun harus menangis.

Rasanya jika patah hati, obat yang terbaik adalah menangis bukan?
Maka dalam masa ini bukan hal aneh aku menjadi mudah menangis. Memikirkan musabab aku patah hati saja membuat aku menangis. Menulis untuk menenangkan hati saja membuat menangis. Si cengeng ini sepertinya kehabisan kata kata dan selalu ingin menangis.

Aku mempertanyakan pada diriku. Apa alasan aku patah hati?
Kenapa aku patah hati?

Patah hati dialami saat kita sedang jatih cinta. Yup, aku sedang keadaan jatuh cinta. Lalu saat kita sedang penuh rasa cinta itu, hati ini disakiti. Itulah patah hati. Disakiti teramat sangat, itulah patah hati. Aku tidak mengkategorikannya sakit hati. Karena sakit masih membuat hati ini berbentuk. Tapi patah? Aku tahu walaupun sesuatu yg patah itu diusahakan untuk disambunv agar seperti awal, itu tak akan pernah bisa menjadi sama.

Itulah patah hati.
Saat hatimu seperti bukan hatimu lagi. Aaat hatimu terlalu mencintai dan terluka, teramat dalam. Itulah patah hati. Saat memikirkannya saja kamu menangis,itulah patah hati. Saat berharap semua tak pernah ada. Itulah patah hati. Patah hati hanya terjadi pada rasa cinta yang besar.

Banyak hal yang membuat aku patah hati.
Kondisi seperti ini sungguh sulit untukku. Tapi aku belajar untuk tetap tersenyum, walau mata ini ingin sekali menangis. Apapun akan membuatku menangis. Ah... ini yang aku benci dalam parade patah hati dihidupku, aku mudah menangis! Cengeng!

Aku akan menjawab kenapa aku patah hati.

Penyebab patah hatiku adalah tidak adanya rasa saling pengertian.

Mungkin saja aku tidak bisa memahami orglain. Bukannya aku tdk bisa, aku tidak mau memahami orglain yang tidak memahamiku. Yah, aku terdengar sedikit pendendam.
Aku tidak mau menahami dan mengerti apapun atas orang yang tidak pernah berusaha memahami hatiku. Orang yang selalu menganggap hal penting untukku adalah todak penting untuknya.  Orang yang bersikap tidak adil padaku. Oramg yang menganggap semua tindakanku tidak benar. Orang yg tidak mau menerima bahwa ia salah, ia keliru dan ia seharusnya meminta maaf. Bukan menyalahkanku. Orang itu menyakitiku.

Aku memahami situasinya, dalam keadaan lain aku samgat mempercayainya. Sungguh, aku sangat mempercayainya. Tetapi aku tidak bisa memahaminya. Mengerti keinginannya. Begitupun sebaliknya. Lantas yang eterjadi hanya segumpalang keangkuhan dan kesombongan masing-masing saja.

Aku mundur. Aku berlari. Aku memaki sampai aku puas.

Apa aku menyesal?
Yah, aku menyesal. Menyesal melakukan semuanya. Mungkin seharusnya aku biarkan saja semuanya seolah tak terjadi agar tak ada amarah diantara kami. Mungkin sebaiknya aku diam saja dan bercerita yang indah-indah saja kepadanya dan kepada semua orang. Walaupun hatiku sakit. Walaupun hatiku remuk. Tetapi itu bukan aku.

Biarlah... biarkan waktu yang menjawab semua patah hatiku. Apapun itu, aku akan selalu mendoakan ia dalam keadaan terbaiknya.

Dan biarlah waktu yang menyembuhkan hatiku. Aku tahu aku bisa. Walaupun harus sendiri.

Bahkan jika kehidupanku harus kehilangan dia, aku pasti akan menangis. Tapi aku akan tetap kuat untuk Arjuna. Mungkin sepanjang hidupku aku akan menyesali karena memberikan cacat dalam hidup Arjuna. Tapi aku akan berusaha menebusnya seumur hidupku.

Aku tidak lagi mengharapkan yang terbaik untuk hidupku. Aku hanya mengusahakan untuk Arjuna.


Belajar melupakanmu

Mungkin belajar melupakanmu adalah hal terbaik.
Belajar melupakan bahwa aku selalu memikirkanmu
Melupakan bahwa aku selalu merindukanmu
Belajar bahwa aku sangat membutuhkanmu

Terkadang ketika qt terlalu mencintai maka yang didapat adalah derita
Apa kuasaku terhadap hati?

Ingin sekali aku mengatakan bahwa banyak hal yang membuatku tidak merelakanmu
Bahkan jika bisa ku katakan aku tidak ingin melihatmu disentuh siapapun
Tapi apa dayaku?

Ketika hal penting untukku terabaikan olehmu
Apa dayaku?
Ketika hal itu membuatku menangis
Dan semua itu hanya seperti debu yang ada di didinding kau acuhkan
Aku bisa apa?

Marah pun hanya membuat salah paham
Bertindak hanya membuatmu kecewa

Diam saja?
Pilihat terbaik itu hanya akan membuatku menangis sendiri

Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan agar banyak hal untuk kau mengerti
Atau aku hanya tidak harus melakukan apa apa
Aku diam saja
Aku abaikan saja
Aku biarkan keinginanmu seperti apa
Aku biarkan perbuatanmu seperti apa

Entahlah...


Jumat, 05 Agustus 2016

Badanku dulu tak begini

"Lebarnyoooo badan cak jalan rayo"

Logat palembang yang kental itu akan terlontar dari suami kalau sedang iseng. Hanya akan aku balas dengan senyuman manis aja sambil nyuci piring atau nyapu rumah. Cuma, kalo lagi bete abis biasanya aku jawab aja : "ya gara gara papa lah jadi gendut gini"

Setelah melahirkan si ganteng arjuna memang berat badanku naik drastis. Kalo pas belum menikah alias ting ting berat badan berkisar di 60 - 63. Kadang kadang sih 65... tapi kalo udah segitu boro-boro diet sih. Untuk ukirang tinggi 163 cm yaaaa lumayan enak dilihat lah walaupun ga langsing" amat. Tapi kalo pake baju apa aja masih cocok.

Sewaku hamil berat badanku mencapai 89kg saat mau melahirkan. Bayangin aja segeda apa itu badan. Hehehehhe.

Dan sekarang setelah arjuna menginjak usia dua tahun berat badan si mama Juna ini stuck dengan rekor tertinggi 77 kg! Oh my god!!!
Wajar aja sihhh kalo si papa Juna sering protes. Hehehehe. Istrinya yang dulu mi tok sekarang berubah jadi bongsor.

"Biar gendut tapi cantik"
Kata papa Juna sih sejak nikah sama beliau, aku jadi tambah cantik (banggaaaà kalo dipuji suami) secara sekarang udah mendingan bisa bedak bedak dikit demi menutupi bibir pucat. Hanya aja.... dalam hati rindundengan berat badan yang dulu.

Mau diet, apa daya kapasitas lambung kayanya makin gede aja. Makan makin banyak aja. Padahal udah gak menyusui. Hehehehe
Mau olahraga, boro boro! Capeknya luar biasa abis kerja.
Minum pelangsing dan resep apalah apalah kayanya ga mempan lagi alias bb gak turun turun.
Jadi, sampaibsejauh ini mimpi untuk kurus lagi adalah angan angan semata..

Hiks hiks...

Susahnya dengan BB segini rasanya muka jati tambah tua deh! (Emang dasarnya muka tua kali ya, tambah gendut tambah keliatan lebih tua aja. Ahahahaaa)
Trus harus pinter pinter cari model baju. Takud keliatan makin gndut. Perut meleber kemana mana... ohhhhh no.

Hmmmm.... sekian curhat saya tentang berat badan yang membandel ga kunjung turun.


Kamis, 04 Agustus 2016

Hidupku terasa sulit

Ini adalah titik terendah dalam kehidupanku.
Ketika aku merasa tidak pernah sekosong isi. Tidak pernah merasa se sulit ini. Dan tidak pernah merasa begitu semenderita ini.
Apakah aku kufur nikmat?

Saat ini aku merasa di ambang batas kemampuanku untuk bisa menyelesaikan semua masalah finansial yang ada dihadapanku.
Suami yang bersekolah, kebutuhan anak yang meningkat, keinginan untuk memiliki sesuatu yang semakin menjadi jadi, serta usaha yang sedang merosot membuat pergejolakan di hatiku. Ditambah dengan isu PHK yang menghantuiku.

Apa yang harus aku lakukan?

Allah, apa yang harus aku lakukan?

Aku merasa semua jalan hampir tertutup.

Bagaimana bila aku di PHK? Hutang ku bagaimana? Apakah masihvada perusahan uang akan menerimaku?

Aku tidak berkeberatan menjadi ibu rumah tangga. Tapi bagiamana dengan hutang" ku?

Malam hari aku berjualan. Badanku lelah. Anak ku terabaikan. Tidak ada lagibadegan memasak utk si kecil. Tidak ada lagi adegan bersenda gurau
Atoknya kelelahan.
Neneknya kelelahan.
Semua terasa sia sia saja.

Allah, apakah kau sedang mengujiku?

Aku merasa hampa.
Akuemrasa takut.
Suasana kerja yang tidak lagi mendukung dan kondusif. Semua terasa memuakkan. Semua terasa meletihkan....

Aku merasa kelelahan sekali. Aku merasa ingin menangis....
Hidup ini terasa sungguh sulit.


Rabu, 13 Juli 2016

Perjalanan kriteria

Paradigma seseoramg akan berubah seiring dengan perjalanan waktu dan kehidupannya. Terkadang, harapan-harapan dan keinginan pun turut berubah sesuai dengan ala yang telah dialami.

Seperti karakter dan kriteria pasangan pun akan mengalami pergeseran pula. Hal ini tentu saja akan dialami setiap orang, walaupun beberapa orang tidak mengalaminya.

Dulu, lelaki idaman saya adalah lelaki 6ang tampan dan atletis (semua wanita mendambakan pria seperti ini). Kecerdasan dan juga keramahan menjadi alasan kenapa pria populer sangat dikagumi. Saya adalah salah satu korban dari pria populer pada masa pubertas. Layaknya film perasaan kagum itu dianggap seperti cinta sejati. But, everything is serious for tenegeers.

Lalu keinginan mendambakan lelaki populer berangsur berkurang setelah menapaki masa perkuliahan. Lelaki pintar adalah lelaki yang berkharisma. Lelaki pintar memiliki daya tarik tersendiri. Abaikan lelaki tampan tapi bodoh (walaupun pada masa kuliah saya jatuh cinta dengan lelaki yang tidak terlalu cerdas) karena lelaki yang pintar pada masa perkuliahan saya, dikaruniai wajah yang rrelatif menarik sehingga mereka memiliki keleluasan untuk mendapatkan wanita cantik. Masa perkuliahan sedikit menggeser pola pikir saya. Lelaki populer vs lelaki cerdas.

Dan kembali waktu berlalu dengan cepatnya. Kriteria lelaki yang saya dambakan menjadi berubah pula. Ketika sudah duduk dibangku perkantoran keingginan atas lelaki berubah menjadi keinginan untuk memiliki lelaki yang mapan. Rasanya, wajah yang tidak terlalu tampan asal mapan adalah jawaban yang tepat atas kegalauan. Pada masa ini, diusia sudah hampir menapaki seperempat abad, keinginan hati tidak hanya lagi utnuk bersenang senang. Tetapi untuk membina rumah tangga.
Apalah arti populer tetapi ia belum bekerja.
Apalah arti tampan tapi ia belum mapan.
Dan apalah arti cerdas jika ia kasih pemgangguran.
Lelaki mapan adalah idaman.
Mapan bukan berarti ia adalah pegawai, bekerja di kantoran ataupun punya seragam. Dalam hemat saya, mapan adalah ketika lelaki itu telah mampu menghasilkan sejumlah uang secara kontinyu dengan bekerja. Apapun pekerjaannya. Dikategorikan pria tersebut telah mampu untuk memenuhi setidaknya kebutuhan minimal pasanganya.

Setelah apa yang saya alami pada titik ini, wajar saja jika banyak "kata orang" tentang ga apa apa jelek asal kaya, atau kemapanan mengalahlan ketampanan. Percuma yampan ga kerja, ganteng bisa ilang, menurit saya adalah kata kata yang tepat untuk wanita diusia seperempat abad. Jangan berbicara hal iyu pada gadis yang baru puber, akan disebutnya kita matre tingkat dewa! (Jadi inget dulu pernah menyebut ibu matre karena memarahi anaknya yang pacaran dengan pria tampan tapi beluk bekerja saat baru tamat sma).

Kriteria oh kriteria

Namun, bagi saya. Setelah menikah yang dibutuhlan wanita adalah lelaki yang memberi kenyamanan. Rasa nyaman adalah hal yang mahal untuk dimiliki wanita menikah.
Rasa nyaman menghadirkan banyak impact pada pernikahan. Rasa nyaman menghadirkan kepercayaan, cinta, ketenangan dan juga semangat.

Sejah ini, itulah yang diberikan oleh lelakiku. Ia memberikan rasa nyaman yang membuat aku mempercayainya. Mempercayai bahwa ia tidak akan meninggalkan kami. Mempercayai bahwa ia akan selalu bertanggung jawab pada kami. Mempercayai bahwa ia akan selalu ada dan setia kepada kami.

Rasa nyaman itu membuat kita akan selalu berusaha menjadi yang terbaik, bukan untuk pasangan, sejatinya kita memberikan yang terbaik karena kita takut kehilangan rasa nyaman itu sendiri.

Pada akhirnya, terkadang jodoh yang diberikan tidak pernah sesuai dengan kriteria kita. Karena TUhan memberikan jodoh seperti yang kita butuhkan. Bukan yang kita inginkan. Trust me, it works! :p


Senin, 04 April 2016

Maafkan Mama, Arjuna.

Beberapa minggu terakhir adalah hari-hari dengan penuh ujian kesabaran bagi saya karena Arjuna sedang sakit. Bagi Ibu bekerja seperti saya, anak yang sakit adalah suatu keadaan dimana dilema menjadi raja.  Disatu sisi rasanya nurani sebagi ibu sedang diuji konsistensinya untuk mengurus dan menjaga si kecil. Mebayangkan ia demam sambil menangis memanggil nama sang mama adalah hal paling menyedihkan yang pernah dibayangkan, rasa sakit karena diputus kekasih mengalahkan pilu itu.

Kesabaran pun diuji batas maksimalnya, dimana saat seharusnya jam yang berderak lamat-lamat itu menunjukkan kesempatan kita untuk istirahat setelah hampir setengah hari berada di kantor harus diisi dengan menangkan si kecil yang menangis tiada henti. Apalagi si Juna selalu ingin digendong, mama-nya tidak boleh meletakkannya diatas kasur. Harus selalu dipeluk.  Lelah itu mnejadi berlipat-lipat membuat kadar kesabaran berada pada titik nol.

Menulis cerita ini membuat airmata ku berurai, menyesali ketidak sabaranku dalam menjaga si kecil yang sedang rewel. Harusnya seorang ibu adalah sosok yang paling bisa menahan amarah, bukan? sosok yang bisa menahan beribu kesakitan demi anak. Tapi si Ibu ini hanya bisa marah-marah saat si kecilnya rewel di pertigaan malam. Alasannya cuma dua : lelah dan kurang tidur.

Dimana kesabaranku sebagai mama nya Arjuna?

Dimana kesabaranku ketika Juna hanya ingin dipeluk, di gendong dan  dibuai seperti ia masih kecil?
Aku mengutuk kelemahan fisikku, yang aku kira sangat kuat.
Aku menyumpah ketidak mampuanku untuk selalu kuat dan bertahan dalam keterbatasan fisik itu.
Aku memaki diriku sendiri yang telah menaikkan intonasi suaraku disetiap pertigaan malam karena kerewelan Arjuna, disaat aku belum tidur sedetikpun.

Ah, menjadi Ibu bukanlah hal yang mudah. Inilah alasan bahwa kita harus mencintai dan menghormati Ibu lebih dari appaun. Saya akan mengatakan bahwa sangat tidak mudah menjadi Ibu.

salah satu  cita-cita saya sampai pada titik ini adalah : menjadi ibu rumah tangga. 

Cita-cita yang sangat saya tidak mampu menyegerakannya. Pertimbangan-pertimbangan yang banyak saya sesalkan. Jika ada ibu rumah tangga yang berkata pekerjaannya membosankan, mohon bawa kehadapan saya dan saya ceritakan bagaiman sakitnya hati ini melihat anak sakit tapi tidak bisa cuti dari pekerjaan atau cuti telah habis. Bagaimana saya harus diam-diam membawa anak saya pergi keluar dari kantor untuk sekedar imunisasi. Jika ada ibu rumah tangga yang mengatakan bahwa ia tidak bernilai karena ia tidak bekerja, bawa kepada saya dan katakan bahwa bertapa berharganya setiap waktu bersama si kecil yang bisa diisi dengan bermain bersama dan juga mengajarinya banyak hal dibandingan menguyrus beratus-ratus dokumen yang tidak membuat diri ini bahagia layaknya menemani si kecil. Menjawab semua pertanyaannya. Menjadi sosok yang ia cari dan butuhkan. Memasak dan juga membuatkan apa saja yang ia butuhkan.

Tidak akan berguna jabatan yang tinggi bila anak-anak kita hanya menjadi orang yang tidak bermanfaat.
Bukanlah orang yang berhasil apabila kita memiliki gaji yang besar, tetapi anak-anak kekurangan kasih sayang.
Dan bukanlah kesuksesan ketika kita menjadi terhormat dimata manusia tapi anak-anak tidak pernah menyentuh sajadah dan AL qurannya.

Ah, Arjuna.
Maafkan mama dengan segala ketidak sabaran Mama.
Dengan segala sedikitnya waktu yang Mama punya untukmu.
Dengan semua kekurangan yang mama miliki dalam mengasuhmu.
Maafkan Mama yang selalu meninggalkanmu.
Maafkan Mama, Nak.

Semoga seiring berjalannya hari Mama akan menjadi Mama yang selalu sabar untukmu nak.
Airmata ini tidak henti-hentinya saat menulis kalimat-kalimat diatas.  Hati Mama masih terlalu cengeng ya, Nak?

Ya. Karena Mama sangat mencintai Arjuna.

Rabu, 02 Desember 2015

Puisi Seorang Mama

Kau adalah muaraku
perjalanan yang mendidikku
Ku labuhkan padamu

Cintaku tak pernah akn usai
Ada ataupun tiadanya raga

Berlarilah, kebanggaanku
Berlalirah mengejar cita-citaku
Yang aku harapkan akan menjadi cita-citamu
Bila pun tak searah
Aku percaya kau akan bahagia

"Karna doaku hanya satu
Jadikan anak-anakku sebagai ahli duniaMu, dan ahli syurgaMu"

Nikmat Yang Menguji


Tidak bisa aku tampik bahwa kehidupanku yang sekarang sangat patut aku syukuri dengan sebanyak-banyaknya. Berkali-kali aku mengatakan betapa aku sangat berterima kasih kepadaNya yang telah menganugerahiku keluarga yang penuh kasih sayang, suami yang begitu bertanggung jawab dan penuh perhatian kepadaku, mertua yang sangat baik, tidak pernah pilih kasih dan juga sangat mencintai cucunya, serta ipar-ipar yang sangat menyayangi kami sekeluarga. Kebahagiaan itupun dilengkapi dengan kehadiran buah hati kami yang sangat tampan tanpa harus menunggu terlalu lama.

Secara financial walaupun kami bukan tergolong keluarga yang memiliki banyak kelebihan, tapi cukuplah bagiku untuk merasa bahagia. Suami yang telah meiliki rumah dan pekerjaannya sebagai pegawai negeri, sedikit banyak membuat hatiku cukup bangga. Tidak hanya itu, orangtuaku pun turut bangga. Pekerjaanku sebagai pegawai Bank, walaupun bergaji yang tidak besar, setidaknya cukup memenuhi kebutuhan pribadi. Pendek kata, aku bersyukur atas semua nikmatNya.

Tapi rasa syukur dan juga rasa terima kasih ini tidak aku refleksikan dalam bentuk yang real kepada Tuhanku, Allah SWT.

Aku menyadari menurunnya keimananku yang sangat drastis. Padahal, suasana sekelilingku sangat menunjang untuk beribadah dengan leluasa dan juga tepat waktu. Aku mengakui, telah tiga tahun terakhir ini mengalami penurunan keimanan. Terhitung jari aku melakukan sholat lima waktu, paling banyak empat waktu. Subuh adalah sholat yang paling seing aku lewatkan. Berbeda dengan masa aku masih berstatus sebagai anak sekolahan, sholat adalah hal yang paling tidak bisa aku tinggalkan.

Ya, disinilah Allah mengujiku. Allah mengujiku dengan mengamanahkan aku dengan pekerjaan yang baik, namun menguras tenaga dan pikiran. Pulang malam merupakan hal biasa, sehingga rasa letih yang luar biasa membuatku merasa malas untuk sholat subuh. Disitulah Allah mengujiku. Dan sepertinya aku belum lulus ujian ini.

Kemudian, Allah mengujiku dengan menghadirkan anak. Dimana tugasku adalah 24 jam. Waktu tidur tidak seenak dulu. Anak yang terbangun tengah malam dan rasa lelah yang luar biasa, menjadi alasan utama aku melewatkan sholat subuh. Padahal, aku selalu terbangun ketika azan berkumandang. Sungguh celaka hidupku.

Aku pun merasakan kenikmatan sholatku berkurang. Jika dulu, aku berdoa sejadi-jadiNya kepada Allah dan terasa legalah hatiku, tapi kini aku seperti hanya menjalankan ritual. Tanpa bisa memaknainya atau meresapiNyA. Aku merasa hatiku terlalu kotor.

Ah… hal paling bodoh didunia adalah, kita mengetahui ahwa apa yang kita lakukan itu salah namun tetap melakukannya. 

Menurunnya keimananku ini tentu saja berimbas pasa semua sisi pribadiku. Sering bergunjing, pemarah, tidak sabar dan tentu saja mudah mengjina orang lain adalah hal biasa yang aku lakukan.

Allah sedang  mengujiku di dunia, dan aku merasa kini ia mulai bosan menegurku yang tidak pernah menggubris tegurannya. Dulu, Allah seringkali memberikanku masalah-masalah yang membuatku ingat untuk bersujud kepadaNya. Tapi kini hidupku terasa datar tanpa ada masalah, selalu apa yang aku inginkan aku dapatkan. Dan aku mulai merasa takut dengan hal itu. Apakah dugaanku benar? Allah mengujiku, dengan seluruh kenikmatan ini karena ia sudah bosan untuk menugurku, dan tidak rindu lagi dengan rintihan serta tangisanku padaNya?


Pangkalpinang, 03 Desember 2015          

Sabtu, 26 September 2015

kisah sang Ibu

Pernah terjadi suatu percakapan singkat antara saya dan ibu di dapur suatu malam. Ibu bercerita tentang bagaimana kesusahan perekonomian ibu sejak menikah hingga kami dewasa. Saat masih remaja aku tidak terkalu menggubris kisah inibsebagai kisah yang istimewa, namun saat saya telah menikah tiba-tiba saja kisah ibu itu menjadi salah satu sumber kekuatan dalam menjalani kisah romansa rumah tangga kami yang baru seumur jagung ini.

Alkisah ibu menceritakan tentang bagaimana ia memutuskan menikahibseorang tentara tampan yang bergaji kecil. Malam itu atok bertanya apakah Ibu sudah siap dan bulat tekad menikahi seorang tentara yang gajinya kecil dan siap ditinggal lama untuk bertugas. Menjawablah ibu dengan kata "iya".

Tapi kata "iya" yang meluncur dari mulut ibu bukan sembarang jawaban demi meluluskan niat untuk menikah. Tapi leboh kepada keputusan seumur hidup yang haram untuk ibu keluhkan. Dan memang, sejak saat itu, bahkan sampai saya menikah tak pernah saya mendengar ibu mengguman barang selirih apapun tentang betapa sulitnya atau betapa kurangnya gaji bapak dalam memenuhi kebutuhan kami. Waktu itu gaji PNS belumedahsyat sekarang. Apalagai tentara, dizaman ibu PNS itu diremehkan, pegawai timah atau kobatin lah yang menjadi idola.

Tapi Ibu adalah sosok yang berkarakter. Seberapapun gaji bapak diterimaibu dengan ikhlas dan todak dengan mengeluh. Ia cukup cukupkan gaji itu untuk memenuhi kebutihan. Ibu berkata, memebeli baju adalah hal terakhir dalam pikiran ibu. Setahun sekali belumtentu. Boro boro untuk liburan.

Masih saya ingat saat masih kecil hingga remaja, saya adalah tipe anak yang "banyak maunya". Selalu minta dibelikan ini, dibelikan itu. Bando, mainan, pita, baju dan banyak lagi. Setiap permintaan saya selalu dijawab ibu : "iya, nanti kalau ibu sudah punya uang". Tidak pernah ibu mengabulkan permintaan saya serta merta. Mungkin memang ibu tidak punya uang, tapi dikemudian hari, entah itu bulan depan atau bulan bulan berikutnya ibu akan menghadirkan baranf yang saya minta itu. Sikap ibu itu menjadikan saya selalu sabar dalam memiliki sesuatu. tidak cepat marah atau kesal jika keinginan tidak dituruti sekaligus menumbuhkan pola pikir "pasti saya punya/dapatkan walaupun tidak sekarang".

Ibu pernah menceritakan bagaimana dulu bapak bisa mrnghasilkan uang jutaan dalam hitungan minggu drngan bisnis "ilegal" yang ia lakoni. MEmang, di masa itu hp bisa gonta ganti, beli ini beli itu tinggal minta sama bapak. Tapu ternyata, justru ibu yang blingsatan.
Hati ibu tak tenang melepas suaminya bekerja. Pikiran tentang resiko selalu membayang bayangi ibu. Bahkan sampai ibu tidak tidur. Akgirnya, ibu memutuskan bicara kepada bapak untuk menghentikan bisnisnya itu. "Biarlah ibu bapak kasih uang gaji saja, asal hati ibu tenang menerimanya. Daripada uang banyak, tapi ibu ketakukan." Kata ibu suatu malam.

Lalu kembali lah kami berhemat sejak bapak berhenti berbisnis. Dan rumah tangga bapak ibu selalu jauh dari perselisihan tentang uang. Hingga saat ini.

Kisah ibu sungguh menggajarkan aaya tentang arti bagaimana kita harus ikhlas menerima segala resski yang suami berikan. Entah itu cukup atau tidak versi istri. Apalagi jika sblm menikah si istri sudah tau berapa pendapatan suami. Ya, kisah ibu ini memotivasi saya untuk tidak mudah mengeluh tentang uang. Tentang sulitnya memenuhi kebutuhan. Tentang sedikit menurunkan standart. Tentang tidak mudah iri pada kehidupan orang. Tentang bagimana seorang istri yang baik adalah tidak pernah mengeluh tentang rezeki yang Allah berikan. 

Ah, masih jauhlah ilmu saya dibanding Ibu. Tapi semoga saja saya bisa meneladani ibu. Satu kata yang lekat di hati saya : "kalau sudah berkomitmen, harus siap menerima resiko! Jangan mengeluh atas apa yang sudah kita sanggupi di depan."

Mom  u're the best!! I love u.

catatan hati seorang istri (episode 1)

Ada kekhwatiran saat memutuskan memberi izin kepada suami untuk melanjutkan pendidikannya di pulau sebrang. Tapi kekhawatiran itu terkalahkan dengan kepercayaan bahwa suami akan selalu menjaga rasa percaya itu.

Bukan tidak sedikit cerita bahwa banyak suami yg bersekolah lagi di luar pulau , pada akhirnya bukan pulang membawa ijazah tapi ijab sah alias menikah lagi. Sungguh, itu adalah momok terbesar dalam keputusan itu. Belum lagi ditambah akan kerepotan dalam mengurus si kecil yang lagi belum genap 1,5 tahun. Ditambah dengan bayangan hambatan secara finansial. Banyak sekali resiko dibelakang yang harus diterima. Tapi, entah kenapa, bisa jadi karena kepercayaan yang ditanamkan sang suami membuat saya mengenyampingkan semua itu. Keyakinan itulah yang membuat saya mengizinkan suami untuk sekolah lagi.

Setiap hari, doa yang terpanjatkan kepada Allah hanyalah agar Allah slalu menjaganya agar slalu dalam koridor kehidupan yang benar.

Bagaimana dengan godaan?
Godaan itu datang silih berganti, tentu godaan itu akan datang. Baik dari sisi lawan jenis, teman dan juga lingkungan. Tidak bisa di tampikkan.

Tapi kembali lagi pada rasa percaya : percaya pada suami akan selaku bersikap bijak dan percaya pada Allah akan selalu menerangi hatinya untuk tidak tergoda pada kesenangan sementara semata.
Jika bukan iman dan tanggung jawab yang berbicara, perkara fisik akan mudah terabaikan.

Apalah arti istri yang badannya gemuk , wajahnya tembam dan cerewet ini bila dibandingkan manis dan jelitanya wanita wanita dikota besar sana? Tapi saya percaya, suami menikahi saya bukan karena fisik semata. Jadi, kekurangan lahiriah ini tidak serta merta menjadi alasan beliau untuk 'bertingkah' saat jauh dari sang istri.

Lalu, apakah saya juga lepas dari godaan? Tentu tidak!
Setiap istri slalu butuh tempat untuk menyandarkan segala keluh kesahnya dan meminta nasihat dari sang suami. Butuh sosok yang melindungi dan mengayomi. Lantas, bagaimana sang istri menjalani kehidupan saat berjauhan sedangkan ia sangat membutuhkan sosok sang suami itu?
Saat jauh dari suami salah satu pikiran nakal saya adalah : bisa nongkrong dan berkumpul dengan teman teman saya , yang notabene dulunya banyak kaum adam. Bayang bayang indah itu mengelilingi setiap sudut otak. Jika saja tidak melahirkan secara operasi, mungkin saya sudah latihan silat kembali.

Tapi kemudian Allah menjaga saya. Keberadaan si kecil membuat saya mau tidak mau tidak bisa merealisasikan 'nongkrong' itu. Mana mungkin si kecil dititipkan pada si nenek sedangkan mama nya asyik ngalor ngidul di tempat makan? Lalu pupus lah angan angan indah itu. Paling banter, teman teman lelaki itu yang datang kerumah dengan disambut hangat oleh ibu tercinta. Saat jauh dari suami yang saya harapkan adalah jauh dari godaan laki laki manapun. Saya tidak mau tergoda dan saya tidak mau menggoda. Semoga Allah selalu melindungi.karena pria adalah makhluk yang slalu ada dalam lingkungan saya.. teman banyak pria, di kantor pun kebanyakan berinteraksi dengan pria.

Kesini, saya mulai sadar. Menikah itu tidak gampang. Tapi jangan dirumit rumitkan. Rumusnya adalah percaya!
Memutuskan untuk berkomitmen seumur hidup, memutuskan hanya mengizinkan satu orang untuk memiliki kita, memutuskan untuk mengikuti semua perintah satu orang dan bergantung pada satu orang bukanlah hal yang mudah. Ibaratnya, kita nyaris menyerahkan seluruh daya upaya dan hak kita untuk dikuasai oranglain. Gejolak kadang timbul. Baik itu pikiran, perasaan dan juga mental. Tak ada perjalanan yang datar. Tapi ketika kita percaya, sang nahkoda adalah yang terbaik maka hati ini akan tenang.

Beberapa minggu setelah terpisah dengan suami, kadang saya meneteskan air mata. Bisa jadi hampir setiap malam. Rindu. Hanya kata itu yang tepat. Ternyata keberadaannya sungguh berarti dalam hidup saya. Ternyata memang kehadirannya untuk melengkapi kekurangan saya

Saya yang selalu sembarangan dalam mengurus rumah, selalu ditegurnya untuk rapi, rajin dan teratur. saya yang selalu kelelahan saat pulang bekerja, tak pernah ia bebani sedemikian rupa dalam mengurusnya. Bisa dikatakan ia yang mengurus saya dan anak. Tak pernah sekalipun ia berkata masakan saya tidak enak. Tak pernah sekalipun tak ia habiskan lauk yang saya masak. Tak pernah ia menyalahkan saya jika uang bulanan yang ia berikan kadang tak cukup untuk satu bulan. Tak pernah ia marah bila saya berkumpul dengan teman. Dan ia akan berkata : istirahatlan, biar abang yang berea rumah kala melihat saya pulang malam dari kantor. Belum pernah sekalipun ia memarahi si kecil, kesabarannya tanpa batas. Tak pernah ia bertanya tentang kemana gaji saya, tak pernah ia menuntut banyak hal. Ia sungguh melengkapi saya. Bahkan kekurangan yang ada padanya telah Allah tutupi dengan sejuta kelebihan.  Lantas, bagaimana bisa saya tidak percaya padanya?

Yah, sebenarnya terlalu dini untuk melebih lebihkan kisah pernikahan jarak jauh ini. Toh baru saja sang suami meninggalkan kami. Tapi.... rasanya siapapun akan setuju bila saya katakan pernikahan jarak jauh ini membutuhkan jauh lebih banyak komitmen dan tanggung jawab.

Semoga kami bisa melalui ini dengan sebaik baiknya dan pada akhirnya nanti kami akan menuai hasil yang jauh lebih indah. Hasil dari kesabaran kami.

Rabu, 23 September 2015

Ketika Kau Merasa Jenuh

Aku mulai merasakan suatu titik jenuh.

Ya, suatu rasa yang alami tentunya karena bisa menghampiri siapapun dan kapanpun. Rasa jenuh ini berkutat pada rutinitas , pemikiran dan tentunya perasaan.

Lantas bagaimana bila rasa jenuh ini menghampiri?

Dalam bayangan saya, untuk menuntaskan kejenuhan ini adalah meninggalkan seluruh rutinitas yang monoton dalam beberapata tahun terakhir ini (baca : pekerjaan) dan melempar jubah kebosanan ini pada liburan yang menyenangkan. Tidak ada tugas, perintah bos, kekesalan, emosi dan juga segala 'pernak pernik' kericuhan di kantor yang menghampiri keseharian. Aku melepaskan jubah itu pada suatu pemandangan yang indah, petualangan bersama suami dan anaku yang akhirnya akan membuat suatu udara baru dalam hidup ini.

Liburan.
Mungkin saja aku butuh liburan.

Aku butuh memanjakan diri seperti saat masih single. Salon, tempat hiburan, nongkrong, rekreasi dan juga membaca buku sepuas hati tanpa terganggu dengan apapun. Bisa juga dengan kembali menekuni olahraga kesukaanku.

Jenuh.
Aku merasa jenuh secara fisik dan juga mental.
aku baru sadar, kejenuhan bisa datang pbahkan saat kita berada pada zona yang nyaman. Ya, aku merasa nyaman sekali dengan keadaanku. Suami yang baik luar biasa, anak yang tampan dan cerdas, rumah, pekerjaan, orangtua dan mertua yang menyayangiku. Semua telah lengkap. Tidak ada kekurangan materi dalam hidupku. Tapi tetap saja jenuh ini datang.

Ah.... entah bagaimana.
jenuh ini menggunung.

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -