Selasa, 19 Mei 2015

Jatuh Hati Untuk Yang Terakhir Kali

Tidak ada pasangan yang sempurna, itu sudah fitrahnya. Kalimat yang tepat adalah setiap pasangan saling melengkapi, karena itulah faktanya.

Menetapkan hati untuk memilih seseorang yang akan menjadi pasangan seumur hidup bukanlah perkara mudah. Seorang wanita terkadang terdorong dengan banyak faktor saat memilih seorang pria dalam hidupnya seperti umur yang sudah 'memaksa' untuk menikah, faktor kemapanan dimiliki si calon tau juga faktor 'kewajaran' karena sudah membina hubungan selama bertahun-tahun. Lalu pada akhirnya memutuskan untuk menapaki jenjang yang lebih tinggi yaitu menikah dengan alasan yang biasanya satu suara : inilah jodohnya.

Sewaktu aku akan memutuskan untuk menikah, bersedia dipinang oleh sang calon suami, herannya aku tidak mempertanyakan apakah kami saling mencintai dengan sangat dalam sehingga memutuskan untuk menikah. Hanya satu yang aku rasakan : aku merasa dia mampu melengkapi diriku. Dan sejauh ini ternyata dugaanku tidak meleset :))

Seiring berjalannya waktu aku menyadari, dalam pernikahan yang paling dibutuhkan adalah kepercayaan. Bisa dikatakan cinta yang aku rasakan pada suami (saat memutuskan untuk menikah) tidak pada titik rasa yang luar biasa seperti yang disajikan dalam film-film korea atau india. Jika dibandingkan dengan 'rasa cinta' saat berkencan dengan pria-pria yang pernah ada, bisa dikategorikan belum termasuk sebagai rasa cinta.  Lucu ya, tapi itulah kenyataannya. Namun yang aku rasakan pasang calon suamiku saat itu adalah aku percaya pada lelaki ini bahwa aku akan bahagia bersamanya. Itulah yang aku rasakan. Suatu kepercayaan. Kepercayaan yang semakin besar beriringan dengan rasa cinta sejak saat ia mengucapkan ijab qabul hingga detik ini. Kemudian faktor yang membuatku yakin adalah, aku terlanjur 'jatuh hati' pada Ibunya (baca : calon mertua), entah karena faktor beliau cantik dan mirip dengan Ibu, atau sifat beliau yang lembut yang membuatku jatuh hati. Istilahnya, aku 'jatuh hati' pada sang calon ibu mertua pada pandangan pertama.

Allah menumbuhkan kepercayaan diantara kami dengan bertahap. Kebersamaan ini mengajarkan kami untuk saling memahami dan saling menjaga satu sama lain. Tidak ada karakter yang bisa menyatu dalam waktu yang sangat singkat. Sehingga, janganlah kita berharap  dengan pernikahan artinya dapat mengubah pribadi atau karakter seseorang. Yang dapat mengubah itu hanya dorongan dari dirinya sendiri. Bayangkan saja, seseorang yang telah hidup dengan karakter,pola pikir dan pola hidup yang telah ada selama bertahun-tahun kemudian kita berharap mampu mendobrak sifat tersebut untuk sama dengan pola yang ada didalam diri kita, rasanya sungguh tidak mungkin kan? Bagaimana jika ada sifat atau pola pikirnya yang membuat kita kesal, tidak bisa diterima dan bahkan marah?! Pertanyaan itu kerap muncul di masa awal pernikahan. Biasanya, aku akan mengutarakan ketidak puasan itu dengan komunikasi yang jelas. aku utarakan bahwa sikapnya menggangguku atau sikapnya itu tidak sesuai dengan konsep yang ada didalam pikiranku. Biasanya akan berujung dengan balas membalas pendapat tapi tidak sampai pada pertengkaran. Lalu suami akan mulai berubah sikapnya, jika menurutnya ada sikap yang patut diubah. Jika ia tidak mengubah pendirian, maka aku akan mengalah dan 'berusaha' menerima keadaan bahwa ia tidak mau mengubah sikapnya. Aku akn berlalu, dan jika terjadi pergesekan pola pikir dikemudian hari aku akan memilih diam dan menyimpan kekesalanku sendiri. Mengalah bukan berarti kalah, tapi mengalah disini adalah mengalahkan ego kita sendiri yang menganggap pola pikir kita adalah yang paling benar. Dengan sikap ini, alhamdulillah , suami pun kerap mengalah jika aku sudah menonjolkan keegoisanku. Hehehehe... saling mengalah judulny ya.

satu kebiasaanku setiap harinya adalah mengucapkan "adek sayang abang, abang sayang gak sama adek?" Rasanya suami sudah muak dengan pertanyaan itu, tapi entahlah, kata-kata itu memang berhasil menciptakan keharmonisan dan kasih sayang diantara kami. Aku kerap mengucapkannya, pada saat memang sedang ada maunya atau sekedar iseng. Lucu saja rasanya. Bagiku, kata sayang dan cinta itu perlu diucapkan. Tidak hanya cukup dibuktikan. Karena lumrahnya wanita suka mendengarkan hal-hal gombal yang menyanjung hati.

Saat ini aku percaya, yang melanggengkan suatu pernikahan adalah kepercayaan. Percaya bahwa pasangan adalah amanat yang harus dijaga sebaik mungkin. Tentunya menjaga amanat yang besar ini dengan mencintainya, menyayanginya, memberikan yang terbaik untuknya dan juga memberikan kebebasan untuknya mencintai kita dengan caranya sendiri. Percaya bahwa dia adalah yang terpilih yang mampu membimbing kita pada arah kebahagiaan yang kekal. Percaya bahwa dia adalah bagian dari puzzle diri kita yang dihadirkan untuk melengkapi rongga-rongga kekurangan yang ada dalam pribadi kita sendiri.




Senin, 18 Mei 2015

CERPEN_Perempuan



Terlahirlah aku sebagai manusia tanpa penis, yang dikodrati untuk menjadi babu mereka yang memiliki itu. Mereka memanggilku perempuan. Aku tahu dunia ini bengis, seperti tidak memberikan celah pada manusia seperti aku untuk bisa tumbah dan melakukan keinginan. Aku terkekang. Oleh dogma, oleh paradigma, oleh adat dan juga oleh agama. Aku seperti binatang sirkus yang  tersangkar.
Apalah artinya kedudukanku dimata meraka, ya mereka. Mereka yang kalian sebut laki-laki. Sejak aku terlahir didunia ini dan telah mengenal siapa aku, aku yang mereka panggil anak oleh  manusia berpenis yang aku panggil Bapak, dan manusia yang kelaminnya sama denganku itu aku panggil Ibu, aku sudah tahu bahwa laki-laki adalah manusia otoriter busuk. Masih terngiang dalam di otak dan setiap denyut nadiku bagaimana ia memanggilku dengan sebutan “anak kampang” bila ia pulang dibeberapa malam. Baunya pesing, bajunya awut-awutan dengan air muka terlihat hitam. “Lama sekali kau buka pintu ini!” bentaknya bila harus menggedor pintu rumah lebih dari tiga kali.
Kadang Ibu tidak lagi mendengar bunyi panggilan manusia itu karena kelelahan. Saat subuh dimulai, Ibu sudah pagi-pagi sekali ke pasar untuk mengambil sayur dan sedikit ikan yang akan dijajakannya keliling kota Pangkalpinang. Biasanya Ibu memulai berjalan kaki dari kampong kami, Tuatunu menuju Pasar Pagi. Dari Pasar Pagi Ibu akan berkeliling membawa berbagai sayuran yang ia masukkan ke dalam ember besar, lalu ember itu ia letakkan di kepala hanya dengan dibantu buntalan kain agar kepalanya tidak terlalu sakit.
Wajar saja Ibu tak pernah gemuk, karena kalorinya habis terbakar oleh rasa lelah yang menggunung karena seharian bekerja. Sepulang berjualan, Ibu akan melanjutkan dengan mengambil upah cuci. Dan manusia kotor, busuk nan bengis itu hanya akan terkapar nyenyak diatas pembaringan karena kelelahan pula. Ya, lelah setelah mabuk-mabukan ditempat yang aku tak tahu dimana. Pernah suatu malam aku mendengar Ibu menangis sesengukan menahan rasa sakit. Aku tahu, pasti malam itu si makluk busuk memaksa Ibu untuk membuka bajunya. Lagi-lagi bunyi tamparan sesekali aku dengar dari balik dinding triplek tipis, pembatas kamarku.
****
Kalau lah bisa aku persamakan manusia busuk itu seperti kucing jantan, layaklah ia menjadi binatang saja. Karena hanya kucing jantan yang memakan anaknya sendiri. Dititik inilah kebencianku pada manusia berpenis semakin meluap. Rasanya sudah cukup kemurkaanku melihat kodrat seorang perempuan ia cabik-cabik didepan mataku. Perempuan yang sudah kodratnya menjadi tulang rusuk, patutlah seharusnya dilindungi dan dilimpahi dengan cinta. Pernah aku mengatakan pada perempuanku ini, “Bunuh saja Bu dia itu. Untuk apa hidup, tidak ada gunanya.” Yang aku dapatkan adalah mulut berdarah hasil tamparan Ibu. “Ibu tidak mengajarimu untuk durhaka pada Bapakmu.”
Saat itu aku merajuk pada Ibu. Apakah pikiran Ibu sudah rusak akibat sering membawa sayur yang berat dikepalanya sehingga masih saja membela si busuk itu? Bahkan memanggilnya Bapak pun aku tak sudi! Tak akan pernah! Cukup aku sebut ia Jarot. Ataukah mungkin Jarot ini telah mengguna-gunai Ibu sperti yang aku dengar dari Pak Imin, si pemilik warung. “Hay, Puan. Sungguhlah bodoh Ibumu masih mau bertahan dengan Jarot. Si tukang mabuk tak bekerja. Mungkin Ibumu terkena kemat.”
Bukan hanya aku yang merasa geram dengan sikap bertahan Ibu. Tentu saja semua orang di kampungku. Selentingan aku mendengar bahwa dulu Ibu adalah kembang desa yang sungguh cantik. Entah kenapa Ibu memutuskan untuk menikah dengan manusia itu padahal banyak sekali lelaki lain yang sangat mendambakan cinta Ibu. Aku merasa Ibu merupakan sosok yang rumit, juga bodoh. Dan kebodohannya membuat aku terkukung dalam pusaran kesialan dalam hidupku, membuat aku jadi sampah dan juga menjijikkan. Malam itu, bukan tamparan kepada Ibu yang aku dengarkan.
Tapi mataku melihat sendiri bagaimana si bau pesing ini menjelajah seluruh tubuhku dan mendaratkan sejumplah tamparan di wajahku. Aku melihat bagaimana nyala matanya bergairah melihat aku berdarah, mengerah perih. Sadistis. Malam itu, malam itu menjadi malamku menjadi si anak kucing yang di gigit induk jantannya hingga berdarah, rusak bahkan mati. Aku merasa mati. Sama dengan Ibu.
****
Sudah aku katakan bahwa laki-laki hanya akan membuat perempuan merasa lelah dan tidak bahagia. Buktinya saja sore itu aku mendengar keluh kesah Mbak Maryati, majikan cuci Ibu yang kelima, bercerita padaku. “Sudahlah aku harus bekerja dari pagi sampai malam hanya untuk membantunya dalam mencarai nafkah! Masihlah aku harus menyiapkan makan, mengurusi pakaiannya! Belum lagi dua anak kami yang masih kecil ini sedang lincah-lincahnya! Lalu, dengan mudah saja dia berkata bikinkan aku kopi lah. Kenapa masakannya keasinanan, tak ada rasa. Masih sukur aku masakkan! Laki-laki hanya bikin kesal saja! Dia pikir dengan gajinya segitu dia sudah membahagiakanku? Kerjanya dirumah Cuma melototin handphone nya saja, kalu bosan buka laptop dan bermain game! Bukannya membantu istri. Harusnya mereka itu tahu kalu istrinya juga lelah!” panas kupingku mendengar Mbak Maryati berkisah, lebih tepatnya marah kepada suaminya.
Makinlah benar aku merasa perempuan sebagaimapun bentuknya balik-balik dia harus menjadi babu didalam rumah tangga. Setinggi-tingginya ia sekolah , setinggi-tinggi jabatannya ia harus kembali mengurusi manusia-manusia golongan tidak berotak otoriter itu. Tanpa bisa memilih untuk mau atau tidak melakukannya, karena hukum menjadi babu itu sudah wajib. Tertitah dalam agama ataupun norma. Justru bila tidak dilakukan, perempuanlah yang dianggap bejat. Norma itu tidak boleh disebrangi, harus dilakukan walaupun sang perempuan berdarah-darah.
“Suatu saat kau menikah Puan, carilah suami yang benar! Yang mau membantu, tidak hanya menuntut! Dikiranya hidup jaman sekarang itu enak apa?” nasihat Mbak Maryati aku anggapkan angin lalu saja, karena aku tidak berniat untuk hidup satu atap dengan manusia berpenis asing manapun. Aku sudah mematri hal itu didalam benakku, otakku dan juga alam sadarku. Harga mati.
&&&&&
Sore itu angin berhembus sangat lembut, aku yang merasa amat teramat kelelahan dan juga pegal hanya ingin rehat pembaringanku saja. Aku melihat Ibu di dapur, sedang menambal beberapa pakaian sehari-harinya yang mungkin robek. Sudah dua hari Jarot tidak pulang, entah kemana. Aku tak pernah bertanya pada Ibu, karena aku tak mau tahu. “Bapakmu sudah dua hari tak pulang, Nak. Mungkin ia pergi memancing bersama temannya.”
Baru saja aku berpikir, Ibu seolah menjawab pikiranku. Tapi aku diam saja tidak menanggapi perkataan Ibu, aku hanya mendekatinya dan duduk dikursi sebelah. Ternyata yang ditambal Ibu adalah pakaian milik Jarot.
“Buat apa ditambal baju yang sudah koyak Ibu. Dibuang saja atau dijadikan lap untuk lantai rumah.” Kataku. Ibu menghentikan jahitannya. Mungkin Ibu merasakan kesinisan dalam kalimatku. “Puan…. Apakah kau membenci Bapakmu?” pertanyaan Ibu menohokku. “Tak apa, Puan. Ibu mengerti dia bukan seperti yang kamu harapkan. Ibu pun merasakan hal yang sama.”
“Tapi kenapa kita harus bertahan dan diam?!”
“Kita hanya menjalani apa yang telah digariskan”
“Tapi bukan untuk menjadi babu dia, Bu! Ibu lihat apa yang dia lakukan ? dia tidak melakukan apa-apa untuk kita! Bahkan Puan tidak satu titik pun memakan beras hasil keringat dia! Selama ini dia menguras Ibu!”
Ibu hanya diam.
“Dan Puan tahu dia menyiksa Ibu! Dia bukan manusia Bu, dia iblis!”
“Puan!” Ibu membentakku. “Kamu tidak berhak menilai Bapakmu, kamu tidak tahu apa-apa!”
“Puan berhak bu, Puan berhak! Karena dia yang telah menghancurkan hidup Puan!!! Karena dia Puan tidak sekolah, Puan tidak bisa bermain, Puan tidak bisa melakukan apa-apa selain mencuci pakaian busuk dan mendengarkan banyak orang menghina kita bu!”
Tamparan pedas aku rasakan mendarat di pipiku. Aku merasakan emosi ku membumbung menjadi balon udara yang siap meletus. Aku sungguh membara, ingin aku balas tamparan itu. Tapi, tidak pada Ibuku. Tidak pada manusia yang paling aku cintai ini. Aku memandang Ibu dengan mata yang nyaris merah karena dikuasai kemarahan.
“Jika saja aku bisa memilih siapa Bapakku, Bu.” Hanya itu yang bisa aku katakan untuk membalas tamparan Ibu. Mual menyerangku.
****
Masih lekat dalam ingatanku bagaimana tubuh busuk itu mengamburkan darah dari perutnya, kental dan membanjiri seluruh lantai kamarku. Aku terdiam, dalam guratan kepedihan dan ketakutan yang menyergapku. Saat itu aku melihat Ibu memgang pisau dapur, bersimbah darah si busuk Jarot. Ibu naik pitam saat tahu Jarot mencoba menggagahiku, hanya saja Ibu tak tahu ini yang kesekian kalinya.
“Bangsat! Kau bangsat! Dia anakku! Dia anakku!!!” Histeris Ibu menyerapah saat mengetahui bagaimana Jarot telah menyentuhku, untuk yang kesekian kalinya. Ibu terlambat, aku terlanjur basah oleh keringat dan luka bekas tamparan lelaki itu.
Aku melihatnya tergeletak di depan mataku, sambil Ibu masih menuskkan pisau itu berkali-kali ke dada Jarot. “Dia anakku, bukan anakmu anjing!! Kenapa kau nodai dia! Dia anakku!!!”
Ibu seolah bukan Ibu yang aku kenal. Ia seperti kerasukan tak menentu. Berkali-kali ia tusukkan pisau itu, Jarot tak berdaya. Lalu aku tak lagi mendengar erangan Jarot busuk itu, segera ku sambar tubuh Ibu. Aku peluk Ibu erat-erat hingga tak bisa bergerak. Aku biarkan tubuhku yang yang telah setengah telanjang menyelimuti tubuh Ibu yang dibanjiri cipratan darah Jarot. Ibu menangis tersengu-sengu, “Teganya dia, Puan…. Teganya dia. Kau anakku Puan, Kau anakku!”
“Tidak, kau harus diselamatkan! Puan, dia telah menodaimu, dia telah menyakitimu! Tidak!”
Aku meliha tnapas Ibu tersengal-sengal, “Dia bukan Bapakmu! Dia … Puan, harusnya aku katakan sejak dulu, dia bukan Bapakmu! Harusnya aku kawin lari! Harusnya aku tidak menuruti kakekmu!”
“Ini salah… ya salah kakekmu, memaksa aku menikah dengan Jarot! Sudah aku katakan aku tidak mau, aku tidak mencintainya! Aku mencintai Bayu. Bayu… Bayu Bapakmu! Dia Bapakmu!! Jarot busukk!!!”
Aku hanya terdiam, tidak memahami apa yang diceracau Ibu.
“Jarot jahanammmm!!!!” melengking suara Ibu, tak lama kemudian yang aku ingat hanya gelap dan bunyi gemuruh kaki di lantai, seperti serombongan kuda berhamburan masuk ke dalam rumah.

****
Sudah dua bulan aku hanya memilih diam. Rasanya misteri kehidupan ini masih tidak bisa aku tafsirkan. Aku memilih untuk menumpulkan otakku agar aku tidak memahami betapa hancurnya kehidupanku. Sesekali aku merasa mual. Aku berhenti untuk memahamai bahwa lelaki yang serumah denganku selama berpuluh-puluh tahun ini bukanlah Bapakku. Ternyata aku bukan anak Bapakku, wajar saja ia melakukan kebusukan itu padaku.
Sebenarnya aku mampu mendengar bagaimana para tetangga membisikkan berbagai kisah yang disampaikan angin yang berhembus ke telingaku yang mulai aku tulikan. “lihatlah Puan, ternyata ia bukan anaknya Jarot. Pantas saja ia diperkosa oleh si Jarot.”
Kucing kucing kampung juga mengatakan bagaimana para warga mengutarakan rasa prihatinnya padaku, “Kasihan Puan, ia harus menanggung sendiri kepedihan hidup. Setelah membunuh Jarot , Ibunya ikut bunuh diri.”
“Ternyata Jarot dipaksa menikahi Diana karena Diana terlanjur hamil dengan kekasihnya yang dulu. Tapi Bapaknya Diana tidak rela Diana menikah dengan Bayu, karena berbeda agama. Dirayulah Jarot untuk menikahi Diana yang sudah hamil itu dengan diming-imingi harta. Maulah si Jarot penjudi itu.”
“Ah, andai saja Diana dinikahkan denganku pun, aku tak menolak. Walau sudah berbadan dua! Sayang sekali.”
“Tapi Jarot sunggu jehat, ia tidak pernah mengurus Diana dan Puan. “
“Ya. Wajar saja. Katanya iamerasa kecewa dengan harta yang diberikan si kakeknya Puan. Tidak sebanyak yang ia kira. Karena itu ia membalasnya dengan berlaku kejam pada Diana dan Puan.”
“Ah kasihan Puan….”
Mendadak aku memiliki kekuatan untuk mendengar percakapan seluruh warga. Aku tahu yang mereka bicarakan, tapi aku memilih diam sambil memandang matahari. Tapi tidak ada yang tahu bagaimana rasanya menjadi gelap. Rasa mual ini semakin sering terjadi, pagi siang dan malam. Mual. Sebagaiman mualnya aku membayangkan mata merah Jarot menikmati setiap lekukan tubuhku, menikmati saat aku berdarah-darah dihadapannya. Lalu akhirnya ia dibuat Ibu berdarah , dan mati.
“Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu……………!!!!” aku berteriak, berteriak pilu. Kepalaku sakit, lalu aku benturkan saja ke dinding rumah biar sakitku hilang. Bruk! Bruk! Bruk! Biar berdarah seperti Jarot. Seperti Ibu. Bruk! Bruk! Tubuhku limbung, lelah.
Bruk! Bruk! Masih aku benturkan kepalaku biar sakitnya hilang. Hilang. Hilanglah.  Selanjutnya seperti malam itu, yang terdengar adalah bunyi gemuruh langkah kuda memasuki kuda. Gelap. Dan aku berharap aku ikut mati bersama Ibu.

****




Pangkalpinang, 13 Mei 2015

Jumat, 15 Mei 2015

Cerpen_CINTA PERTAMA



Oleh : Yulistia Akbari


Kesibukan di kantor sempat mengalangiku untuk memboyong keluarga berlibur ke kampung halaman. Lalu sejak satu minggu yang lalu, aku membawa Juna, anakku,  untuk kembali ke kota ini. Pangkalpinang. Kali ini tanpa ditemani suami, karena kesibukannya di kantor tentunya
Sore itu Juna merengek ingin jalan-jalan mengitari kota, katanya bosan jalan-jalan ke pantai terus. Lalu aku putuskan mengendarai mobil berdua bersama Juna untuk mengenalkannya dengan setiap sudut kota.  Tanpa sadar aku melewati jalan ini, jalan yang sudah lama tidak aku lalui. Dulu jalan ini sepi sekali hanya tedapat beberapa kantor saja, sekarang sudah menjadi komplek perkantoran. Mataku tertuju pada salah satu kantor di sudut jalan.
Sudah lama aku tidak memperhatikan pekarangan kantor itu. Sekarang bangungannya sudah modern, cat bangunannya pun baru dengan tanaman hias yang berwarna-warni. Tapi plang kantor itu belum berubah, masih tertulis Kantor Urusan Agama. Banyak sekali perubahan kantor itu, termasuk pohon alpukat yang dulu rimbun sudah tak nampak disana. Dulu, paling aku ingat pohon alpokat itu selalu berbuah banyak dengan daun yang besar besar itu merindangi sekitarnya. Kantor itu menjadi tidak terlalu silau oleh matahari yang terik.
Dadaku berdegup karena resonansi masa lalu. Ada yang aku rindukan saat pohon alpukat itu masih berdiri kokoh dengan daun rindangnya. Yang batangnya sangat besar sehingga mudah untuk dinaiki oleh siapapun. Aku memandang pekarangan kantor itu dengan lekat, ah pohon itu telah dihilangkan.
Aku ingat sekali bagaimana kehadiran pohon alpukat itu membawa cerita yang amat panjang setelahnya. Sudah ribuan kali aku berjalan melewati kantor itu setiap harinya, minimal dua kali dalam satu hari yaitu saat pergi dan pulang menuju sekolahnya. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas tiga dengan seragam abu-abu. Ada yang berbeda sore itu, saat aku baru saja pulang dari sekolah untuk mengikuti latihan silat , ketika aku melewati pohon alpukat di depan kantor itu, tiba-tiba saja satu buah alpukat jatuh tepat di depan kakiku. Hampir saja aku berteriak karena kaget, lantas aku dongakkan kepala arah pohon alpukat arah jatuhnya si buah. Mataku menangkap sosok tidak berbaju, hanya mengenakan kaos dalam dan celana jeans. Lelaki kurus itu tersenyum. Aku mendengus kesal, siapa pula lelaki iseng itu. Apakah ia sengaja menjatuhkan buah alpukat ke arahku? Aku berusaha tidak mempedulikan lalu kembali berjalan kaki dan melewati kantor itu seolah tidak ada yang terjadi.
Keesokan harinya saat aku pulang sekolah dan kembali melewati jalan yang sama, aku kembali melihat lelaki yang kemarin berada di pohon alpukat. Kali ini dandanannya berbeda, terlihat lebih rapih dengan setelan cokelat. Wajahnya bersih tapi badannya kurus. Senyumnya manis tapi terlihat terlalu lebar. Aku tidak mempedulikan ketika lelaki itu kembali tersenyum padaku.
☻☻☻☻☻
“Siapa namamu?” saat itu hari kelima setelah lelaki itu hampir menjatuhkan buah alpukatnya kepadaku. Lelaki itu menyodorkan buah alpukat yang ia masukkan dalam kantung plastik hitam yang besar. Ragu aku untuk mengambilnya. “Ambillah, aku sengaja mengambilkannya untukmu.” Kembali ia menyodorkan kantung plastik berisi buah alpukat itu dari balik pagar kantor.
“Terima kasih.” Ujarku sambil meraih plastik itu. Saat tanganku ingin meraihnya, ia menahan plastik itu, “Namamu siapa?” tanyanya lagi. Kali ini ia bertanya dengan senyum yang manis, dapat aku lihat deretan giginya yang berbaris kecil dengan gigi depan yang sedikit jarang. “Nia. Namaku Nia. “ Barulah ia melepaskan plastik itu dan betul-betul menyerahkan kepadaku.
“Nama abang siapa?” aku balik bertanya. Dalam hati aku bingung untuk memanggil lelaki ini siapa, abang, om atau bapak? Karena tentu lelaki ini sudah bekerja dan usianya diatasku. “Nama abang Arai. Panggil saja Rai.”
Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih untuk yang kedua kalinya, lalu berpamitan untuk segara pulang. “Mau abang antarkan?” tanya Bang Rai. Aku menggeleng pelan, menolaknya. Bisa dimarahi Ibu bila aku pulang dengan orang tidak dikenalnya. Sore itu aku pulang membawa buah alpukat yang besar-besar dan aku serahkan kepada Ibu. Ibu bertanya darimana aku mendapatkannya, lalu aku jawab saja “Dari Bang Rai.”
☻☻☻☻☻
Sejak hari itu entah kenapa aku sangat senang sekali setiap akan pergi kesekolah. Mungkin karena aku bisa melewati kantor itu dan bertemu dengan Bang Rai. Walaupun kami hanya sebatas saling tersenyum dan menyapa ringan saat aku melewati kantornya. Pagi-pagi sekali ia sudah berada di kantornya dan berdiri di dekat pintu untuk menungguku lewat. Aku akan mengucapkan salam padanya dan meneruskan perjalananku menuju sekolah. Saat siang pulang sekolah, Bang Rai pun sudah dengan seaku menunggu di dekat pintu pagar kantor hanya untuk menyapaku dan mengucapkan “Hati-hati. Maukah abang antar?” dan selalu saja aku menolaknya. Walaupun sebenarnya ingin.
Suatu siang, saat aku kembali melewati kantornya saat pulang sekolah, ia tidak hanya menyapaku. Tetapi kembali menghampiriku. “Maukah adek ikut bersama abang sore ini?” tanyanya.
Aku mengernyitkan dahi, “Kemana?”
“Temani abang mencari cemara di pantai.”
Aku menimbang-nimbang, seharusnya sore ini aku latihan silat, tapi mungkin bisa aku tunda sementara. Karena aku ingin sekali pergi dengan lelaki dihadapanku ini. “Baiklah, tapi adek harus pulang sebelum pukul lima sore.”
Aku melihat keriangan diwajahnya, “Baik, kita berangkat pukul tiga.”
Lantas sore itu kami berboncengan dengan motornya yang berwarna biru untuk mencari cemara. Ia mengajakku ke pantai Sampur. Ternyata disana memang banyak sekali pohon cemara. Sayang pantai ini tidak biru lagi, sudah banyak hilang keindahannya karena tambang inkonvensional. Aku melihat banyak ibu-ibu yang mencari lokan di pantai. Karena penasaran aku mengajaknya untuk mendekati ibu-ibu itu dan ikut membantu mencari lokan.
“Ayo kita cari cemaranya, Dek.” Ajak Bang Rai. Aku menuruti. “Abang suka sekali dengan tanaman ya?” tanyaku.
“Ya, abang senang sekali dengan tanaman. Adek lihat tanaman bonsai di depan kantor? Itu abang semua yang menanam.”
“Abang mirip Atok Adek. Atok Adek senang sekali mengurus bonsainya. Kadang seharian waktunya ia habiskan untuk menyemprot bonsainya. Lalu kasihan bonsainya, diikat-ikat atok dengan kawat. Katanya biar tetap kecil.”
Bang Rai tertawa mendengar pernyataanku, “Itulah seninya berbonsai Dek. Hanya orang-orang tertentu yang mengerti indah dan seninya berbonsai.”
“Biasanya orang yang suka berbonsai itu cerewet.”
“Adek tahu darimana?”
“Nenek yang becerita, tapi Atok memang cerewet sekali, Bang.”
Lalu kami terbahak bersama-sama. Entah karena merasa lucu dengan jawabanku, atau Bang Rai merasa ia memang berkarakter seperti itu. Belakangan aku baru tahu, ternyata sifat Bang Rai hampir mirip dengan Atok.
☻☻☻☻☻
Sejak hari itu Bang Rai memberanikan diri untuk mendatangi rumahku dan memperkenalkan diri dengan keluargaku. Ibu, Bapak, Atok dan Nenek menerima Bang Rai dengan baik. Apalagi nenek, yang merasa senang sekali aku memiliki teman yang bekerja sebagai pegawai negeri di  departemen agama. Kata Ibu, nenek dulunya juga pegawai negeri yang bekerja di departemen agama. Tapi sejak melahirkan paman , adik Ibu yang pertama, nenek memutuskan untuk berhenti bekerja karena lebih memilih mengurus paman yang waktu itu sering sekali sakit-sakitan.
Hampir setiap malam Bang Rai yang perantauan itu menghabiskan malamnya dirumah hanya untuk sekedar mengobrol denganku. Hanya setiap malam minggu saja kami diizinkan untuk pergi makan malam berdua  ataupun sekedar mengelilingi kota, itu pun tidak lewat dari jam sembilan malam.
Bang Rai senang sekali bercerita, dan ceritanya tidak pernah membosankan. Ia senang sekali menceritakan tentang masa kecilnya dan keluarganya yang berada di Sumatera Barat. Bang Rai pun bercerita bahawa telah empat tahun merantau ke Pulau Bangka semenjak diterima sebagai pegawai negeri. Karena hanya sendiri Bang Rai memutuskan untuk tinggal saja di kantornya, sekalian menjaga kantor katanya. Terjawablah keherananku tentang banyaknya tanaman yang indah di kantornya itu.
Bang Rai juga bercerita tentang kesedihan saat ibunya meninggal dunia, tentang hobinya membaca buku dan tentang sastra dan puisi yang tidak pernah aku pahami. Pernah ia mengajakku ke toko buku untuk menemaninya membeli buku Andrea Hirata yang berjudul Sang Pemimpi, alih-alih langsung ia baca, ia justru menyuruhku untuk membacanya terlebih dahulu. Ternyata bertahun-tahun setelah itu buku yang ia berikan padaku untuk dibaca ini di film kan dan menjadi salah satu film terbaik yang pernah ada. Ia menjadi canduku dalam membaca, ia adalah salah satu orang yang membuatku mencintai buku setelah Atok.
Entah sejak kapan hari-hariku selalu bersama dengan Bang Rai. Ia selalu menjemputku setelah pulang sekolah, lalu mengajakku makan siang. Kadang-kadang aku hanya menemaninya makan siang saja, “Adek bosan makan nasi padang” kilahku. Lalu ia akan membelikanku es krim sebagai penggantinya. Tidak ada hari tanpa Bang Rai. Uniknya, tidak pernah ada kata cinta yang keluar dari bibir kami berdua. Tapi bisa dirasakan, dan siapapun yang melihat akan tahu bahwa kami dimabuk cinta. Aku jatuh cinta, pertama kalinya dalam hidupku. Beginilah cinta, rasanya indah dan juga membuat hati berbunga. Pendek kata, aku bahagia.
☻☻☻☻☻
Kebiasaanku adalah suka membuka setiap pesan yang masuk ke handphone Bang Rai, beliau pun tidak pernah melarangku. Lalu saat pesan-pesan itu masuk aku akan segera menyampaikannya pada Bang Rai. Kadang aku membacakannya ketika ia sedang asik memotong daun-daun bonsai yang sudah kecil itu. Entahlah, Bang Rai seperti ada di dunianya sendiri saat ia asyik memperindah tanaman-tanamannya, atau sekedar menyirami tanaman-tanamannya yang sudah tertata rapi didepan kantor. Dengan kaos dalam warna putih serta celana pendek, rokok yang tak lepas dari bibir tipisnya, tangan yang memegang gunting tanaman itu artinya ia tidak akan lagi peduli dengan handphone atau ajakanku kemanapun. Saat sedang seperti itu, sebaiknya aku duduk saja didekatnya sambil mendengarkan ia berkisah tentang tanaman-tanamannya. Jika beruntung, sesekali ia menggumankan puisi untukku.
Siang itu sepulang sekolah, Bang Rai membelikanku es krim. Aku hanya menunggunya di motor sambil memegag handphone Bang Rai. Terdengarlah bunyi bip beberapa kali. Aku membaca pesan yang masuk :

Bang, Dinda baru pulang dari tukang jahit. Ternyata baju yang akan Dinda pakai untuk acara pernikahan kita nanti masih kebesaran. Padahal sewaktu diukur rasanya pas. Tak sabar Dinda menunggu hari itu tiba, Bang.

Ada pilu yang mendadak menghujam jantungku, ada godam yang meluluh lantakkan hatiku. Rasanya sakit sekali sampai ke relung tulang terdalamku. Aku pandangi wajah Bang Rai yang tersenyum kepadaku sambil memegang es krim kesukaanku, aku balas memandanginya lekat dan dalam. Aku mengerti apa makna pesan singat ini.
Rasanya tak percaya Bang Rai merahasiakan hal besar ini padaku. Rasanya sungguh menyakitkan. Bang Rai menyerahkan es krim itu kepadaku. Dan aku membalas dengan menyerahkan handphone yang telah terbuka pesan singkatnya. Bang Rai membaca pesan itu, dan menatapku kaku. Tak bisa berbicara. Ia melihat genangan air mata disudut mataku. Aku tak ingin melihatnya. Dan ia hanya terdiam terpaku saat melihatku membuang es krim pemberiannya. Dan sejak saat itu aku tidak ingin mendengar kabar apapun darinya. Dan sejak saat itu pula aku tidak menyukai es krim lagi.
Aku tidak ingin mengingat apa yang terjadi setelah itu, karena hari-hari setelahnya adalah rasa nyeri di ulu hati dan kerinduan yang bertalu-talu di hatiku yang harus aku lawan walaupun setiap hari deraian air mata menghiasi. Inilah rasanya terluka oleh cinta, tak ada bandingannya.
☻☻☻☻☻

Sudah tujuh tahun berlalu.
Seiring waktu aku mencoba melupakan setiap detail kejadian yang terjadi. Aku bersahabat dengan kenangan, aku bersahabat dengan rasa sakit yang pernah aku rasakan karena cinta pertama. Dan sekrang aku memandangi kantor itu yang telah berubah. Begitupun dengan kehidupanku, yang telah berubah walaupun dengan susah payah aku bangun kembali semenjak kejadian itu.
“Mama, ayo kita pulang! Juna sudah mengantuk.” Lelaki mungil berusia tiga tahun ini menyadarkanku dari lamunan. Aku tersenyum kepadanya, “Apa yang mama lihat dari kantor itu Ma?” tanya Juna keheranan. Aku membelai kepalanya dengan lembut, “Dulu di kantor itu ada pohon alpukat yang sangat rindang. Buahnya besar besar. Sungguh enak jika dimakan. Mama kira pohon itu masih berdiri kokoh sejak terakhir mama lihat, ternyata sudah tak ada.”

☻☻☻☻☻





Ibu oh Ibu

Ada kejadian yang cukup membuat perasaan ini terasa tidak enak dikarenakan seseorang : Ibu.

Sejak aku masih remaja hingga sekrang menurutku Ibu adalah tempat yang paling aman dan nyaman untuk menjadi wadahku bercerita segala hal. tentang apa yang telah aku alami, lalui dan rasakan. Ibu menjadi tempat yang tepat untuk berkeluh kesah serta meminta pendapat. Hampir tidak ada hal yang aku rahasiakan pada Ibu.

Kebiasaan menceritakan segala hal kepada Ibu ternyata sedikit membuatku 'galau' saat telah menjadi istri. Tentunya sama seperti saat aku masih belum menikah, aku masih saja menceritakan berbagai kisah termasuk tentang kehidupan rumah tanggaku dan suamiku. Yang tentunya tidak aku sortir sama sekali, baik buruk semuanya aku ceritakan pada Ibu. Lantas pada siapa lagi yang aku percaya cerita itu akan aman bila selain Ibu? Tidak ada Ibu yang akan menjatuhkan anaknya, bukan?

Sayangnya aku tidak memahami bagaimana perasaan Ibu. 
Aku seharusnya bisa membatasi diri atas  cerita-ceritaku. Karena Ibu tetaplah seorang Ibu.

Setiap kali ada masalah atau bertengkar dengan suami (walaupun sampai sekrang bertengkar kami hanya hal-hal sepele, paling tinggi aku merajuk kepada beliau) aku akan langsung menceritakannya kepada Ibu. menumpahkan segala emosi dan kemarahanku. Ternyata hal itu berpengaruh kepada Ibu. Ibu ikut menjadi kesal dengan suamiku!

Oke, perbedaannya adalah jika seorang istri kesal dengan suaminya, kekesalannya itu akan menguap seiring dengan kembali harmonisnya hubungan itu. Jadi, saat aku dan suamiku sudah kembali mesra aku akan melupakan kekesalanku itu. Berbeda dengan Ibu. Ibu akan selalu kesal dan mempengaruhi perasaannya kepada si menantu!

Kacaulah aku!
Bagaimanapun aku tidak mau Ibu menjadi kesal atau berkurang rasa sukanya kepada suamiku. Aku bahagia melihat bagaimana Ibu menyayangi suamiku dan bagaimana suamiku menyayangi suamiku. Setiap manusia punya kekurangan, termasuk suamiku. Setiap manusia memiliki sisi yang bertentangan dengan orang lain, termasuk suamiku. Dan sekarang aku yang pusing menghadapi kegamangan sikap Ibu. Antara masih sayang dan kesal dengan suamiku.

Pernyataan Ibu yang merasa kesal dengan sikap suamiku (yang tentunya berdasarkan apa yangaku ceritakan pada Ibu) membuat Ibu malas datang kerumah kami. Ibu lebih memilih menahan rindunya kepada sang cucu daripada datang kerumah kami. Pun jika kami kesana Ibu hanya bereaksi sekedarnya. Makin bingunglah aku!

Pada titik ini aku menyadari bahwa seorang Ibu tetaplah Ibu. Tetaplah ia akan merasa sakit saat anaknya disakiti, tetaplah akan menyimpan luka saat melihat anaknya menangis atau terluka. Hal ini memberikan pelajaran untukku, aku harus mampu berperan ditengah-tengah. Sebagai anak dan sebagai istri. Aku belajar untuk tidak menceritakan semua yang terjadi dalam kehidupan rumah tanggaku, cukuplah yang indah-indah dan bagusnya saja agar Ibu tidak memiliki beban pikiran atau perasaan tentang kehidupan rumah tanggaku.

Lantas, kepada siapa aku mengadu? 
Jawaban terbaiknya adalah : Tuhan.

Senin, 11 Mei 2015

SELAMAT ULANG TAHUN ARJUNA


                                   
Alhamdulillah akhirnya anak pertama kami berusia satu tahun pada tanggal Tujuh Mei tadi. Aku berhasil menghias kue sendiri untuk ulang tahunnya kali ini, dan alhamdulillah warnanya mera biru sesuai dengan harapanku! Kaya spiderman ya? Heheheheheee.
Sengaja nih aku cari warna merah biru karena aku emang ngefans berat dengan karakter spiderman, keren aja lah pokoknya. Rasanya menyenangkan sekali ya bisa membuatkan sesuatu untuk anak tercinta. Semoga nanti bisa bikin kue lagi untuk Juna dan Papa. Padahal waktu masih gadis paling malesssssssss kalo harus disuruh Ibu yang namanya masak! 

Happy B'day  anakku sayang, jadi anak sholeh dan penghafal Al-Qur'an kaya abang Musa ya nak. Amieennn ^^

'Merebut' Life of Pi


Kali ini aku tidak akan membahas tentang isi novel ini, karena mungkin sebagian besar orang sudah tahu bagaimana kisah novel ini bahkan novel ini sudah difilmkan, lho.

Ada yang menarik dari kisahku mendapatkan novel ini. Dari sekian banyak novel yang aku miliki hanya novel inilah yang tidak pernah aku baca. Entahlah, kata-kata yang termuat didalamnya tidak dapat aku mengerti. Novel ini 'diberikan' oleh seorang abang yang terkenal dengan nama Larsi de Isral. Sebenarnya tidak dberikan. Awalnya beliau menawariku sebuah buku yang sangat bagus untuk dibaca, maka aku yang sangat senang membaca novel ini , dengan senag hati menerima tawaran itu. Waktu berjalan sangat cepat dan akhirnya aku tidak tertarik untuk membaca novel ini. Ya karena itu tadi. Kalimat per kalimat yang disajikan penulis tidak bisa aku terima, mungkin selera yang berbicara. Kebanyakan novel yang aku baca tentang thriller, detektif dan teka teki. Wajar saja aku punya banyak kolek seri Dan Brown dan Stieg Larsson ^^.  Untuk Stieg Larsson aku punya triloginya,lho! Namun novel ini tidak aku kembalikan kepada di peminjam, untuk kenang-kenangan alasanku.

Beberapa hari yang lalu aku berniat mengembalikan novel ini setelah sekian tahun lamanya, masih terganjal dihatiku karena beliau bukan berniat memberikan pada awalnya. Hanya meminjamkan. Tapi niat itu aku urungkan, rasanya sayang novel sebagus ini tidak menjadi koleksi. Maka aku meminta izin kembali pada beliau untuk aku simpan. Ternyata beliau bahkan sudah lupa novel ini ada ditangan adeknya yang iseng ini. Hehehehehee :) Semoga ikhlas ya, Bang ^^

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -