Adell dan Lais
(Part I)
(Part I)
Adell mematut wajah dan tubuhku didepan cermin lama sekali. merasa
semua yang di kenakannya pagi ini semuanya salah. Blazer fuschia dengan aksen minimalis yang menjadi favoritnya tiba-tiba
terasa tidak menarik. Rok panjang yang kerap Adell gunakan, terasa tak ada yang cocok. Bahkan
saat ini telah kesepuluh kalinya ia berganti setelan.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan baju yang tersedia dilemarinya
yang cukup besar itu. Semua warna terlihat cocok dengan Adell, bahkan ia
terlihat cantik seperti biasanya. Hanya saja ia merasa harus mengenakan sesuatu
yang special hari.
Adell kembali mematut wajahnya dihadapan cermin. Usianya kini dua puluh
tujuh tahun. Masih tampak muda, hanya saja tubuhnya tidak selangsing dulu. Beberapa
lemak nakal enggan hilang dari tubuhnya, membuat ia kesal hari ini.
Berkali-kali ia memegang gelambir perut yang terasa semakin banyak saja. “Ah,
lipatan perut ini akan terlihat sangat buruk jika aku tidak duduk dengan tegak.
Atau sebaiknya aku menggunakan slimingsuit
saja?” Adell mulai mengguman dan bertanya pada diri sendiri.
Adell mulai membeli benda itu beberapa bulan yang lalu karena tertarik
dengan khasiat yang super ajaib : membuat pemakainya menjadi langsing dan
seksi. Itu sih kata iklannya. Alhasil, ia merasa sama saja dengan menggunakan
korset. Padahal ia telah membeli dengan harga jutaan, tak ada bedanya dengan
korset delapan puluh ribu. Tetap saja perutnya tak langsing seperti dulu. Adell
sedikit puas karena gelambir perutnya kini tak begitu terlihat sedahsyat sebelumnya.
“Lumayan lah, not bad.”
Ia putuskan untuk mengenakan rok hitam panjang agar pahanya yang
menjadi semakin besar tak terlalu kentara dengan blazer motif mini floral
berwarna dominan pink, warna
kesukaannya, sangat elegan. Ia kembali menatap penampilannya di cermin. Sedikit
puas. Tubuhnya yang semakin berisi itu, jika tidak mau dikatakan gemuk,
terlihat menarik dengan blazer yang
ia kenakan sekarang.
Adell masih ingat bagaimana Lais sangat menyukai bila ia menggunakan
pakaian dengan motif kembang-kembang. “Kau terlihat indah dengan bunga-bunga
yang menyelimutimu.” Sejak saat itu Adell sangat menyukai segala bentuk pakaian
dengan motif bunga-bunga, besar kecil dan juga abstrak. Hanya saja sejak ia
bekerja di perusahaan yang bergerak dibidang mode ini, ia berhasil menemukan
motif yang sesuai dengan tubuhnya yang berisi. Motif yang tidak terlalu ramai,
kecil, simple dan elegan. Setidaknya
tidak membuat beberapa kliennya merasa sakit mata saat melihat tubuhnya yang
berisi menggunakan baju dengan gambar bunga-bunga sebesar hulahop raksasa.
Adell menyapukan moisturizer
sebelum menyapukan foundation.
Setelah merata, ia tepuk-tepukkan bedak tabur kewajahnya. Hampir tidak pernah ia
menggunakan bedak padat, setidaknya ia menuruti apa yang dokter kulit katakan
karena wajahnya cenderung berminyak dan berjerawat. Adell menyapukan eyeshadow berwarna nude pink, agar terlihat lebih soft.
Eyeliner yang membuat matanya yang
sudah indah terlihat lebih besar. Tak lupa mascara
agar kelentikan bulu matanya semakin bertambah. Dan pamungkas terakhir, lipstick.
Ragu Adell memilih warna yang harus ia pakai. Ia menjauhkan lipstick merah itu karena akan semakin
membuat wajahnya terlihat tua, cokelat membuat ia seperti tak memakai lipstick karena bibirnya pun sebenarnya
cokelat, setelah Adell melakukan mix and
match beberapa warna lipstick
hingga terciptalah warna baby pink
yang feminim pada bibirnya.
“Andainya pertemuan ini lebih cepat beberapa tahun. Mungkin aku akan
memberikan penampilan yang lebih prima daripada sekarang.” Penyesalah didalam
hati Adell. Ia telah menunggu saat-saat pertemuan ini beberapa tahun lamanya.
Jika tak salah hitung, mungkin sudah delapan tahun terlambat pertemuan ini.
Sudah delapan tahun, sejak perpisahan antara Lais dan Adell terjadi.
Saat itu mereka masih duduk di bangku perkuliahan, membina cinta layaknya
remaja yang kasmaran. Perkenalan Adell dan Lais saat Adell menjadi mahasiswa
baru dan Lais menjadi ketua panitia orientasi mahasiswa baru. Layaknya kisah
cinta pada umumnya, beberapa tahun kemudian mereka mengikrarkan diri menjadi
sepasang kekasih. Adell masih ingat saat itu ia duduk di bangku semester dua
dan Lais telah pada masa akhir perkuliahan, menyusun skripsi.
Adell masih ingat pula bagaimana mendengar keluhan Lais yang
berkali-kali tentang susahnya membuat skripsi, sakit hatinya saat bab yang ia
ajukan ditolak pembimbing, belum lagi saat apa yang ia ketik semalam suntuk dan
dianalisa dicoret kanan dan kiri oleh si dosen pembimbing. Bahkan Adell menyaksikan
bagaimana Lais jatuh sakit karena sulitnya membuat skripsi.
Hari itu Adell menemani Lais untuk berobat kerumah sakit, masih Adell
rasakan bagaimana hangat kepala Lais yang bersandar di pangkuan Adell. Mereka
seperti sepasang suami istri. Sebenarnya Adell merasa jengah melihat dua
muda-mudi dipandang sedikit usil oleh para pasien lainnya yang ikut mengantri
giliran. Tapi perasaan jengah itu terkalahkan dengan kebahagiaan Adell yang
merasakan hangatnya tubuh Lais. Adell merasa bahagia menjadi orang yang
dibutuhkan Lais.
“Kau harus lebih menjaga makanmu. Berhentilah merokok itu. Badanmu
sudah cukup kurus, janganlah kau tambah dengan penyakitmu.” Adell berceramah
setelah satu minggu Lais terkapar diatas tempat tidur karena malaria.
“Malaria karena nyamuk sayang, bukan karena rokok.” Bantahnya. Lais
selalu keras kepala.
“Iya, tapi rokok akan membunuhmu dengan cara yang lain. Bahkan lebih
buruk dari malaria!”
Setelah Lais dinyatakan lulus dengan nilai skripsi A dan tentunya IPK cummlaude terbaik dijurusannya, mereka
memutuskan untuk sedikit bersenang-senang berdua. Hari itu hari minggu, Lais
pamit kepada Ibu Adell untuk mengajaknya kesalah satu tempat di ujung kota
hanya untuk bersantai. Satu hal yang Adell suka dari Lais adalah, Lais selalu
dengan gentleman meminta izin pada
sang Ibu bila ingin mengajak Adell pergi. Dengan bonus kepintaran dan
ketampananya. Berbeda dengan beberapa lelaki yang berusaha mendekatinya yang
selalu mengirimkan pesan, “Aku tunggu di depan kampus.” Atau “aku tunggu di
kafe ini” atau bisa juga “ayo kita makan disini, datanglah.”
Menurut Adell, saat kau jatuh cinta dengan wanita, kau harus bersikap
jantan! Datangi rumahnya, perkenalkan dirimu pada sang orang tua, lalu
beranikan diri untuk mengajak si gadis bersamamu. Tentunya bila diizinkan oleh
sang orangtua. Itulah sikap yang jantan.
“Biasanya kau mengajakku ke perpustakaan. Bosankah?” tanyaku
disela-sela hembusan angin pantai nan sepoi.
“Tidak, aku hanya ingin menikmati ketenangan ini bersamamu.”
“Bahkan saat berisik pun aku tahu kau ingin bersamaku.”
“Kau cantik dengan baju kembang-kembang. Aku suka itu.”
Lalu terkhir yang Adell ingat adalah Lais mendaratkan ciuman pada
bibirnya yang masih ranum. Juga perawan. Adell tersentak, Lais mengambil ciuman
pertamanya. Adell tak menyangka Lais melakukannya, bahkan selama mereka
berpacaran, Lais tak pernah berani mengecup keningnya. Paling hanya memegang
tangannya kala berjalan ke toko buku.
“Bibirmu manis, seperti sari didalam batang bunga asoka.” Itu yang Lais
ucapkan, meledaklah tawa mereka. Ciuman pertama yang canggung, tapi Adell yakin
bahwa mereka tidak akan saling melupakan manisnya ciuman pertama itu. Bahkan
walaupun setelah bertahun-tahun setelahnya, Adell memutuskan untuk tidak lagi
mengharapkan Lais yang menghilang tanpa kabar secara tiba-tiba.
######
Kembali Adell memandang wajah dan tubuhnya di cermin. Sebenarnya ia
masih cantik, wajahnya pun masih kencang. Tak ada yang berubah selain berat
tubuhnya yang semakin bertambah. Tapi Adell masih cantik, masih fashionable, dan masih memikat.
“Datanglah pada jam makan siang, aku menunggumu di perpustakaan. Seperti
dulu.” Itu pesan yang Lais kirimkan padanya setelah bertahun-tahun tak bertemu
dan setelah pertemuan tak sengaja di salah satu media sosial. Melakukan
pertemanan dan saling bertanya kabar. Setelah hampir satu bulan berhubungan
hanya di dunia maya, Lais memutuskan untuk mengajaknya bertemu. Saat itu Adell
mengiyakan.
Hari itu pun tiba, dada Adell berdegup kencang. Ada hal yang ingin ia
tanyakan langsung dari Lais, “Mengapa kau pergi tanpa memberiku kabar?” itulah
yang hanya ingin diketahui oleh Adell. Ia merasa hari ini ia sangat cantik.
Malah terlalu cantik.
Terdengar bunyi pintu kamar di buka dengan tiba-tiba. “Sayang, ini
sudah jam tujuh. Nanti kita terlambat.” Ucapan lembut lelaki itu membuyarkan
semua gelembung masa lalu yang sedang dinikmati Adell. Buyar, pecah pecah
semuanya seperti tertusuk jarum.
“Iya, sayang. Tunggu sebentar. Aku belum selesai ber-make up.”
Gun memandang penampilan istrinya beberapa menit, “Kau terlihat cantik
hari ini. Sangat cantik.”
“Jika aku tak cantik, tentu kau tak akan suka padaku, suamiku.”
Tiba-tiba saja si mungil Akas yang tampan, anak Adell dan Gun hadir
diantara mereka sambil melipatkan tangan. Ia sudah siap bersekolah. Adell menuntaskan
penampilannya pagi ini. Dalam hati ia masih merasa gamang, antara akan menemui
Lais atau tidak. Ah, Adell memutuskan untuk melupakan niatnya sejenak untuk
mengikuti langkah Gun dan Akas menuju mobil. Hatinya masih ragu.
