Tidak ada pasangan yang sempurna, itu sudah fitrahnya. Kalimat yang tepat adalah setiap pasangan saling melengkapi, karena itulah faktanya.
Menetapkan hati untuk memilih seseorang yang akan menjadi pasangan seumur hidup bukanlah perkara mudah. Seorang wanita terkadang terdorong dengan banyak faktor saat memilih seorang pria dalam hidupnya seperti umur yang sudah 'memaksa' untuk menikah, faktor kemapanan dimiliki si calon tau juga faktor 'kewajaran' karena sudah membina hubungan selama bertahun-tahun. Lalu pada akhirnya memutuskan untuk menapaki jenjang yang lebih tinggi yaitu menikah dengan alasan yang biasanya satu suara : inilah jodohnya.
Sewaktu aku akan memutuskan untuk menikah, bersedia dipinang oleh sang calon suami, herannya aku tidak mempertanyakan apakah kami saling mencintai dengan sangat dalam sehingga memutuskan untuk menikah. Hanya satu yang aku rasakan : aku merasa dia mampu melengkapi diriku. Dan sejauh ini ternyata dugaanku tidak meleset :))
Seiring berjalannya waktu aku menyadari, dalam pernikahan yang paling dibutuhkan adalah kepercayaan. Bisa dikatakan cinta yang aku rasakan pada suami (saat memutuskan untuk menikah) tidak pada titik rasa yang luar biasa seperti yang disajikan dalam film-film korea atau india. Jika dibandingkan dengan 'rasa cinta' saat berkencan dengan pria-pria yang pernah ada, bisa dikategorikan belum termasuk sebagai rasa cinta. Lucu ya, tapi itulah kenyataannya. Namun yang aku rasakan pasang calon suamiku saat itu adalah aku percaya pada lelaki ini bahwa aku akan bahagia bersamanya. Itulah yang aku rasakan. Suatu kepercayaan. Kepercayaan yang semakin besar beriringan dengan rasa cinta sejak saat ia mengucapkan ijab qabul hingga detik ini. Kemudian faktor yang membuatku yakin adalah, aku terlanjur 'jatuh hati' pada Ibunya (baca : calon mertua), entah karena faktor beliau cantik dan mirip dengan Ibu, atau sifat beliau yang lembut yang membuatku jatuh hati. Istilahnya, aku 'jatuh hati' pada sang calon ibu mertua pada pandangan pertama.
Allah menumbuhkan kepercayaan diantara kami dengan bertahap. Kebersamaan ini mengajarkan kami untuk saling memahami dan saling menjaga satu sama lain. Tidak ada karakter yang bisa menyatu dalam waktu yang sangat singkat. Sehingga, janganlah kita berharap dengan pernikahan artinya dapat mengubah pribadi atau karakter seseorang. Yang dapat mengubah itu hanya dorongan dari dirinya sendiri. Bayangkan saja, seseorang yang telah hidup dengan karakter,pola pikir dan pola hidup yang telah ada selama bertahun-tahun kemudian kita berharap mampu mendobrak sifat tersebut untuk sama dengan pola yang ada didalam diri kita, rasanya sungguh tidak mungkin kan? Bagaimana jika ada sifat atau pola pikirnya yang membuat kita kesal, tidak bisa diterima dan bahkan marah?! Pertanyaan itu kerap muncul di masa awal pernikahan. Biasanya, aku akan mengutarakan ketidak puasan itu dengan komunikasi yang jelas. aku utarakan bahwa sikapnya menggangguku atau sikapnya itu tidak sesuai dengan konsep yang ada didalam pikiranku. Biasanya akan berujung dengan balas membalas pendapat tapi tidak sampai pada pertengkaran. Lalu suami akan mulai berubah sikapnya, jika menurutnya ada sikap yang patut diubah. Jika ia tidak mengubah pendirian, maka aku akan mengalah dan 'berusaha' menerima keadaan bahwa ia tidak mau mengubah sikapnya. Aku akn berlalu, dan jika terjadi pergesekan pola pikir dikemudian hari aku akan memilih diam dan menyimpan kekesalanku sendiri. Mengalah bukan berarti kalah, tapi mengalah disini adalah mengalahkan ego kita sendiri yang menganggap pola pikir kita adalah yang paling benar. Dengan sikap ini, alhamdulillah , suami pun kerap mengalah jika aku sudah menonjolkan keegoisanku. Hehehehe... saling mengalah judulny ya.
satu kebiasaanku setiap harinya adalah mengucapkan "adek sayang abang, abang sayang gak sama adek?" Rasanya suami sudah muak dengan pertanyaan itu, tapi entahlah, kata-kata itu memang berhasil menciptakan keharmonisan dan kasih sayang diantara kami. Aku kerap mengucapkannya, pada saat memang sedang ada maunya atau sekedar iseng. Lucu saja rasanya. Bagiku, kata sayang dan cinta itu perlu diucapkan. Tidak hanya cukup dibuktikan. Karena lumrahnya wanita suka mendengarkan hal-hal gombal yang menyanjung hati.
Saat ini aku percaya, yang melanggengkan suatu pernikahan adalah kepercayaan. Percaya bahwa pasangan adalah amanat yang harus dijaga sebaik mungkin. Tentunya menjaga amanat yang besar ini dengan mencintainya, menyayanginya, memberikan yang terbaik untuknya dan juga memberikan kebebasan untuknya mencintai kita dengan caranya sendiri. Percaya bahwa dia adalah yang terpilih yang mampu membimbing kita pada arah kebahagiaan yang kekal. Percaya bahwa dia adalah bagian dari puzzle diri kita yang dihadirkan untuk melengkapi rongga-rongga kekurangan yang ada dalam pribadi kita sendiri.
Selasa, 19 Mei 2015
Senin, 18 Mei 2015
CERPEN_Perempuan
Terlahirlah aku
sebagai manusia tanpa penis, yang dikodrati untuk menjadi babu mereka yang
memiliki itu. Mereka memanggilku perempuan. Aku tahu dunia ini bengis, seperti
tidak memberikan celah pada manusia seperti aku untuk bisa tumbah dan melakukan
keinginan. Aku terkekang. Oleh dogma, oleh paradigma, oleh adat dan juga oleh
agama. Aku seperti binatang sirkus yang
tersangkar.
Apalah artinya
kedudukanku dimata meraka, ya mereka. Mereka yang kalian sebut laki-laki. Sejak
aku terlahir didunia ini dan telah mengenal siapa aku, aku yang mereka panggil
anak oleh manusia berpenis yang aku
panggil Bapak, dan manusia yang kelaminnya sama denganku itu aku panggil Ibu,
aku sudah tahu bahwa laki-laki adalah manusia otoriter busuk. Masih terngiang
dalam di otak dan setiap denyut nadiku bagaimana ia memanggilku dengan sebutan
“anak kampang” bila ia pulang
dibeberapa malam. Baunya pesing, bajunya awut-awutan dengan air muka terlihat
hitam. “Lama sekali kau buka pintu ini!” bentaknya bila harus menggedor pintu
rumah lebih dari tiga kali.
Kadang Ibu tidak
lagi mendengar bunyi panggilan manusia itu karena kelelahan. Saat subuh
dimulai, Ibu sudah pagi-pagi sekali ke pasar untuk mengambil sayur dan sedikit
ikan yang akan dijajakannya keliling kota Pangkalpinang. Biasanya Ibu memulai
berjalan kaki dari kampong kami, Tuatunu menuju Pasar Pagi. Dari Pasar Pagi Ibu
akan berkeliling membawa berbagai sayuran yang ia masukkan ke dalam ember besar,
lalu ember itu ia letakkan di kepala hanya dengan dibantu buntalan kain agar
kepalanya tidak terlalu sakit.
Wajar saja Ibu
tak pernah gemuk, karena kalorinya habis terbakar oleh rasa lelah yang
menggunung karena seharian bekerja. Sepulang berjualan, Ibu akan melanjutkan
dengan mengambil upah cuci. Dan manusia kotor, busuk nan bengis itu hanya akan
terkapar nyenyak diatas pembaringan karena kelelahan pula. Ya, lelah setelah
mabuk-mabukan ditempat yang aku tak tahu dimana. Pernah suatu malam aku
mendengar Ibu menangis sesengukan menahan rasa sakit. Aku tahu, pasti malam itu
si makluk busuk memaksa Ibu untuk membuka bajunya. Lagi-lagi bunyi tamparan
sesekali aku dengar dari balik dinding triplek tipis, pembatas kamarku.
****
Kalau lah bisa
aku persamakan manusia busuk itu seperti kucing jantan, layaklah ia menjadi
binatang saja. Karena hanya kucing jantan yang memakan anaknya sendiri. Dititik
inilah kebencianku pada manusia berpenis semakin meluap. Rasanya sudah cukup
kemurkaanku melihat kodrat seorang perempuan ia cabik-cabik didepan mataku.
Perempuan yang sudah kodratnya menjadi tulang rusuk, patutlah seharusnya dilindungi
dan dilimpahi dengan cinta. Pernah aku mengatakan pada perempuanku ini, “Bunuh
saja Bu dia itu. Untuk apa hidup, tidak ada gunanya.” Yang aku dapatkan adalah
mulut berdarah hasil tamparan Ibu. “Ibu tidak mengajarimu untuk durhaka pada
Bapakmu.”
Saat itu aku merajuk pada Ibu. Apakah pikiran Ibu
sudah rusak akibat sering membawa sayur yang berat dikepalanya sehingga masih
saja membela si busuk itu? Bahkan memanggilnya Bapak pun aku tak sudi! Tak akan
pernah! Cukup aku sebut ia Jarot. Ataukah mungkin Jarot ini telah
mengguna-gunai Ibu sperti yang aku dengar dari Pak Imin, si pemilik warung.
“Hay, Puan. Sungguhlah bodoh Ibumu masih mau bertahan dengan Jarot. Si tukang
mabuk tak bekerja. Mungkin Ibumu terkena kemat.”
Bukan hanya aku
yang merasa geram dengan sikap bertahan Ibu. Tentu saja semua orang di kampungku.
Selentingan aku mendengar bahwa dulu Ibu adalah kembang desa yang sungguh
cantik. Entah kenapa Ibu memutuskan untuk menikah dengan manusia itu padahal
banyak sekali lelaki lain yang sangat mendambakan cinta Ibu. Aku merasa Ibu
merupakan sosok yang rumit, juga bodoh. Dan kebodohannya membuat aku terkukung
dalam pusaran kesialan dalam hidupku, membuat aku jadi sampah dan juga
menjijikkan. Malam itu, bukan tamparan kepada Ibu yang aku dengarkan.
Tapi mataku
melihat sendiri bagaimana si bau pesing ini menjelajah seluruh tubuhku dan
mendaratkan sejumplah tamparan di wajahku. Aku melihat bagaimana nyala matanya
bergairah melihat aku berdarah, mengerah perih. Sadistis. Malam itu, malam itu
menjadi malamku menjadi si anak kucing yang di gigit induk jantannya hingga
berdarah, rusak bahkan mati. Aku merasa mati. Sama dengan Ibu.
****
Sudah aku katakan
bahwa laki-laki hanya akan membuat perempuan merasa lelah dan tidak bahagia.
Buktinya saja sore itu aku mendengar keluh kesah Mbak Maryati, majikan cuci Ibu
yang kelima, bercerita padaku. “Sudahlah aku harus bekerja dari pagi sampai
malam hanya untuk membantunya dalam mencarai nafkah! Masihlah aku harus
menyiapkan makan, mengurusi pakaiannya! Belum lagi dua anak kami yang masih
kecil ini sedang lincah-lincahnya! Lalu, dengan mudah saja dia berkata bikinkan
aku kopi lah. Kenapa masakannya keasinanan, tak ada rasa. Masih sukur aku
masakkan! Laki-laki hanya bikin kesal saja! Dia pikir dengan gajinya segitu dia
sudah membahagiakanku? Kerjanya dirumah Cuma melototin handphone nya
saja, kalu bosan buka laptop dan
bermain game! Bukannya membantu istri.
Harusnya mereka itu tahu kalu istrinya juga lelah!” panas kupingku mendengar
Mbak Maryati berkisah, lebih tepatnya marah kepada suaminya.
Makinlah benar
aku merasa perempuan sebagaimapun bentuknya balik-balik dia harus menjadi babu
didalam rumah tangga. Setinggi-tingginya ia sekolah , setinggi-tinggi
jabatannya ia harus kembali mengurusi manusia-manusia golongan tidak berotak
otoriter itu. Tanpa bisa memilih untuk mau atau tidak melakukannya, karena
hukum menjadi babu itu sudah wajib. Tertitah dalam agama ataupun norma. Justru
bila tidak dilakukan, perempuanlah yang dianggap bejat. Norma itu tidak boleh
disebrangi, harus dilakukan walaupun sang perempuan berdarah-darah.
“Suatu saat kau
menikah Puan, carilah suami yang benar! Yang mau membantu, tidak hanya
menuntut! Dikiranya hidup jaman sekarang itu enak apa?” nasihat Mbak Maryati
aku anggapkan angin lalu saja, karena aku tidak berniat untuk hidup satu atap
dengan manusia berpenis asing manapun. Aku sudah mematri hal itu didalam
benakku, otakku dan juga alam sadarku. Harga mati.
&&&&&
Sore itu angin
berhembus sangat lembut, aku yang merasa amat teramat kelelahan dan juga pegal
hanya ingin rehat pembaringanku saja. Aku melihat Ibu di dapur, sedang menambal
beberapa pakaian sehari-harinya yang mungkin robek. Sudah dua hari Jarot tidak
pulang, entah kemana. Aku tak pernah bertanya pada Ibu, karena aku tak mau
tahu. “Bapakmu sudah dua hari tak pulang, Nak. Mungkin ia pergi memancing bersama
temannya.”
Baru saja aku
berpikir, Ibu seolah menjawab pikiranku. Tapi aku diam saja tidak menanggapi
perkataan Ibu, aku hanya mendekatinya dan duduk dikursi sebelah. Ternyata yang
ditambal Ibu adalah pakaian milik Jarot.
“Buat apa ditambal
baju yang sudah koyak Ibu. Dibuang saja atau dijadikan lap untuk lantai rumah.”
Kataku. Ibu menghentikan jahitannya. Mungkin Ibu merasakan kesinisan dalam
kalimatku. “Puan…. Apakah kau membenci Bapakmu?” pertanyaan Ibu menohokku. “Tak
apa, Puan. Ibu mengerti dia bukan seperti yang kamu harapkan. Ibu pun merasakan
hal yang sama.”
“Tapi kenapa
kita harus bertahan dan diam?!”
“Kita hanya
menjalani apa yang telah digariskan”
“Tapi bukan
untuk menjadi babu dia, Bu! Ibu lihat apa yang dia lakukan ? dia tidak melakukan
apa-apa untuk kita! Bahkan Puan tidak satu titik pun memakan beras hasil
keringat dia! Selama ini dia menguras Ibu!”
Ibu hanya diam.
“Dan Puan tahu
dia menyiksa Ibu! Dia bukan manusia Bu, dia iblis!”
“Puan!” Ibu
membentakku. “Kamu tidak berhak menilai Bapakmu, kamu tidak tahu apa-apa!”
“Puan berhak bu,
Puan berhak! Karena dia yang telah menghancurkan hidup Puan!!! Karena dia Puan
tidak sekolah, Puan tidak bisa bermain, Puan tidak bisa melakukan apa-apa
selain mencuci pakaian busuk dan mendengarkan banyak orang menghina kita bu!”
Tamparan pedas
aku rasakan mendarat di pipiku. Aku merasakan emosi ku membumbung menjadi balon
udara yang siap meletus. Aku sungguh membara, ingin aku balas tamparan itu.
Tapi, tidak pada Ibuku. Tidak pada manusia yang paling aku cintai ini. Aku
memandang Ibu dengan mata yang nyaris merah karena dikuasai kemarahan.
“Jika saja aku
bisa memilih siapa Bapakku, Bu.” Hanya itu yang bisa aku katakan untuk membalas
tamparan Ibu. Mual menyerangku.
****
Masih lekat
dalam ingatanku bagaimana tubuh busuk itu mengamburkan darah dari perutnya,
kental dan membanjiri seluruh lantai kamarku. Aku terdiam, dalam guratan
kepedihan dan ketakutan yang menyergapku. Saat itu aku melihat Ibu memgang
pisau dapur, bersimbah darah si busuk Jarot. Ibu naik pitam saat tahu Jarot
mencoba menggagahiku, hanya saja Ibu tak tahu ini yang kesekian kalinya.
“Bangsat! Kau
bangsat! Dia anakku! Dia anakku!!!” Histeris Ibu menyerapah saat mengetahui
bagaimana Jarot telah menyentuhku, untuk yang kesekian kalinya. Ibu terlambat,
aku terlanjur basah oleh keringat dan luka bekas tamparan lelaki itu.
Aku melihatnya
tergeletak di depan mataku, sambil Ibu masih menuskkan pisau itu berkali-kali
ke dada Jarot. “Dia anakku, bukan anakmu anjing!! Kenapa kau nodai dia! Dia
anakku!!!”
Ibu seolah bukan
Ibu yang aku kenal. Ia seperti kerasukan tak menentu. Berkali-kali ia tusukkan
pisau itu, Jarot tak berdaya. Lalu aku tak lagi mendengar erangan Jarot busuk
itu, segera ku sambar tubuh Ibu. Aku peluk Ibu erat-erat hingga tak bisa
bergerak. Aku biarkan tubuhku yang yang telah setengah telanjang menyelimuti
tubuh Ibu yang dibanjiri cipratan darah Jarot. Ibu menangis tersengu-sengu,
“Teganya dia, Puan…. Teganya dia. Kau anakku Puan, Kau anakku!”
“Tidak, kau
harus diselamatkan! Puan, dia telah menodaimu, dia telah menyakitimu! Tidak!”
Aku meliha tnapas
Ibu tersengal-sengal, “Dia bukan Bapakmu! Dia … Puan, harusnya aku katakan
sejak dulu, dia bukan Bapakmu! Harusnya aku kawin lari! Harusnya aku tidak
menuruti kakekmu!”
“Ini salah… ya
salah kakekmu, memaksa aku menikah dengan Jarot! Sudah aku katakan aku tidak
mau, aku tidak mencintainya! Aku mencintai Bayu. Bayu… Bayu Bapakmu! Dia
Bapakmu!! Jarot busukk!!!”
Aku hanya
terdiam, tidak memahami apa yang diceracau Ibu.
“Jarot
jahanammmm!!!!” melengking suara Ibu, tak lama kemudian yang aku ingat hanya
gelap dan bunyi gemuruh kaki di lantai, seperti serombongan kuda berhamburan
masuk ke dalam rumah.
****
Sudah dua bulan
aku hanya memilih diam. Rasanya misteri kehidupan ini masih tidak bisa aku
tafsirkan. Aku memilih untuk menumpulkan otakku agar aku tidak memahami betapa
hancurnya kehidupanku. Sesekali aku merasa mual. Aku berhenti untuk memahamai
bahwa lelaki yang serumah denganku selama berpuluh-puluh tahun ini bukanlah
Bapakku. Ternyata aku bukan anak Bapakku, wajar saja ia melakukan kebusukan itu
padaku.
Sebenarnya aku
mampu mendengar bagaimana para tetangga membisikkan berbagai kisah yang
disampaikan angin yang berhembus ke telingaku yang mulai aku tulikan. “lihatlah
Puan, ternyata ia bukan anaknya Jarot. Pantas saja ia diperkosa oleh si Jarot.”
Kucing kucing kampung
juga mengatakan bagaimana para warga mengutarakan rasa prihatinnya padaku,
“Kasihan Puan, ia harus menanggung sendiri kepedihan hidup. Setelah membunuh
Jarot , Ibunya ikut bunuh diri.”
“Ternyata Jarot
dipaksa menikahi Diana karena Diana terlanjur hamil dengan kekasihnya yang
dulu. Tapi Bapaknya Diana tidak rela Diana menikah dengan Bayu, karena berbeda agama.
Dirayulah Jarot untuk menikahi Diana yang sudah hamil itu dengan diming-imingi
harta. Maulah si Jarot penjudi itu.”
“Ah, andai saja
Diana dinikahkan denganku pun, aku tak menolak. Walau sudah berbadan dua!
Sayang sekali.”
“Tapi Jarot
sunggu jehat, ia tidak pernah mengurus Diana dan Puan. “
“Ya. Wajar saja.
Katanya iamerasa kecewa dengan harta yang diberikan si kakeknya Puan. Tidak
sebanyak yang ia kira. Karena itu ia membalasnya dengan berlaku kejam pada
Diana dan Puan.”
“Ah kasihan
Puan….”
Mendadak aku
memiliki kekuatan untuk mendengar percakapan seluruh warga. Aku tahu yang
mereka bicarakan, tapi aku memilih diam sambil memandang matahari. Tapi tidak
ada yang tahu bagaimana rasanya menjadi gelap. Rasa mual ini semakin sering
terjadi, pagi siang dan malam. Mual. Sebagaiman mualnya aku membayangkan mata
merah Jarot menikmati setiap lekukan tubuhku, menikmati saat aku berdarah-darah
dihadapannya. Lalu akhirnya ia dibuat Ibu berdarah , dan mati.
“Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu……………!!!!”
aku berteriak, berteriak pilu. Kepalaku sakit, lalu aku benturkan saja ke
dinding rumah biar sakitku hilang. Bruk! Bruk! Bruk! Biar berdarah seperti
Jarot. Seperti Ibu. Bruk! Bruk! Tubuhku limbung, lelah.
Bruk! Bruk!
Masih aku benturkan kepalaku biar sakitnya hilang. Hilang. Hilanglah. Selanjutnya seperti malam itu, yang terdengar
adalah bunyi gemuruh langkah kuda memasuki kuda. Gelap. Dan aku berharap aku
ikut mati bersama Ibu.
****
Pangkalpinang, 13 Mei 2015
Jumat, 15 Mei 2015
Cerpen_CINTA PERTAMA
Oleh : Yulistia Akbari
Kesibukan di kantor sempat mengalangiku
untuk memboyong keluarga berlibur ke kampung halaman. Lalu sejak satu minggu
yang lalu, aku membawa Juna, anakku,
untuk kembali ke kota ini. Pangkalpinang. Kali ini tanpa ditemani suami,
karena kesibukannya di kantor tentunya
Sore itu Juna merengek ingin jalan-jalan
mengitari kota, katanya bosan jalan-jalan ke pantai terus. Lalu aku putuskan
mengendarai mobil berdua bersama Juna untuk mengenalkannya dengan setiap sudut
kota. Tanpa sadar aku melewati jalan
ini, jalan yang sudah lama tidak aku lalui. Dulu jalan ini sepi sekali hanya
tedapat beberapa kantor saja, sekarang sudah menjadi komplek perkantoran.
Mataku tertuju pada salah satu kantor di sudut jalan.
Sudah lama aku tidak memperhatikan
pekarangan kantor itu. Sekarang bangungannya sudah modern, cat bangunannya pun
baru dengan tanaman hias yang berwarna-warni. Tapi plang kantor itu belum
berubah, masih tertulis Kantor Urusan Agama. Banyak sekali perubahan kantor
itu, termasuk pohon alpukat yang dulu rimbun sudah tak nampak disana. Dulu,
paling aku ingat pohon alpokat itu selalu berbuah banyak dengan daun yang besar
besar itu merindangi sekitarnya. Kantor itu menjadi tidak terlalu silau oleh
matahari yang terik.
Dadaku berdegup karena resonansi masa
lalu. Ada yang aku rindukan saat pohon alpukat itu masih berdiri kokoh dengan
daun rindangnya. Yang batangnya sangat besar sehingga mudah untuk dinaiki oleh
siapapun. Aku memandang pekarangan kantor itu dengan lekat, ah pohon itu telah
dihilangkan.
Aku ingat sekali bagaimana kehadiran
pohon alpukat itu membawa cerita yang amat panjang setelahnya. Sudah ribuan
kali aku berjalan melewati kantor itu setiap harinya, minimal dua kali dalam
satu hari yaitu saat pergi dan pulang menuju sekolahnya. Saat itu aku masih
duduk di bangku kelas tiga dengan seragam abu-abu. Ada yang berbeda sore itu,
saat aku baru saja pulang dari sekolah untuk mengikuti latihan silat , ketika aku
melewati pohon alpukat di depan kantor itu, tiba-tiba saja satu buah alpukat
jatuh tepat di depan kakiku. Hampir saja aku berteriak karena kaget, lantas aku
dongakkan kepala arah pohon alpukat arah jatuhnya si buah. Mataku menangkap
sosok tidak berbaju, hanya mengenakan kaos dalam dan celana jeans. Lelaki kurus
itu tersenyum. Aku mendengus kesal, siapa pula lelaki iseng itu. Apakah ia
sengaja menjatuhkan buah alpukat ke arahku? Aku berusaha tidak mempedulikan
lalu kembali berjalan kaki dan melewati kantor itu seolah tidak ada yang terjadi.
Keesokan harinya saat aku pulang sekolah
dan kembali melewati jalan yang sama, aku kembali melihat lelaki yang kemarin
berada di pohon alpukat. Kali ini dandanannya berbeda, terlihat lebih rapih
dengan setelan cokelat. Wajahnya bersih tapi badannya kurus. Senyumnya manis
tapi terlihat terlalu lebar. Aku tidak mempedulikan ketika lelaki itu kembali
tersenyum padaku.
☻☻☻☻☻
“Siapa namamu?” saat itu hari kelima
setelah lelaki itu hampir menjatuhkan buah alpukatnya kepadaku. Lelaki itu
menyodorkan buah alpukat yang ia masukkan dalam kantung plastik hitam yang
besar. Ragu aku untuk mengambilnya. “Ambillah, aku sengaja mengambilkannya
untukmu.” Kembali ia menyodorkan kantung plastik berisi buah alpukat itu dari
balik pagar kantor.
“Terima
kasih.” Ujarku sambil meraih plastik itu. Saat tanganku ingin meraihnya, ia menahan
plastik itu, “Namamu siapa?” tanyanya lagi. Kali ini ia bertanya dengan senyum
yang manis, dapat aku lihat deretan giginya yang berbaris kecil dengan gigi
depan yang sedikit jarang. “Nia. Namaku Nia. “ Barulah ia melepaskan plastik
itu dan betul-betul menyerahkan kepadaku.
“Nama
abang siapa?” aku balik bertanya. Dalam hati aku bingung untuk memanggil lelaki
ini siapa, abang, om atau bapak? Karena tentu lelaki ini sudah bekerja dan
usianya diatasku. “Nama abang Arai. Panggil saja Rai.”
Aku tersenyum dan mengucapkan terima
kasih untuk yang kedua kalinya, lalu berpamitan untuk segara pulang. “Mau abang
antarkan?” tanya Bang Rai. Aku menggeleng pelan, menolaknya. Bisa dimarahi Ibu
bila aku pulang dengan orang tidak dikenalnya. Sore itu aku pulang membawa buah
alpukat yang besar-besar dan aku serahkan kepada Ibu. Ibu bertanya darimana aku
mendapatkannya, lalu aku jawab saja “Dari Bang Rai.”
☻☻☻☻☻
Sejak hari itu entah kenapa aku sangat
senang sekali setiap akan pergi kesekolah. Mungkin karena aku bisa melewati
kantor itu dan bertemu dengan Bang Rai. Walaupun kami hanya sebatas saling
tersenyum dan menyapa ringan saat aku melewati kantornya. Pagi-pagi sekali ia
sudah berada di kantornya dan berdiri di dekat pintu untuk menungguku lewat. Aku
akan mengucapkan salam padanya dan meneruskan perjalananku menuju sekolah. Saat
siang pulang sekolah, Bang Rai pun sudah dengan seaku menunggu di dekat pintu
pagar kantor hanya untuk menyapaku dan mengucapkan “Hati-hati. Maukah abang
antar?” dan selalu saja aku menolaknya. Walaupun sebenarnya ingin.
Suatu siang, saat aku kembali melewati
kantornya saat pulang sekolah, ia tidak hanya menyapaku. Tetapi kembali
menghampiriku. “Maukah adek ikut bersama abang sore ini?” tanyanya.
Aku
mengernyitkan dahi, “Kemana?”
“Temani
abang mencari cemara di pantai.”
Aku
menimbang-nimbang, seharusnya sore ini aku latihan silat, tapi mungkin bisa aku
tunda sementara. Karena aku ingin sekali pergi dengan lelaki dihadapanku ini.
“Baiklah, tapi adek harus pulang sebelum pukul lima sore.”
Aku
melihat keriangan diwajahnya, “Baik, kita berangkat pukul tiga.”
Lantas sore itu kami berboncengan dengan
motornya yang berwarna biru untuk mencari cemara. Ia mengajakku ke pantai
Sampur. Ternyata disana memang banyak sekali pohon cemara. Sayang pantai ini
tidak biru lagi, sudah banyak hilang keindahannya karena tambang inkonvensional. Aku melihat banyak
ibu-ibu yang mencari lokan di pantai. Karena penasaran aku mengajaknya untuk mendekati
ibu-ibu itu dan ikut membantu mencari lokan.
“Ayo
kita cari cemaranya, Dek.” Ajak Bang Rai. Aku menuruti. “Abang suka sekali
dengan tanaman ya?” tanyaku.
“Ya,
abang senang sekali dengan tanaman. Adek lihat tanaman bonsai di depan kantor?
Itu abang semua yang menanam.”
“Abang
mirip Atok Adek. Atok Adek senang sekali mengurus bonsainya. Kadang seharian
waktunya ia habiskan untuk menyemprot bonsainya. Lalu kasihan bonsainya,
diikat-ikat atok dengan kawat. Katanya biar tetap kecil.”
Bang Rai tertawa mendengar pernyataanku,
“Itulah seninya berbonsai Dek. Hanya orang-orang tertentu yang mengerti indah
dan seninya berbonsai.”
“Biasanya
orang yang suka berbonsai itu cerewet.”
“Adek
tahu darimana?”
“Nenek
yang becerita, tapi Atok memang cerewet sekali, Bang.”
Lalu
kami terbahak bersama-sama. Entah karena merasa lucu dengan jawabanku, atau
Bang Rai merasa ia memang berkarakter seperti itu. Belakangan aku baru tahu,
ternyata sifat Bang Rai hampir mirip dengan Atok.
☻☻☻☻☻
Sejak hari itu Bang Rai memberanikan diri
untuk mendatangi rumahku dan memperkenalkan diri dengan keluargaku. Ibu, Bapak,
Atok dan Nenek menerima Bang Rai dengan baik. Apalagi nenek, yang merasa senang
sekali aku memiliki teman yang bekerja sebagai pegawai negeri di departemen agama. Kata Ibu, nenek dulunya juga
pegawai negeri yang bekerja di departemen agama. Tapi sejak melahirkan paman ,
adik Ibu yang pertama, nenek memutuskan untuk berhenti bekerja karena lebih
memilih mengurus paman yang waktu itu sering sekali sakit-sakitan.
Hampir setiap malam Bang Rai yang
perantauan itu menghabiskan malamnya dirumah hanya untuk sekedar mengobrol
denganku. Hanya setiap malam minggu saja kami diizinkan untuk pergi makan malam
berdua ataupun sekedar mengelilingi
kota, itu pun tidak lewat dari jam sembilan malam.
Bang Rai senang sekali bercerita, dan
ceritanya tidak pernah membosankan. Ia senang sekali menceritakan tentang masa
kecilnya dan keluarganya yang berada di Sumatera Barat. Bang Rai pun bercerita
bahawa telah empat tahun merantau ke Pulau Bangka semenjak diterima sebagai
pegawai negeri. Karena hanya sendiri Bang Rai memutuskan untuk tinggal saja di
kantornya, sekalian menjaga kantor katanya. Terjawablah keherananku tentang
banyaknya tanaman yang indah di kantornya itu.
Bang Rai juga bercerita tentang
kesedihan saat ibunya meninggal dunia, tentang hobinya membaca buku dan tentang
sastra dan puisi yang tidak pernah aku pahami. Pernah ia mengajakku ke toko
buku untuk menemaninya membeli buku Andrea Hirata yang berjudul Sang Pemimpi,
alih-alih langsung ia baca, ia justru menyuruhku untuk membacanya terlebih
dahulu. Ternyata bertahun-tahun setelah itu buku yang ia berikan padaku untuk
dibaca ini di film kan dan menjadi salah satu film terbaik yang pernah ada. Ia
menjadi canduku dalam membaca, ia adalah salah satu orang yang membuatku
mencintai buku setelah Atok.
Entah sejak kapan hari-hariku selalu
bersama dengan Bang Rai. Ia selalu menjemputku setelah pulang sekolah, lalu
mengajakku makan siang. Kadang-kadang aku hanya menemaninya makan siang saja, “Adek
bosan makan nasi padang” kilahku. Lalu ia akan membelikanku es krim sebagai
penggantinya. Tidak ada hari tanpa Bang Rai. Uniknya, tidak pernah ada kata
cinta yang keluar dari bibir kami berdua. Tapi bisa dirasakan, dan siapapun
yang melihat akan tahu bahwa kami dimabuk cinta. Aku jatuh cinta, pertama
kalinya dalam hidupku. Beginilah cinta, rasanya indah dan juga membuat hati
berbunga. Pendek kata, aku bahagia.
☻☻☻☻☻
Kebiasaanku adalah suka membuka setiap
pesan yang masuk ke handphone Bang
Rai, beliau pun tidak pernah melarangku. Lalu saat pesan-pesan itu masuk aku
akan segera menyampaikannya pada Bang Rai. Kadang aku membacakannya ketika ia
sedang asik memotong daun-daun bonsai yang sudah kecil itu. Entahlah, Bang Rai
seperti ada di dunianya sendiri saat ia asyik memperindah tanaman-tanamannya,
atau sekedar menyirami tanaman-tanamannya yang sudah tertata rapi didepan
kantor. Dengan kaos dalam warna putih serta celana pendek, rokok yang tak lepas
dari bibir tipisnya, tangan yang memegang gunting tanaman itu artinya ia tidak
akan lagi peduli dengan handphone
atau ajakanku kemanapun. Saat sedang seperti itu, sebaiknya aku duduk saja
didekatnya sambil mendengarkan ia berkisah tentang tanaman-tanamannya. Jika
beruntung, sesekali ia menggumankan puisi untukku.
Siang
itu sepulang sekolah, Bang Rai membelikanku es krim. Aku hanya menunggunya di
motor sambil memegag handphone Bang
Rai. Terdengarlah bunyi bip beberapa
kali. Aku membaca pesan yang masuk :
Bang,
Dinda baru pulang dari tukang jahit. Ternyata baju yang akan Dinda pakai untuk
acara pernikahan kita nanti masih kebesaran. Padahal sewaktu diukur rasanya
pas. Tak sabar Dinda menunggu hari itu tiba, Bang.
Ada pilu yang mendadak menghujam
jantungku, ada godam yang meluluh lantakkan hatiku. Rasanya sakit sekali sampai
ke relung tulang terdalamku. Aku pandangi wajah Bang Rai yang tersenyum kepadaku
sambil memegang es krim kesukaanku, aku balas memandanginya lekat dan dalam. Aku
mengerti apa makna pesan singat ini.
Rasanya tak percaya Bang Rai
merahasiakan hal besar ini padaku. Rasanya sungguh menyakitkan. Bang Rai
menyerahkan es krim itu kepadaku. Dan aku membalas dengan menyerahkan handphone yang telah terbuka pesan
singkatnya. Bang Rai membaca pesan itu, dan menatapku kaku. Tak bisa berbicara.
Ia melihat genangan air mata disudut mataku. Aku tak ingin melihatnya. Dan ia
hanya terdiam terpaku saat melihatku membuang es krim pemberiannya. Dan sejak
saat itu aku tidak ingin mendengar kabar apapun darinya. Dan sejak saat itu pula
aku tidak menyukai es krim lagi.
Aku tidak ingin mengingat apa yang
terjadi setelah itu, karena hari-hari setelahnya adalah rasa nyeri di ulu hati
dan kerinduan yang bertalu-talu di hatiku yang harus aku lawan walaupun setiap
hari deraian air mata menghiasi. Inilah rasanya terluka oleh cinta, tak ada
bandingannya.
☻☻☻☻☻
Sudah
tujuh tahun berlalu.
Seiring
waktu aku mencoba melupakan setiap detail kejadian yang terjadi. Aku bersahabat
dengan kenangan, aku bersahabat dengan rasa sakit yang pernah aku rasakan
karena cinta pertama. Dan sekrang aku memandangi kantor itu yang telah berubah.
Begitupun dengan kehidupanku, yang telah berubah walaupun dengan susah payah
aku bangun kembali semenjak kejadian itu.
“Mama,
ayo kita pulang! Juna sudah mengantuk.” Lelaki mungil berusia tiga tahun ini
menyadarkanku dari lamunan. Aku tersenyum kepadanya, “Apa yang mama lihat dari
kantor itu Ma?” tanya Juna keheranan. Aku membelai kepalanya dengan lembut,
“Dulu di kantor itu ada pohon alpukat yang sangat rindang. Buahnya besar besar.
Sungguh enak jika dimakan. Mama kira pohon itu masih berdiri kokoh sejak
terakhir mama lihat, ternyata sudah tak ada.”
☻☻☻☻☻
Ibu oh Ibu
Ada kejadian yang cukup membuat perasaan ini terasa tidak enak dikarenakan seseorang : Ibu.
Sejak aku masih remaja hingga sekrang menurutku Ibu adalah tempat yang paling aman dan nyaman untuk menjadi wadahku bercerita segala hal. tentang apa yang telah aku alami, lalui dan rasakan. Ibu menjadi tempat yang tepat untuk berkeluh kesah serta meminta pendapat. Hampir tidak ada hal yang aku rahasiakan pada Ibu.
Kebiasaan menceritakan segala hal kepada Ibu ternyata sedikit membuatku 'galau' saat telah menjadi istri. Tentunya sama seperti saat aku masih belum menikah, aku masih saja menceritakan berbagai kisah termasuk tentang kehidupan rumah tanggaku dan suamiku. Yang tentunya tidak aku sortir sama sekali, baik buruk semuanya aku ceritakan pada Ibu. Lantas pada siapa lagi yang aku percaya cerita itu akan aman bila selain Ibu? Tidak ada Ibu yang akan menjatuhkan anaknya, bukan?
Sayangnya aku tidak memahami bagaimana perasaan Ibu.
Aku seharusnya bisa membatasi diri atas cerita-ceritaku. Karena Ibu tetaplah seorang Ibu.
Setiap kali ada masalah atau bertengkar dengan suami (walaupun sampai sekrang bertengkar kami hanya hal-hal sepele, paling tinggi aku merajuk kepada beliau) aku akan langsung menceritakannya kepada Ibu. menumpahkan segala emosi dan kemarahanku. Ternyata hal itu berpengaruh kepada Ibu. Ibu ikut menjadi kesal dengan suamiku!
Oke, perbedaannya adalah jika seorang istri kesal dengan suaminya, kekesalannya itu akan menguap seiring dengan kembali harmonisnya hubungan itu. Jadi, saat aku dan suamiku sudah kembali mesra aku akan melupakan kekesalanku itu. Berbeda dengan Ibu. Ibu akan selalu kesal dan mempengaruhi perasaannya kepada si menantu!
Kacaulah aku!
Bagaimanapun aku tidak mau Ibu menjadi kesal atau berkurang rasa sukanya kepada suamiku. Aku bahagia melihat bagaimana Ibu menyayangi suamiku dan bagaimana suamiku menyayangi suamiku. Setiap manusia punya kekurangan, termasuk suamiku. Setiap manusia memiliki sisi yang bertentangan dengan orang lain, termasuk suamiku. Dan sekarang aku yang pusing menghadapi kegamangan sikap Ibu. Antara masih sayang dan kesal dengan suamiku.
Pernyataan Ibu yang merasa kesal dengan sikap suamiku (yang tentunya berdasarkan apa yangaku ceritakan pada Ibu) membuat Ibu malas datang kerumah kami. Ibu lebih memilih menahan rindunya kepada sang cucu daripada datang kerumah kami. Pun jika kami kesana Ibu hanya bereaksi sekedarnya. Makin bingunglah aku!
Pada titik ini aku menyadari bahwa seorang Ibu tetaplah Ibu. Tetaplah ia akan merasa sakit saat anaknya disakiti, tetaplah akan menyimpan luka saat melihat anaknya menangis atau terluka. Hal ini memberikan pelajaran untukku, aku harus mampu berperan ditengah-tengah. Sebagai anak dan sebagai istri. Aku belajar untuk tidak menceritakan semua yang terjadi dalam kehidupan rumah tanggaku, cukuplah yang indah-indah dan bagusnya saja agar Ibu tidak memiliki beban pikiran atau perasaan tentang kehidupan rumah tanggaku.
Lantas, kepada siapa aku mengadu?
Jawaban terbaiknya adalah : Tuhan.
Senin, 11 Mei 2015
SELAMAT ULANG TAHUN ARJUNA
Alhamdulillah akhirnya anak pertama kami berusia satu tahun pada tanggal Tujuh Mei tadi. Aku berhasil menghias kue sendiri untuk ulang tahunnya kali ini, dan alhamdulillah warnanya mera biru sesuai dengan harapanku! Kaya spiderman ya? Heheheheheee.
Sengaja nih aku cari warna merah biru karena aku emang ngefans berat dengan karakter spiderman, keren aja lah pokoknya. Rasanya menyenangkan sekali ya bisa membuatkan sesuatu untuk anak tercinta. Semoga nanti bisa bikin kue lagi untuk Juna dan Papa. Padahal waktu masih gadis paling malesssssssss kalo harus disuruh Ibu yang namanya masak!
Happy B'day anakku sayang, jadi anak sholeh dan penghafal Al-Qur'an kaya abang Musa ya nak. Amieennn ^^
'Merebut' Life of Pi

Kali ini aku tidak akan membahas tentang isi novel ini, karena mungkin sebagian besar orang sudah tahu bagaimana kisah novel ini bahkan novel ini sudah difilmkan, lho.
Ada yang menarik dari kisahku mendapatkan novel ini. Dari sekian banyak novel yang aku miliki hanya novel inilah yang tidak pernah aku baca. Entahlah, kata-kata yang termuat didalamnya tidak dapat aku mengerti. Novel ini 'diberikan' oleh seorang abang yang terkenal dengan nama Larsi de Isral. Sebenarnya tidak dberikan. Awalnya beliau menawariku sebuah buku yang sangat bagus untuk dibaca, maka aku yang sangat senang membaca novel ini , dengan senag hati menerima tawaran itu. Waktu berjalan sangat cepat dan akhirnya aku tidak tertarik untuk membaca novel ini. Ya karena itu tadi. Kalimat per kalimat yang disajikan penulis tidak bisa aku terima, mungkin selera yang berbicara. Kebanyakan novel yang aku baca tentang thriller, detektif dan teka teki. Wajar saja aku punya banyak kolek seri Dan Brown dan Stieg Larsson ^^. Untuk Stieg Larsson aku punya triloginya,lho! Namun novel ini tidak aku kembalikan kepada di peminjam, untuk kenang-kenangan alasanku.

Beberapa hari yang lalu aku berniat mengembalikan novel ini setelah sekian tahun lamanya, masih terganjal dihatiku karena beliau bukan berniat memberikan pada awalnya. Hanya meminjamkan. Tapi niat itu aku urungkan, rasanya sayang novel sebagus ini tidak menjadi koleksi. Maka aku meminta izin kembali pada beliau untuk aku simpan. Ternyata beliau bahkan sudah lupa novel ini ada ditangan adeknya yang iseng ini. Hehehehehee :) Semoga ikhlas ya, Bang ^^
Kisah Istri Paruh Waktu
Rasanya tidak enak sekali memiliki 'titel' istri paruh waktu ini, kesannya seperti menyepelekan kedudukan yang seharusnya dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Tapi apalah daya dengan kebutuhan yang tinggi di zaman ini rasanya sulit untuk tidak 'membantu' suami.
Pernah terbayang, sering malah, betapa indahnya bila seorang istri hanya berada dirumah. Bangun tidur langsung mengurus sarapan dan kebutuhan suami, memandikan anak serta menyuapinya, membereskan rumah dan memasakkan makanan kesuakaan suami dan anak-anak, membaca buku yang disukai dan menanti kepulangan suami dengan wajah yang cantik dan tubuh harum. Betapa indahnya dunia itu.
Tapi yang aku hadapi adalah kenyataan. Tidak mudah memang menjadi seorang wanita bekerja sekaligus istri dan ibu dari anak yang baru saja berusia satu tahun. Aku kehilangan masa-masa yang mungkin tidak akan terulang lagi seumur hidup, aku kehilangan kesempatan untuk menyaksikan setiap detik perkembangan anakku. Banyak momment berharga yang aku lewatkan hanya untuk mendapatkan beberapa juta rupiah yang hanya aku dapatkan satu bulan sekali. Seringkali merasa berdosa karena yang menyambutku pulang kerja adalah suami, bukan sebaliknya. Tapi, sungguh jika harus memilih maka aku lebih memilih menjadi istri yang penuh waktu alias fulltime! Alhamdulillah, rasa bersalah ini sedikit terobati dengan dukungan suami dan keluarga besar. Ya, suami tidak pernah mengeluh jika aku harus pulang malam dan bergaduh kelelahan. Suami tidak pernah cerewet dengan makanan dirumah. Bahkan beliau yang kerap membantuku untuk mencuci baju, menjemur dan menggosok baju. Suamiku tidak berkeberatan untuk menyapu rumah, mencuci piring atau pun membereskna rumah. Tidak ada gengsi dalam hubungan kami, semuanya saling membantu. Dan aku bersyukur Allah mengirimkan suami seperti suamiku.
Kembali dengan peran istri paruh waktu, hal itu merupakan sesuatu yang sangat melelahkan! Yup melelahkan. Ketika bangun pagi aku harus segera mnenyiapkan sarapan suami, minimal kopi. Kemudian menyiapkan sarapan untuk si kecil, jika ia sudah bangun dari tidurnya aku harus memandikannya terlebih dahulu, lalu harus berdandan dan bersiap sebelum bekerja, mengantarkan anak kerumah pengasuh (ini hal yang paling berat) , lalu ke kantor, pulang dari kantor yang hampir magrib, menjemput kembali si kecil, pulang, masak untuk makan malam, membereskan rumah (sesekali), mengasuh si kecil hingga ia tertidur. Rasanya aktifitas itu sudah terstruktur dengan sendirinya. Tired but fun!
Aku mencoba menanamkan dalam hatiku semua yang aku lakukan adalah ibadah dan harus dilakukan dengan senang hati. Karena itu walaupun lelah sehabis kerja aku merasa bahagia memasak untuk suamiku karena itu adalah ibadah dan tentunya aku senang karena suami selalu menghabiskan masakanku. Aku lelah setelah bekerja tapi harus tetap menghadapi rengekan si kecil karena aku sadar, aku hanya memiliki beberapa jam waktu bersamanya jadi tidak ada alasan untukku untuk marah ataupun kesal jika si kecil merengek dan meminta untuk digendong. Aku lelah, tapi aku berusaha untuk tetap memberskan rumah karena ini adalah surga kami yang wajib aku rawat demi kenyamanan kami bersama pula. Semua yang aku lakukan untuk keluarga ku adalah ibadah, karena itu aku bahagia dan berusaha untuk selalu menjalaninya dengan hati gembira.
Menjadi istri paruh waktu membutuhkan dukungan yang besar dari suami, karena jika suami tidak mendukung tentunya akan repot dan melelahkan sekali. Bisa-bisa malah pertengkaran yang terjadi. Yang terpenting, ridho suami diatas segalanya. Jika suami mendukung untuk berkerja, maka bertanggung jawablah. Dan jika suami tidak mendukung, artinya beliau merasa mampu untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan kita harus menghormati juga menuruti keinginan beliau. Apapun pilihan kita sebagai istri harus dengan persetujuan suami. Istri berhak memilih, tapi suami adalah pengambil keputusan.
Semoga istri-istri paruh waktu lainnya juga bisa memposisikan dirinya pada titik yang tepat. Sehingga keharmonisan dan kesinambungan rumah tangga juga dapat terus terjaga. Insyaallah.
Langganan:
Postingan (Atom)
Aku Bumi
Aku bumi Kau bintang Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -
-
Adell dan Lais (Part I) Adell mematut wajah dan tubuhku didepan cermin lama sekali. merasa semua yang di kenakannya pagi ini semu...
-
ku lepas semua yang ku inginkan tak kan ku ulangi maafkan jika kau ku sayangi dan bila ku menanti pernahkan engkau coba mengerti lihat...

