"Lebarnyoooo badan cak jalan rayo"
Logat palembang yang kental itu akan terlontar dari suami kalau sedang iseng. Hanya akan aku balas dengan senyuman manis aja sambil nyuci piring atau nyapu rumah. Cuma, kalo lagi bete abis biasanya aku jawab aja : "ya gara gara papa lah jadi gendut gini"
Setelah melahirkan si ganteng arjuna memang berat badanku naik drastis. Kalo pas belum menikah alias ting ting berat badan berkisar di 60 - 63. Kadang kadang sih 65... tapi kalo udah segitu boro-boro diet sih. Untuk ukirang tinggi 163 cm yaaaa lumayan enak dilihat lah walaupun ga langsing" amat. Tapi kalo pake baju apa aja masih cocok.
Sewaku hamil berat badanku mencapai 89kg saat mau melahirkan. Bayangin aja segeda apa itu badan. Hehehehhe.
Dan sekarang setelah arjuna menginjak usia dua tahun berat badan si mama Juna ini stuck dengan rekor tertinggi 77 kg! Oh my god!!!
Wajar aja sihhh kalo si papa Juna sering protes. Hehehehe. Istrinya yang dulu mi tok sekarang berubah jadi bongsor.
"Biar gendut tapi cantik"
Kata papa Juna sih sejak nikah sama beliau, aku jadi tambah cantik (banggaaaà kalo dipuji suami) secara sekarang udah mendingan bisa bedak bedak dikit demi menutupi bibir pucat. Hanya aja.... dalam hati rindundengan berat badan yang dulu.
Mau diet, apa daya kapasitas lambung kayanya makin gede aja. Makan makin banyak aja. Padahal udah gak menyusui. Hehehehe
Mau olahraga, boro boro! Capeknya luar biasa abis kerja.
Minum pelangsing dan resep apalah apalah kayanya ga mempan lagi alias bb gak turun turun.
Jadi, sampaibsejauh ini mimpi untuk kurus lagi adalah angan angan semata..
Hiks hiks...
Susahnya dengan BB segini rasanya muka jati tambah tua deh! (Emang dasarnya muka tua kali ya, tambah gendut tambah keliatan lebih tua aja. Ahahahaaa)
Trus harus pinter pinter cari model baju. Takud keliatan makin gndut. Perut meleber kemana mana... ohhhhh no.
Hmmmm.... sekian curhat saya tentang berat badan yang membandel ga kunjung turun.
Jumat, 05 Agustus 2016
Badanku dulu tak begini
Kamis, 04 Agustus 2016
Hidupku terasa sulit
Ini adalah titik terendah dalam kehidupanku.
Ketika aku merasa tidak pernah sekosong isi. Tidak pernah merasa se sulit ini. Dan tidak pernah merasa begitu semenderita ini.
Apakah aku kufur nikmat?
Saat ini aku merasa di ambang batas kemampuanku untuk bisa menyelesaikan semua masalah finansial yang ada dihadapanku.
Suami yang bersekolah, kebutuhan anak yang meningkat, keinginan untuk memiliki sesuatu yang semakin menjadi jadi, serta usaha yang sedang merosot membuat pergejolakan di hatiku. Ditambah dengan isu PHK yang menghantuiku.
Apa yang harus aku lakukan?
Allah, apa yang harus aku lakukan?
Aku merasa semua jalan hampir tertutup.
Bagaimana bila aku di PHK? Hutang ku bagaimana? Apakah masihvada perusahan uang akan menerimaku?
Aku tidak berkeberatan menjadi ibu rumah tangga. Tapi bagiamana dengan hutang" ku?
Malam hari aku berjualan. Badanku lelah. Anak ku terabaikan. Tidak ada lagibadegan memasak utk si kecil. Tidak ada lagi adegan bersenda gurau
Atoknya kelelahan.
Neneknya kelelahan.
Semua terasa sia sia saja.
Allah, apakah kau sedang mengujiku?
Aku merasa hampa.
Akuemrasa takut.
Suasana kerja yang tidak lagi mendukung dan kondusif. Semua terasa memuakkan. Semua terasa meletihkan....
Aku merasa kelelahan sekali. Aku merasa ingin menangis....
Hidup ini terasa sungguh sulit.
Rabu, 13 Juli 2016
Perjalanan kriteria
Paradigma seseoramg akan berubah seiring dengan perjalanan waktu dan kehidupannya. Terkadang, harapan-harapan dan keinginan pun turut berubah sesuai dengan ala yang telah dialami.
Seperti karakter dan kriteria pasangan pun akan mengalami pergeseran pula. Hal ini tentu saja akan dialami setiap orang, walaupun beberapa orang tidak mengalaminya.
Dulu, lelaki idaman saya adalah lelaki 6ang tampan dan atletis (semua wanita mendambakan pria seperti ini). Kecerdasan dan juga keramahan menjadi alasan kenapa pria populer sangat dikagumi. Saya adalah salah satu korban dari pria populer pada masa pubertas. Layaknya film perasaan kagum itu dianggap seperti cinta sejati. But, everything is serious for tenegeers.
Lalu keinginan mendambakan lelaki populer berangsur berkurang setelah menapaki masa perkuliahan. Lelaki pintar adalah lelaki yang berkharisma. Lelaki pintar memiliki daya tarik tersendiri. Abaikan lelaki tampan tapi bodoh (walaupun pada masa kuliah saya jatuh cinta dengan lelaki yang tidak terlalu cerdas) karena lelaki yang pintar pada masa perkuliahan saya, dikaruniai wajah yang rrelatif menarik sehingga mereka memiliki keleluasan untuk mendapatkan wanita cantik. Masa perkuliahan sedikit menggeser pola pikir saya. Lelaki populer vs lelaki cerdas.
Dan kembali waktu berlalu dengan cepatnya. Kriteria lelaki yang saya dambakan menjadi berubah pula. Ketika sudah duduk dibangku perkantoran keingginan atas lelaki berubah menjadi keinginan untuk memiliki lelaki yang mapan. Rasanya, wajah yang tidak terlalu tampan asal mapan adalah jawaban yang tepat atas kegalauan. Pada masa ini, diusia sudah hampir menapaki seperempat abad, keinginan hati tidak hanya lagi utnuk bersenang senang. Tetapi untuk membina rumah tangga.
Apalah arti populer tetapi ia belum bekerja.
Apalah arti tampan tapi ia belum mapan.
Dan apalah arti cerdas jika ia kasih pemgangguran.
Lelaki mapan adalah idaman.
Mapan bukan berarti ia adalah pegawai, bekerja di kantoran ataupun punya seragam. Dalam hemat saya, mapan adalah ketika lelaki itu telah mampu menghasilkan sejumlah uang secara kontinyu dengan bekerja. Apapun pekerjaannya. Dikategorikan pria tersebut telah mampu untuk memenuhi setidaknya kebutuhan minimal pasanganya.
Setelah apa yang saya alami pada titik ini, wajar saja jika banyak "kata orang" tentang ga apa apa jelek asal kaya, atau kemapanan mengalahlan ketampanan. Percuma yampan ga kerja, ganteng bisa ilang, menurit saya adalah kata kata yang tepat untuk wanita diusia seperempat abad. Jangan berbicara hal iyu pada gadis yang baru puber, akan disebutnya kita matre tingkat dewa! (Jadi inget dulu pernah menyebut ibu matre karena memarahi anaknya yang pacaran dengan pria tampan tapi beluk bekerja saat baru tamat sma).
Kriteria oh kriteria
Namun, bagi saya. Setelah menikah yang dibutuhlan wanita adalah lelaki yang memberi kenyamanan. Rasa nyaman adalah hal yang mahal untuk dimiliki wanita menikah.
Rasa nyaman menghadirkan banyak impact pada pernikahan. Rasa nyaman menghadirkan kepercayaan, cinta, ketenangan dan juga semangat.
Sejah ini, itulah yang diberikan oleh lelakiku. Ia memberikan rasa nyaman yang membuat aku mempercayainya. Mempercayai bahwa ia tidak akan meninggalkan kami. Mempercayai bahwa ia akan selalu bertanggung jawab pada kami. Mempercayai bahwa ia akan selalu ada dan setia kepada kami.
Rasa nyaman itu membuat kita akan selalu berusaha menjadi yang terbaik, bukan untuk pasangan, sejatinya kita memberikan yang terbaik karena kita takut kehilangan rasa nyaman itu sendiri.
Pada akhirnya, terkadang jodoh yang diberikan tidak pernah sesuai dengan kriteria kita. Karena TUhan memberikan jodoh seperti yang kita butuhkan. Bukan yang kita inginkan. Trust me, it works! :p
Senin, 04 April 2016
Maafkan Mama, Arjuna.
Rabu, 02 Desember 2015
Puisi Seorang Mama
perjalanan yang mendidikku
Ku labuhkan padamu
Cintaku tak pernah akn usai
Ada ataupun tiadanya raga
Berlarilah, kebanggaanku
Berlalirah mengejar cita-citaku
Yang aku harapkan akan menjadi cita-citamu
Bila pun tak searah
Aku percaya kau akan bahagia
"Karna doaku hanya satu
Jadikan anak-anakku sebagai ahli duniaMu, dan ahli syurgaMu"
Nikmat Yang Menguji
Tidak bisa aku tampik bahwa kehidupanku yang sekarang sangat patut aku syukuri dengan sebanyak-banyaknya. Berkali-kali aku mengatakan betapa aku sangat berterima kasih kepadaNya yang telah menganugerahiku keluarga yang penuh kasih sayang, suami yang begitu bertanggung jawab dan penuh perhatian kepadaku, mertua yang sangat baik, tidak pernah pilih kasih dan juga sangat mencintai cucunya, serta ipar-ipar yang sangat menyayangi kami sekeluarga. Kebahagiaan itupun dilengkapi dengan kehadiran buah hati kami yang sangat tampan tanpa harus menunggu terlalu lama.
Sabtu, 26 September 2015
kisah sang Ibu
catatan hati seorang istri (episode 1)
Bukan tidak sedikit cerita bahwa banyak suami yg bersekolah lagi di luar pulau , pada akhirnya bukan pulang membawa ijazah tapi ijab sah alias menikah lagi. Sungguh, itu adalah momok terbesar dalam keputusan itu. Belum lagi ditambah akan kerepotan dalam mengurus si kecil yang lagi belum genap 1,5 tahun. Ditambah dengan bayangan hambatan secara finansial. Banyak sekali resiko dibelakang yang harus diterima. Tapi, entah kenapa, bisa jadi karena kepercayaan yang ditanamkan sang suami membuat saya mengenyampingkan semua itu. Keyakinan itulah yang membuat saya mengizinkan suami untuk sekolah lagi.
Setiap hari, doa yang terpanjatkan kepada Allah hanyalah agar Allah slalu menjaganya agar slalu dalam koridor kehidupan yang benar.
Bagaimana dengan godaan?
Godaan itu datang silih berganti, tentu godaan itu akan datang. Baik dari sisi lawan jenis, teman dan juga lingkungan. Tidak bisa di tampikkan.
Tapi kembali lagi pada rasa percaya : percaya pada suami akan selaku bersikap bijak dan percaya pada Allah akan selalu menerangi hatinya untuk tidak tergoda pada kesenangan sementara semata.
Jika bukan iman dan tanggung jawab yang berbicara, perkara fisik akan mudah terabaikan.
Apalah arti istri yang badannya gemuk , wajahnya tembam dan cerewet ini bila dibandingkan manis dan jelitanya wanita wanita dikota besar sana? Tapi saya percaya, suami menikahi saya bukan karena fisik semata. Jadi, kekurangan lahiriah ini tidak serta merta menjadi alasan beliau untuk 'bertingkah' saat jauh dari sang istri.
Lalu, apakah saya juga lepas dari godaan? Tentu tidak!
Setiap istri slalu butuh tempat untuk menyandarkan segala keluh kesahnya dan meminta nasihat dari sang suami. Butuh sosok yang melindungi dan mengayomi. Lantas, bagaimana sang istri menjalani kehidupan saat berjauhan sedangkan ia sangat membutuhkan sosok sang suami itu?
Saat jauh dari suami salah satu pikiran nakal saya adalah : bisa nongkrong dan berkumpul dengan teman teman saya , yang notabene dulunya banyak kaum adam. Bayang bayang indah itu mengelilingi setiap sudut otak. Jika saja tidak melahirkan secara operasi, mungkin saya sudah latihan silat kembali.
Tapi kemudian Allah menjaga saya. Keberadaan si kecil membuat saya mau tidak mau tidak bisa merealisasikan 'nongkrong' itu. Mana mungkin si kecil dititipkan pada si nenek sedangkan mama nya asyik ngalor ngidul di tempat makan? Lalu pupus lah angan angan indah itu. Paling banter, teman teman lelaki itu yang datang kerumah dengan disambut hangat oleh ibu tercinta. Saat jauh dari suami yang saya harapkan adalah jauh dari godaan laki laki manapun. Saya tidak mau tergoda dan saya tidak mau menggoda. Semoga Allah selalu melindungi.karena pria adalah makhluk yang slalu ada dalam lingkungan saya.. teman banyak pria, di kantor pun kebanyakan berinteraksi dengan pria.
Kesini, saya mulai sadar. Menikah itu tidak gampang. Tapi jangan dirumit rumitkan. Rumusnya adalah percaya!
Memutuskan untuk berkomitmen seumur hidup, memutuskan hanya mengizinkan satu orang untuk memiliki kita, memutuskan untuk mengikuti semua perintah satu orang dan bergantung pada satu orang bukanlah hal yang mudah. Ibaratnya, kita nyaris menyerahkan seluruh daya upaya dan hak kita untuk dikuasai oranglain. Gejolak kadang timbul. Baik itu pikiran, perasaan dan juga mental. Tak ada perjalanan yang datar. Tapi ketika kita percaya, sang nahkoda adalah yang terbaik maka hati ini akan tenang.
Beberapa minggu setelah terpisah dengan suami, kadang saya meneteskan air mata. Bisa jadi hampir setiap malam. Rindu. Hanya kata itu yang tepat. Ternyata keberadaannya sungguh berarti dalam hidup saya. Ternyata memang kehadirannya untuk melengkapi kekurangan saya
Saya yang selalu sembarangan dalam mengurus rumah, selalu ditegurnya untuk rapi, rajin dan teratur. saya yang selalu kelelahan saat pulang bekerja, tak pernah ia bebani sedemikian rupa dalam mengurusnya. Bisa dikatakan ia yang mengurus saya dan anak. Tak pernah sekalipun ia berkata masakan saya tidak enak. Tak pernah sekalipun tak ia habiskan lauk yang saya masak. Tak pernah ia menyalahkan saya jika uang bulanan yang ia berikan kadang tak cukup untuk satu bulan. Tak pernah ia marah bila saya berkumpul dengan teman. Dan ia akan berkata : istirahatlan, biar abang yang berea rumah kala melihat saya pulang malam dari kantor. Belum pernah sekalipun ia memarahi si kecil, kesabarannya tanpa batas. Tak pernah ia bertanya tentang kemana gaji saya, tak pernah ia menuntut banyak hal. Ia sungguh melengkapi saya. Bahkan kekurangan yang ada padanya telah Allah tutupi dengan sejuta kelebihan. Lantas, bagaimana bisa saya tidak percaya padanya?
Yah, sebenarnya terlalu dini untuk melebih lebihkan kisah pernikahan jarak jauh ini. Toh baru saja sang suami meninggalkan kami. Tapi.... rasanya siapapun akan setuju bila saya katakan pernikahan jarak jauh ini membutuhkan jauh lebih banyak komitmen dan tanggung jawab.
Semoga kami bisa melalui ini dengan sebaik baiknya dan pada akhirnya nanti kami akan menuai hasil yang jauh lebih indah. Hasil dari kesabaran kami.
Rabu, 23 September 2015
Ketika Kau Merasa Jenuh
Kamis, 20 Agustus 2015
Lirik Lagu Siti Nurhaliza & Cakra Khan - Seluruh Cinta
Meratap menangis sedih tak tertahan
Terbayang saat bersama
Lewati masa terindah
Saat kau memelukku tuturkan cinta
Kaulah slalu mencinta bagiku
Yang slalu mengencamkan perasaanku
Dirimu kan slalu ada di sisiku selamanya
Kau bagaikan nafas di tubuhku
Yang sanggup menghidupkan s'gala gerakku
Ku kan s'lalu memujamu hingga nanti kita kan bersama
Tak sanggup ku memikirnya lagi
Habis separuh nyawaku tangisimu
Tiada lagi bait yang indah
Terdengar merdu terucap
Merayu menyanjungku tenangkan jiwa
Kaulah slalu mencinta bagiku
Yang slalu mengencamkan perasaanku
Dirimu kan slalu ada di sisiku selamanya
Kau bagaikan nafas di tubuhku
Yang sanggup menghidupkan s'gala gerakku
Ku kan s'lalu memujamu hingga nanti kita kan bersama
Tiada cinta yang setulus cintamu (Cintamu)
Tiada yang sanggup gantikan dirimu
Tiada rasa seindah kasihmu
Tiada yang mampu temani diriku
Kaulah slalu mencinta bagiku
Yang slalu mengencamkan perasaanku
Dirimu kan slalu ada di sisiku selamanya
Kau bagaikan nafas di tubuhku
Yang sanggup menghidupkan s'gala gerakku
Renungan Sore Sebelum Senja
Suatu ketika seorang sahabat lama mengirimkan aku sebuah pesan. Isinya : "aku ingin cerita" yang langsung aku balas dengan jawaban iya nan semangat. Taulah aku bahwa gosip, berita atau curhatan yang akan ia sampaikan akan sangat seru.
Ceritanya begini.
Temanku ini sudah menikah sekitar lima tahun dengan suaminya dan sudah dikaruniai dua orang anak. Pernikahannya bahagia dan bila kita lihat secara kasat mata, tidak ada yang kurang dari perpaduan antara mereka berdua. Si istri berwajah cantik dan memiliki pekerjaan yang mapan sama layaknya dengan suami yang tampan dan memiliki kedudukan di perusahaan tempat ia bekerja. Intinya mereka pasangan bahagia.
"Aku menyukai teman suamiku"
Rasanya pesan dari sahabatku itu membuat aku tertegun dan tersentak. Siapa lelaki yang bisa meluluhkan hati sahabatku ini. Aku tahu bahwa ia bukanlah orang yang mudah mengucapkan kata-kata suka. "Bagaimana bisa?" akhirnya aku balas pesan itu denga perasaan sedikit shock.
Lalu ia menceritakan tentang pertemuannya dengan sahabat suaminya itu secara tidak disengaja. Itu pun karena diperkenalkan oleh sang suaminya sendiri. Lalu seperti love at first sight, ia merasakan getaran yang telah lama padam sejak janji sehidup semati itu ia ikrarkan.
"Mungkin karena karakternya seperti suamiku." itu yang ia katakan ketika aku bertanya apa yang membuatnya jatuh cinta.
Aku belum bisa mencerna kenapa pada pernikahan yang bahagia dan nyaris sempurna, rasa kagum atau jatuh cinta pada orang ketiga masih mungkin terjadi. Ataukah rasa cinta satu untuk selamanya itu memang tidak pernah ada? Lantas bagaimana orang yang dalam pernikahan bisa setia satu sama lain dalam kurun waktu yang bertahun-tahun?
"Aku tidak tahu, rasa itu hadir tanpa bisa aku duga. Mungkin aku kagum saja." Hanya itu pembelaan diri yang sahabatku utarakan.
Perasaan.
Tidak ada yang bisa mencegah ia untuk jatuh dan tunduk. Maka aku hanya mengatakan pada sang sahabat lama untuk tidak mengikuti rasa itu. Bertahanlah, pasti hanya sementara. Tidak ada yang bisa mencegah perasaan itu muncul, tapi kita bisa menekan dan memilih untuk tidak menurutinya. Bersikap egois pada perasaan sendiri itu adalah perkara rumit, tapi tidak mustahil. Aku tidak mau menghakimi sahabatku itu, bagiku ia tidak dapat memilih untuk menjatuhkan rasa. Itu bukan salahnya. Hanya saja, saat ini rasa itu adalah ujian untuknya dan pernikahannya. Apakah ia memilih untuk mengabaikan dan setia pada sang suami, atau memilih untuk menuruti rasa lantas 'menduakan' sang suami. Bukankah setia tidak melulu tentang keberadaan raga, tapi juga hati dan jiwa di dalamnya?
Aku Bumi
Aku bumi Kau bintang Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -
-
Adell dan Lais (Part I) Adell mematut wajah dan tubuhku didepan cermin lama sekali. merasa semua yang di kenakannya pagi ini semu...
-
ku lepas semua yang ku inginkan tak kan ku ulangi maafkan jika kau ku sayangi dan bila ku menanti pernahkan engkau coba mengerti lihat...
