Ada kekhwatiran saat memutuskan memberi izin kepada suami untuk melanjutkan pendidikannya di pulau sebrang. Tapi kekhawatiran itu terkalahkan dengan kepercayaan bahwa suami akan selalu menjaga rasa percaya itu.
Bukan tidak sedikit cerita bahwa banyak suami yg bersekolah lagi di luar pulau , pada akhirnya bukan pulang membawa ijazah tapi ijab sah alias menikah lagi. Sungguh, itu adalah momok terbesar dalam keputusan itu. Belum lagi ditambah akan kerepotan dalam mengurus si kecil yang lagi belum genap 1,5 tahun. Ditambah dengan bayangan hambatan secara finansial. Banyak sekali resiko dibelakang yang harus diterima. Tapi, entah kenapa, bisa jadi karena kepercayaan yang ditanamkan sang suami membuat saya mengenyampingkan semua itu. Keyakinan itulah yang membuat saya mengizinkan suami untuk sekolah lagi.
Setiap hari, doa yang terpanjatkan kepada Allah hanyalah agar Allah slalu menjaganya agar slalu dalam koridor kehidupan yang benar.
Bagaimana dengan godaan?
Godaan itu datang silih berganti, tentu godaan itu akan datang. Baik dari sisi lawan jenis, teman dan juga lingkungan. Tidak bisa di tampikkan.
Tapi kembali lagi pada rasa percaya : percaya pada suami akan selaku bersikap bijak dan percaya pada Allah akan selalu menerangi hatinya untuk tidak tergoda pada kesenangan sementara semata.
Jika bukan iman dan tanggung jawab yang berbicara, perkara fisik akan mudah terabaikan.
Apalah arti istri yang badannya gemuk , wajahnya tembam dan cerewet ini bila dibandingkan manis dan jelitanya wanita wanita dikota besar sana? Tapi saya percaya, suami menikahi saya bukan karena fisik semata. Jadi, kekurangan lahiriah ini tidak serta merta menjadi alasan beliau untuk 'bertingkah' saat jauh dari sang istri.
Lalu, apakah saya juga lepas dari godaan? Tentu tidak!
Setiap istri slalu butuh tempat untuk menyandarkan segala keluh kesahnya dan meminta nasihat dari sang suami. Butuh sosok yang melindungi dan mengayomi. Lantas, bagaimana sang istri menjalani kehidupan saat berjauhan sedangkan ia sangat membutuhkan sosok sang suami itu?
Saat jauh dari suami salah satu pikiran nakal saya adalah : bisa nongkrong dan berkumpul dengan teman teman saya , yang notabene dulunya banyak kaum adam. Bayang bayang indah itu mengelilingi setiap sudut otak. Jika saja tidak melahirkan secara operasi, mungkin saya sudah latihan silat kembali.
Tapi kemudian Allah menjaga saya. Keberadaan si kecil membuat saya mau tidak mau tidak bisa merealisasikan 'nongkrong' itu. Mana mungkin si kecil dititipkan pada si nenek sedangkan mama nya asyik ngalor ngidul di tempat makan? Lalu pupus lah angan angan indah itu. Paling banter, teman teman lelaki itu yang datang kerumah dengan disambut hangat oleh ibu tercinta. Saat jauh dari suami yang saya harapkan adalah jauh dari godaan laki laki manapun. Saya tidak mau tergoda dan saya tidak mau menggoda. Semoga Allah selalu melindungi.karena pria adalah makhluk yang slalu ada dalam lingkungan saya.. teman banyak pria, di kantor pun kebanyakan berinteraksi dengan pria.
Kesini, saya mulai sadar. Menikah itu tidak gampang. Tapi jangan dirumit rumitkan. Rumusnya adalah percaya!
Memutuskan untuk berkomitmen seumur hidup, memutuskan hanya mengizinkan satu orang untuk memiliki kita, memutuskan untuk mengikuti semua perintah satu orang dan bergantung pada satu orang bukanlah hal yang mudah. Ibaratnya, kita nyaris menyerahkan seluruh daya upaya dan hak kita untuk dikuasai oranglain. Gejolak kadang timbul. Baik itu pikiran, perasaan dan juga mental. Tak ada perjalanan yang datar. Tapi ketika kita percaya, sang nahkoda adalah yang terbaik maka hati ini akan tenang.
Beberapa minggu setelah terpisah dengan suami, kadang saya meneteskan air mata. Bisa jadi hampir setiap malam. Rindu. Hanya kata itu yang tepat. Ternyata keberadaannya sungguh berarti dalam hidup saya. Ternyata memang kehadirannya untuk melengkapi kekurangan saya
Saya yang selalu sembarangan dalam mengurus rumah, selalu ditegurnya untuk rapi, rajin dan teratur. saya yang selalu kelelahan saat pulang bekerja, tak pernah ia bebani sedemikian rupa dalam mengurusnya. Bisa dikatakan ia yang mengurus saya dan anak. Tak pernah sekalipun ia berkata masakan saya tidak enak. Tak pernah sekalipun tak ia habiskan lauk yang saya masak. Tak pernah ia menyalahkan saya jika uang bulanan yang ia berikan kadang tak cukup untuk satu bulan. Tak pernah ia marah bila saya berkumpul dengan teman. Dan ia akan berkata : istirahatlan, biar abang yang berea rumah kala melihat saya pulang malam dari kantor. Belum pernah sekalipun ia memarahi si kecil, kesabarannya tanpa batas. Tak pernah ia bertanya tentang kemana gaji saya, tak pernah ia menuntut banyak hal. Ia sungguh melengkapi saya. Bahkan kekurangan yang ada padanya telah Allah tutupi dengan sejuta kelebihan. Lantas, bagaimana bisa saya tidak percaya padanya?
Yah, sebenarnya terlalu dini untuk melebih lebihkan kisah pernikahan jarak jauh ini. Toh baru saja sang suami meninggalkan kami. Tapi.... rasanya siapapun akan setuju bila saya katakan pernikahan jarak jauh ini membutuhkan jauh lebih banyak komitmen dan tanggung jawab.
Semoga kami bisa melalui ini dengan sebaik baiknya dan pada akhirnya nanti kami akan menuai hasil yang jauh lebih indah. Hasil dari kesabaran kami.
Deuh ad yg curhaat 😌
BalasHapusTenang, pergaulan si abang disana dpnuhi dgn prtmanan dgn laki2, tak pernh melirik wanita sama sekali spt yg lain 🙈🎊☺️
Hahahahaha.
BalasHapusAlhamdulillah kalo gt ke.
Nitip tlg diliat samo diingeti yo ke kalo ado aneh aneh. 😆
Hahahahaha.
BalasHapusAlhamdulillah kalo gt ke.
Nitip tlg diliat samo diingeti yo ke kalo ado aneh aneh. 😆