Rabu, 13 Juli 2016

Perjalanan kriteria

Paradigma seseoramg akan berubah seiring dengan perjalanan waktu dan kehidupannya. Terkadang, harapan-harapan dan keinginan pun turut berubah sesuai dengan ala yang telah dialami.

Seperti karakter dan kriteria pasangan pun akan mengalami pergeseran pula. Hal ini tentu saja akan dialami setiap orang, walaupun beberapa orang tidak mengalaminya.

Dulu, lelaki idaman saya adalah lelaki 6ang tampan dan atletis (semua wanita mendambakan pria seperti ini). Kecerdasan dan juga keramahan menjadi alasan kenapa pria populer sangat dikagumi. Saya adalah salah satu korban dari pria populer pada masa pubertas. Layaknya film perasaan kagum itu dianggap seperti cinta sejati. But, everything is serious for tenegeers.

Lalu keinginan mendambakan lelaki populer berangsur berkurang setelah menapaki masa perkuliahan. Lelaki pintar adalah lelaki yang berkharisma. Lelaki pintar memiliki daya tarik tersendiri. Abaikan lelaki tampan tapi bodoh (walaupun pada masa kuliah saya jatuh cinta dengan lelaki yang tidak terlalu cerdas) karena lelaki yang pintar pada masa perkuliahan saya, dikaruniai wajah yang rrelatif menarik sehingga mereka memiliki keleluasan untuk mendapatkan wanita cantik. Masa perkuliahan sedikit menggeser pola pikir saya. Lelaki populer vs lelaki cerdas.

Dan kembali waktu berlalu dengan cepatnya. Kriteria lelaki yang saya dambakan menjadi berubah pula. Ketika sudah duduk dibangku perkantoran keingginan atas lelaki berubah menjadi keinginan untuk memiliki lelaki yang mapan. Rasanya, wajah yang tidak terlalu tampan asal mapan adalah jawaban yang tepat atas kegalauan. Pada masa ini, diusia sudah hampir menapaki seperempat abad, keinginan hati tidak hanya lagi utnuk bersenang senang. Tetapi untuk membina rumah tangga.
Apalah arti populer tetapi ia belum bekerja.
Apalah arti tampan tapi ia belum mapan.
Dan apalah arti cerdas jika ia kasih pemgangguran.
Lelaki mapan adalah idaman.
Mapan bukan berarti ia adalah pegawai, bekerja di kantoran ataupun punya seragam. Dalam hemat saya, mapan adalah ketika lelaki itu telah mampu menghasilkan sejumlah uang secara kontinyu dengan bekerja. Apapun pekerjaannya. Dikategorikan pria tersebut telah mampu untuk memenuhi setidaknya kebutuhan minimal pasanganya.

Setelah apa yang saya alami pada titik ini, wajar saja jika banyak "kata orang" tentang ga apa apa jelek asal kaya, atau kemapanan mengalahlan ketampanan. Percuma yampan ga kerja, ganteng bisa ilang, menurit saya adalah kata kata yang tepat untuk wanita diusia seperempat abad. Jangan berbicara hal iyu pada gadis yang baru puber, akan disebutnya kita matre tingkat dewa! (Jadi inget dulu pernah menyebut ibu matre karena memarahi anaknya yang pacaran dengan pria tampan tapi beluk bekerja saat baru tamat sma).

Kriteria oh kriteria

Namun, bagi saya. Setelah menikah yang dibutuhlan wanita adalah lelaki yang memberi kenyamanan. Rasa nyaman adalah hal yang mahal untuk dimiliki wanita menikah.
Rasa nyaman menghadirkan banyak impact pada pernikahan. Rasa nyaman menghadirkan kepercayaan, cinta, ketenangan dan juga semangat.

Sejah ini, itulah yang diberikan oleh lelakiku. Ia memberikan rasa nyaman yang membuat aku mempercayainya. Mempercayai bahwa ia tidak akan meninggalkan kami. Mempercayai bahwa ia akan selalu bertanggung jawab pada kami. Mempercayai bahwa ia akan selalu ada dan setia kepada kami.

Rasa nyaman itu membuat kita akan selalu berusaha menjadi yang terbaik, bukan untuk pasangan, sejatinya kita memberikan yang terbaik karena kita takut kehilangan rasa nyaman itu sendiri.

Pada akhirnya, terkadang jodoh yang diberikan tidak pernah sesuai dengan kriteria kita. Karena TUhan memberikan jodoh seperti yang kita butuhkan. Bukan yang kita inginkan. Trust me, it works! :p


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -