Aku pernah menangisimu
Sepanjang Sudirman hingga Ahmad Yani
Ku lahirkan bayi-bayi kekecewaanku dalam bentuk kristal yang menguap
Kau mengatakan padaku bahwa nafasmu nafasku satu helaan nafas
Namun pada akhirnya hilang sudah paru-paruku, satu.
Kini ku dengar lonceng berbunyi
Dengusan, bau miang, busuk, canda tawa
Mereka tertawa kegirangan
Tak tahu bahwa empedu mau pecah
Tak tahu bertahun-tahun setelah itu mereka bisa merasakan yang sama
Katanya aku galau
"Bu, dia kentut!"
Ah persetan dengan kentutmu!
Otakku sedang bekerjasama dengan hati dalam mengelabui diriku
Memaksa mengenangmu
Kembali tenggelam bersama perahu memori
Berlayar. Mengarungi hempasan.
Bahkan berjuta detik setelahnya aku masih mengenang harum tubuhmu
Tawamu seperti merah putih yang ditarik fan dikembangkan
Lalu petugas akan berkata : "Bendera siap!"
Cih!
Bagaimana bisa aku menganalogikan senyumu sedemikian rupa
Mungkin karena hanya senyummu dan kibaran Sang Saka yang membuat hatiku bergetar dan menangis dalam masa yang sama
Mengapa serumit itu Tuhan menciptakan
Harapan. Hasrat. Mimpi
Namun ternyata ia tertinggal
Karena hanya sebagai alunan. Lantunan. Dendangan nada indahku
Ketika ku diperkenalkan Tuhan tentang cara mencintai dan dicintai untuk kali pertama
Ku pandangi si wangi berkelupak layu
Layaknya asa.
Wangi.
Tapi telah layu.
Januari 2020
Kamis, 09 Januari 2020
Selasa, 07 Januari 2020
Kenanga
Kenanga
oleh :
Yulistia Akbari
Kampung
kami geger.
Desas-desus,
obrolan, ghibah ataupun percakapan panjang lebar sedang berlangsung dengan
khidmat di kampung yang memang ramai dengan ibu-ibu ini. Untung saja mereka
tidak membuat suatu whatsapp grup,
mungkin notifikasi nya akan penuh setiap detik beriisi gunjingan mereka yang
tidak berkesudahan.percakapan tak berkesudahan yang dapat membuat para ibu-ibu
itu lupa masak. Lupa mengurus anak. Lupa mencuci. Lupa membersihkan rumah
ataupun lupa bahwa lima menit lagi suaminya akan pulang kerumah dalam keadaan
lelah setelah bekerja.
Rupanya kampung kami sedang riuh dikarenakan
kedatangan seorang wanita muda yang baru beberapa bulan pindah ke kampung kami
ini. namanya Kenanga. Ia seorang janda. Pantas saja ibu-ibu itu berisik.
“Pak,
katanya janda itu sudah tiga kali menikah lho Pak.” Malam itu Bu Mimin memulai
percakapan dengan suaminya, seranya menyerahkan secangkir kopi panas. Pak Ono
sedang asing bermain dengan handphone-nya. Bu Mimin melirik, suaminya sedang
membaca Babe.
“Masa
semuda itu sudah tiga kali janda ya pak.” Sarkasme. Nada sindiran pedas keluar
dari bibir Bu Mimin. “Katanya, ia baru berusia empat puluh lima lho Pak.”
Akhirnya
Bu Mimin menceritakan gossip yang sedang beredar.
Wanita
yang dikenal dengan nama Kenanga itu pertama kali menikah saat ia berusia
delapan belas tahun. Setelah tamat dari sekolah menengah kedua orangtuanya
langsung menikahkannya dengan seorang laki-laki tampan berusia dua puluh
Sembilan tahun, waktu itu suami pertamanya adalah seorang pegawai negeri.
Mereka di gadang-gadang sebagai pasangan yang serasi. Pengantin yang serasi
menurut masyrakat. Prianya tampan dan mapan, wanitanya cantik dan anggun.
Pernikahan mereka dikaruniai sepasang anak yang lucu, laki-laki dan perempuan.
Pendek kata, secara kasat mata pernikahan mereka sangat cocok. Serasi. Pas.
Mantab! Apalagi ditambah sepuluh tahun kemudian ternyata suaminya sudah
memegang salah satu jabatan strategis di pemerintahan. Semakinlah Kenanga
dielu-elukan dengan label “beruntung.” Kenanga hanya tersenyum simpul dan
selalu bersahaja walaupun banyak orang memuji keberuntungannya dan juga
kebahagiaan yang menurut mereka sempurna. Namun, tidak ada hidup yang sempurna.
Beberapa tahun kemudian, suami Kenanga meninggal karena serangan jantung.
Padahal usianya baru empat puluh tahun, sedang bugar-bugarnya. Sedang menanjak
pula karirnya. Mau dikata apalagi, Kenanga menjadi janda saat ia berusia
duapuluh Sembilan tahun, dengan tanggung jawab seorang anak laki-laki dan juga
perempuan yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Kenanga bingung bagimana ia
harus menghidupi anak-anaknya. Juga hidupnya. Pensiunan janda yang tidak
seberapa tidak dapat menutupi biaya hidup sehari-hari. Akhirnya Kenanga memilih
untuk mencoba usaha. Bermodalkan peninggalan suaminya, ia membuka suatu butik
di pusat perbelanjaan kota. Katanya, usahanya maju.
Karena
kecantikan Kenanga, juga statusnya yang janda, membuat banyak sekali
kumbang-kumbang ingin hinggap menghisap madunya. Layaknya bunga yang masih
segar dan merekah, seperti itulah kumbang nakal banyak mengerumuninya. Namun
Kenanga kokoh. Kenanga tidak suka kumbang jantan nakal yang hanya menunjukan
eksistensi kejantanannya. Bayang-bayang almarhum suaminya masih melekat di hati
Kenanga. Bagaiman kebaikan, kesabaran dan kasih sayang yang dilimpahkan
suaminya membuat Kenanga tidak mudah jatuh jatuh dalam rayuan nakal sesaat para
kaum adam.
Dua
tahun berlalu. Kenanga menginjak usia tiga puluh satu. Entah bagaimana ada
seorang pria yang berhasil mengusik hatinya. Lelaki itu memang pernah singah
dalam kehidupan Kenanga. Ialah mantan kekasih Kenanga semasa SMA. Dengan status
duda beranak tiga, istrinya pun meninggal setelah melahirkan anak yang ketiga,
Kenanga menganggap itu adalah takdir yang menentukan bahwa Kenanga harus
bersatu dengan kekasih masa lalunya. Maka, di penghujung usia tiga puluh tiga Kenanga
memutuskan mengakhiri kesendiriannya. Kenanga menikahi kekasih masa lalu nya.
Katanya, Kenanga kembali hidup bahagia bersama kekasih masa lalunya. Namun
mereka tidak memiliki anak. Kenanga bersikeras tidak mau memiliki anak, karena
Kennga menganggap dua anak kandungnya dan tiga anak tiri sudah cukup meramaikan
keluarga barunya itu.
“Tapi,
apa Bapak tau. Ternyata suaminya tidak mau Pak! Suami barunya tetap mau punya
anak dari pernikahannya dengan Kenanga!” Bu Mimin menggebu-gebu.
Kenanga
mengarungi bahtera rumah tangganya dengan penuh gejolak. Di satu sisi, kenanga
merasa keberatan dengan permintaan suami keduanya untuk menambah momongan.
Bayangkan saja kerepotan yang sudah dialami oleh Kenanga mengasuh kelima
anaknya sekarang. Bahkan Kenanga tidak bisa fokus untuk menjaga butik karena
harus mengurus anak-anaknya. Maka Kenanga mencari orang untuk menjaga butiknya.
Dan di satu sisi lainnya, Kenanga merasa ia harus menuruti permintaan suaminya.
Titah suami adalah diatas segalanya. Dan hamil lah Kenanga untuk ketiga
kalinya. Ia kerepotan. Kacau. Balau.
Sedang
dalam kerepotannya tiba-tiba kabar yang sangat ditakutkan muncul. Suami
keduanya meninggal! Lagi! Kali ini karena kecelakaan. Avanza yang dikendarainya
menabrak truk yang tiba-tiba pecah ban. Saat itu suaminya dalam perjalanan
pulang dari Sadai ke Pangkalpinang. Lemas dan serasa lolos lah tulang belulang
Kenanga. Ia kembali menjanda. Kesedihan yang menghinggapinya membuat janin
berusia dua bulan itu luruh. Keguguran. Semakin lara dan nestapa hati Kenanga.
Kenaga
bersikeras mengurus anak-anak tirinya. Namun keluarga mantan suaminya
keberatan, maka dengan berat hati Kenanga “mengembalikan” anak-anak tirinya
kepada nenek dan atoknya. Bagaimanapun, mereka lebih berhak.
Cerai
mati. Dua kali. Mengerikan.
“Orang
bilang, Kenanga itu ada tahi lalat pak di dekat selangkangnya. Besar. Makanya
kata orang, itu bisa ‘makan laki’ Pak. Alias siapapun yang menikahinya pasti
mati! Bawa sial Pak!” Bu Mimin berapi-api.
“ah
ibu, percaya mitos saja.” Pak Ono menyanggah.
“Bapak
gak percaya, itu sudah ada buktinya Pak. Tapi, memang sih Kenanga itu cantik.
Badanya semok. Lihat saja, Pak Samin sudah mondar-mandir saja didepan rumahnya.
Gatal mau memperistri. Padahal, baru beberapa bulan saja Kenanga ada disini.”
“Sudahlah
Bu, jangan menggosipkan orang. Tidak baik. Dosa.”
“Pak,
kalo emang kenyataan bukan gossip Pak. Fakta!”
“Iya,
tapi tetap saja jadinya ghibah.”
Pak
Ono beranjak dari kursinya yang menuju dispenser, mengambil air putih. Keringat
kecil membasahi dahinya. Malam ini cuaca terasa panas.
“Pak,
masih ada satu lagi Pak ceritanya.” Seloroh Bu Mimin mengekori suaminya yang
menuju kamar tidur dan mengambil buku bacaan yang belum ia tamatkan.
Ternyata
setelah suami kedua Kenanga meninggal, Kenanga lama menjanda. Ia sibuk dengan
usaha dan anaknya-anaknya. Ketika anak-anaknya sudah beranjak dewasa, mungkin
sekitaran duduk di bangku perkuliahan, Kenanga telah berusia tiga puluh
sembilan, ia kembali bertemu dengan seorang laki-laki yang tertarik padanya.
Tentunya dengan banyak sekali pilihan lelaki yang berminat memperistrinya. Tapi
Kenanga bukanlah wanita yang sembarangan memilih pria. Dengan statusnya, ia
digadang-gadang hanya tertarik dengan pria tampan dan kaya. Gossip beredar,
karena Kenanga butuh dukungan secara financial. Ya wajar sih, jika seorang
janda membutuhkan sosok yang bisa mendukung dan memenuhi kebutuhan lahir nya,
tidak hanya batin. Wanita mana yang bisa hidup tanpa pakaian indah, tas yang
cantik ataupun sepatu yang mempesona? Apalagi harga perhiasa terus melambung
tinggi. Mana ada wanita yang bisa hidup tanpa kemilau yang membuat siapapun
pemakainya menjadi cantik seperti bidadari? Apalagi sosok seperti Kenanga.
Terkenal akan kecantikan keanggunannya.
“Nah
masalahnya sekarang kenapa kampung jadi heboh, katanya Paaaakkk……”
Katanya
suami ketiga kenanga adalah suami orang. ia adalah istri kedua. Kalo ini suami
Kenanga bukan duda. Jadi, Kenanga adalah pelakor. Pengganggu laki orang. namun,
tentu saja bisa jadi laki orang itu yang duluan mengganggu Kenanga. Wanita
cantik selalu menjadi pusat perhatian, bukan? Pria yang gatal liat janda
cantik, gelatik. Ya, gelatik. Burungnya
gelatik. Apakah salah Kenanga jika burung gelatik itu datang menggoda,
menawarkan kasih sayang dan juga rasa aman. Aman hatinya. Aman kantongnya.
Salah Kenanga kah? Pada suami ketiga, Kenanga sungguh jatuh cinta. Kenyamanan
yang ia rasakan melebihi apapun.
“katanya,
suami ketiga Kenanga ini biasa saja Pak wajahnhya. Tidak setampan suami-suai
sebelumnya. Juga tidak se-kaya suami-suami sebelumnya. Tapi, katanya ia pejabat
Pak. Pejabat biasa. Gak kaya-kaya amat.”
Pak
Ono membalikkan halaman novelnya. Bu Mimin membersihkan wajahnya dan
menggunakan krim malam. Ia masih berbicara dengan suaminya walaupun sedang
becermin.
“Nah,
katanya Pak suami ketiga Kenanga ada di kampung ini Pak!”
Kenanga
pindah ke kampung ini agar dapat melihat suaminya stiap hari walaupun harus
merahasiakannya. Itu kata gossip yang beredar. Beberapa kali orang melihat ada
lelaki yang masuk kerumahnya melalui pintu belakang, namun tak pernah kelihatan
mukanya. Kenanga sangat mencintai suami ketiganya, mungkin karena ia kesepia
sehingga sosok suami menjadi salah satu hal yang sangat ia butuhkan. Entah sekedar
untuk berbincang, mencurahkan perasaan, dan atau bercinta. Ayolah, janda
muda mana yang tahan tidak bercinta?
Kerinduan itu pasti menyeruak. Walaupun ia bukan janda gatal.
“Ibu
penasaran Pak siapa suami Kenanga. Kira-kira siapa ya Pak? Bu Mimin beralih ketempat
tidur, menarik selimut dan meredupkan lampu.
Pak
Ono menutup bukunya. Kemudian mengganti baju.
“hari
ini jadwal ronda lagi pak?”
“Iya
Bu. Ya udah, Bapak pergi dulu ya Bu. Sudang ditunggu pak Kodri dan teman-teman
disana. Sekalian mau gaple-an dulu.” Pak Ono mengecup kening istrinya dan
berpamitan.
Mata
Bu Mimin sudah sangat mengantuk. Padahala ia masih ingin bertanya kepada
suaminya. Kata orang, suami Kenanga itu posturnya tidak terlalu tinggi,
rambutnya ikal. Kulitnya putih. Jika berjalan terlihat gontai. Wajahnya tidak
kelihatan, tapi banyak yang bilang hidungnya bangir. Siapa tau pak Ono kenal orang dengan postur
seperti itu.
Bu
Mimin menguap, ia ngantuk sekali. Nyaris terlelap jika bukan karena dering
telpon.
Ah,
handphone Bapak ketinggalan.
Dengan malas Bu Mimin meraih handphone
dan bersiap me-reject panggilan
ketika ia melihat nama yang tertulis di layar : Kenanga.
Malam
itu pukul 23.45.
Barulah
Bu Mimin tersadar bahwa suaminya berambut ikal dan jika berjalan terlihat
gontai. Juga tidak terlalu kaya.
Sungailiat, 8 Januari 2020
Kamis, 02 Januari 2020
Januari 2020
ku lepas semua yang ku inginkan
tak kan ku ulangi
maafkan jika kau ku sayangi
dan bila ku menanti
pernahkan engkau coba mengerti
lihatlah ku disini
mungkingkah jika kau bermimpi
salahkah tuk menanti
tak kan lelah aku menanti
tak kan hilang cinta ku ini
hingga saat kau tak kembali
kan ku kenang di hati saja
kau telah hati yang terdalam
hingga tiada cinta yang tersisa di jiwa
***
sekarang aku memahami artinya.
sesuatu yang kita sangka-sangka , ternyata hanyalah serpihan harapan belaka.
sesuatu yang aku kira kan terwujud selamanya, ternyata hampa.
aku hanya akan tersenyum.
aku merasa bahagia atas apa yang pernah ada.
mungkin aku menyesalinya.
namun, akhirnya aku bisa terbang dengan bebas bersama harapan baruku.
tak kan ku ulangi
maafkan jika kau ku sayangi
dan bila ku menanti
pernahkan engkau coba mengerti
lihatlah ku disini
mungkingkah jika kau bermimpi
salahkah tuk menanti
tak kan lelah aku menanti
tak kan hilang cinta ku ini
hingga saat kau tak kembali
kan ku kenang di hati saja
kau telah hati yang terdalam
hingga tiada cinta yang tersisa di jiwa
***
sekarang aku memahami artinya.
sesuatu yang kita sangka-sangka , ternyata hanyalah serpihan harapan belaka.
sesuatu yang aku kira kan terwujud selamanya, ternyata hampa.
aku hanya akan tersenyum.
aku merasa bahagia atas apa yang pernah ada.
mungkin aku menyesalinya.
namun, akhirnya aku bisa terbang dengan bebas bersama harapan baruku.
Senin, 16 Desember 2019
Bia
Kini tak ada terdengar kabar dari dirimu
Kini kau telah menghilang jauh dari diriku
Semua tinggal cerita antara kau dan aku
Namun satu yang perlu engkau tahu
Dan hari telah berganti hari. Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Namun aku dan dirinya kini telah menjadi satu. Tidak pernah seharipun kami terlepas satu sama lain. Pertemuan adalah seperti obat pereda nyeri dalam hatiku. Setiap malam, wajahnya seperti potongan kolase yang bermain-main dalam benakku.
Aku membayangkan bagaimana bila disetiap malam aku bisa membelainya, menyentuhnya dan merasakan manis bibir ranumnya. Bia. Tidak pernah terjadi apapun diantara kami, setidaknya hingga detik ini. Setiap bertemu yang kami lakukan hanyalah minum kopi bersama dan menceritakan keseharian masing-masing, berbagi tentang kepenatan dan juga cerita remeh yang kami temui disepanjang hari.
"Bagaimana jika kita pergi ke suatu tempat, aku sungguh merasa bosan namun ingin menemukan sedikit inspirasi." ujarnya sambil menghembuskan asap rokoknya dengan lembut. Bisakah aku saja yang kau hisap? lirihku dalam hati, fantasiku bermain.
Lalu kami melaju kencang menuju salah satu tempat yang sangat ingin aku kunjungi bersamanya, hal itu telah aku putuskan beberapa minggu yang lalu.
"Aku suka tempat ini. Tenang, tapi menenggelamkan." ujarnya.
"Sesekali aku kesini jika sedang merasa ingin menyendiri."
"Apakah kau pernah merasa kesepian? Seperti ada potongan dalam hatimu, hilang. Dan belum kau temukan." Bia mentap air terjun yang menggulung-gulung dihadapannya. Bahkan saat percikan air itu jatuh di wajahnya, menghembuskan rambutnya yang ikal ia terlihat sungguh menarik.
Aku diam, enggan menjawab.
Ia pun diam.
"Kenapa?" tanya nya heran.
"Aku sedang merasakan hal tersebut." jawabku. Ia membalasnya dengan kernyitan di dahi.
"Bisa jadi, sebenarnya kau adalah potongan kosong dalam hatiku. Dan selamanya aku tidak akan pernah bisa melengkapi kekosongan yang tertinggal itu. Karena potongan itu adalah dirimu."
Ia tertegun,
Dan entah apa yang mendorongku untuk berani merasakan manisnya bibir berlipstik merah menyala itu.
Dan Bia tak menolak, ia menikmatinya.
Aku jatuh cinta.
Kami saling jatuh cinta.
Menjelajahi waktu dan ruang bersama. Melupakan apa yang telah mengikat kami selama ini, meluluh lantakkan sakralnya hidup yang selama ini mengikat. Bersamanya aku melupakan dogma dan norma. Aku menikmati setiap tawa, cerita dan sentuhan kami entah itu kecil ataupun bergairah. Aku sungguh merasa jatuh cinta padanya. Pada kesederhanaannya dan juga kecerdasannya. Bagaimana ia mampu mengolah semua kata terasa indah ditelingaku, ataupun perilaku nya yang manja mampu menyihirku. Aku terbutakan. Ataukan memang begini memabukkannya jatuh cinta saat telah terikat?
Pernah suatu malam aku ingin sekali memutuskan untuk berhenti. Sungguh berhenti menemuimu. Namun keesokannya aku akan berada dalam keadaan mencari-cari kehadiranmu. Begitu terus berulang dan berulang. Sehingga aku memutuskan untuk menikmati saja. Tenggelam dalam kecanduanku padamu.
Entah apa yang kau rasakan.
Bisa jadi aku hanyalah selingan, dan seharusnya itulah yang boleh ia rasakan. Begitupun diriku.
"Harusnya, kau memang hanya remahan biskuit dalam toples makanan ku." ujarnya suatu hari.
"Tapi entah kenapa, aku merasakan porsi yang sama. antara dirimu dan dirinya."
Aku hanya diam. Mencerna semua perkataannya.
"Namun, keberadaanku berbeda denganmu. Aku, tidak bisa mengorbankan kehidupanku untuk terus bersamamu."
Aku mengernyitkan dahi, "Apa maksudmu?". Aku mencoba emmahami arah pembicaraan ini.
"Aku merasa kita harus berhenti." akhirnya kalimat itu keluar dari mulutmu.
"Setelah selama ini? Kita sudah bersama selama lima bulan, Bia! Dan semua terasa menyenangkan."
Aku menarik tubuhnya kedalam pelukanku, menciumnya dengan sepenuh hatiku. Bibirnya yang tebal memenuhi bibirku. Aku suka setiap ia melumatku. Manis.
Ia menarik diri.
"Aku tahu. Dan ini terasa terlalu menyenangkan." ia menjawab. matanya kosong. "Aku seperti membutuhkanmu setiap detik. Bahkan saat dirumah yang aku lakukan hanyalah mengecek sosial mediamu, melihat aktifitasmu dan berharap kau bisa mengirimu pesan setiap detik. Dan itu berpengaruh pada kehidupanku. Malam itu, Ben bertanya apakah ada yang salah dalam diriku. "
"Dan saat itu kau sadar bahwa kita harus berhenti?" tandasku.
Bia mengangguk, matanya terlihat berkaca-kaca.
"Aku tidak mau kehilanganmu. Aku bersedia bertemu satu kali dalam sebulan. Tapi Bia, jangan berhenti menemuiku. Aku membutuhkanmu."
"Bagaimana bisa? Aku sungguh ketakukan sekarang!"
"Tidak ada yang tahu. Kita tidak akan membicarakannya pada siapapun."
"Perasaanku kacau! Aku takut ini akan mempengaruhi keluargaku. Kita harus berhenti. Berhenti!"
"Tapi Bia... aku sungguh mencintaimu."
"Dan kau pun tahu aku mencintaimu. Bersamamu seperti surga untukku."
Lalu kami terdiam. Aku tahu, Bia membutuhkan waktu untuk mengeti apa yang ia rasakan. Aku tidak akan memaksanya, tidak akan. Ia memiliki lebih banyak yang dipertaruhkan dalam hidupnya. Ia bergantung pada suaminya. Si brengsek Ben. Pria tampan, mapan dan juga setia itu. Yang akan ia ceritakan dengan bangga kepadaku betapa ia bersyukur memiliki Ben dalam hidupnya.
Ben yang selalu ada dalam kondisi tersulit Bia. Entah itu dalam mengurus anak-anak mereka atau pun sekedar mencuci pakaian untuknya. Aku sangat membenci itu, namun bersyukur. Setidaknya Bia bahagia dalam pernikahannya. Dan aku mengerti ia dalam persimpangan.
Hanya saja, aku berharap hubungan kami selamanya.
Aku memandang ujung sepatuku. Aku tidak akan mempertahankan Bia. Biarlah ia memutuskan suara hatinya, dan kebimbangannya. Tugas ku, hanya menunggunya.
Sudah 360 hari sejak pertemuan terakhir kami. Dan tidak ada komunikasi sama sekali. Kadang hatiku memanggil-manggilnya, terasa dahaga akan kehadirannya. Namun, aku mencoba menahannya karena aku tidak ingin mengganggu keputusannya.
Sore itu aku memandang laut dari tepian jembatan. Rautmu menari-nari di pelupuk mataku. Ada rindu dalam hatiku yang mengingkan untuk meyentuhmu. Saat kau berkata betapa indahnya mata dan senyumku. Betapa kau menyukai kegenitanku. Dan betapa kau menyukai rasa yang ada diantara kita. "Bersamamu aku merasa dicintai." itu katamu.
Angin menghembus wajahku. Pori-poriku terasa menciut. Dingin. Sedingin hatiku.
"Mama, ayo kita bermain lempar bola ini. Papa menunggu." Alya memanggilku dengan nada riang. Di ujung sana Ali melambaikan tangan ke arahku. Aku tersenyum memandangnya, lalu meraih tangan Alya untuk menuju Ali. Suamiku.
Sungailiat, Desember 2019
Kini kau telah menghilang jauh dari diriku
Semua tinggal cerita antara kau dan aku
Namun satu yang perlu engkau tahu
Api cintaku padamu tak pernah padam, tak pernah padam
_Sandy Sandoro_
Aku bergumul dengan perasaanku ketika ia berkata : "Ah, kamu seperti orang yang sedang jatuh cinta." dengan wajah santai sambil menghisap puntung rokok yang paling aku benci itu. Ia tidak memahami kecemasanku ketika harus menunggu kabar darinya, bertanya-tanya keberadaannya dan harus memastikan setiap detik arlojiku dan bertanya dalam hati apakah aku bisa menemuinya. Aku terus menerus merasa rindu padanya. Aku kecanduan ingin melihat wajah dan bercengkrama bersamanya. Tapi ia menganggapku hanya seperti seseorang yang sedang jatuh cinta. Ada godam yang menghantam jantungku.
* * *
Kali pertama pertemuan kami di suatu pesta. Aku melihatnya dengan balutan gaun putih dengan potongan leher rendah. Ia menggenggam tas kecil yang dipenuhi mutiara. Senyumnya menawan hati, tutur katanya semanis delima. Saat itulah pertama kali aku menyentuh jemarinya yang lentik dan halus. Sekejap aku melupakan suasana pesta dan hanya menatapnya. "Bia." ketika dirinya memperkenalkan diri. Ia sungguh menggoda, sungguh memukau. Aku ingin melumat bibir ranumnya, sepertinya.
Lalu kita bertemu beberapa bulan kemudian.
"Aku tak menyangka kita akan bertemu disini". Itu adalah pertemuan kali kedua kami. Jantungku masih tersentak saat melihat senyumnya, darahku mendidih bergelora. Kenapa ia sangat menggairahkan? Batinku berteriak dan berontak. "Mau kopi?' tanyaku. Ia membalasnya dengan anggukan kecil. Lantas kami meninggalkan bookstore itu dan menuju cofeeshop.
Ia suka sekali bercerita. Tapi ceritanya tidak pernah membosankan ditelingaku. Ia bercerita tentang bagaimana ia menyukai pekerjaannya sebagai penulis buku. Menurutnya itu adalah pekerjaan paling menyenangkan karena ia bisa menuangkan seluruh ide dan juga bersenang-senang dengan khayalan. "Jika berkhayal, berkhayallah setinggi mungkin dan semustahil mungkin." Dari situ aku tahu betapa ia sangat menyukai hal-hal yang berbau literasi. Pantas saja bercerita dengannya terasa menyenangkan. Aku seperti melihat awan biru cerah yang mengelilinginya. Dan setiap ia tersenyum, darahku berdesir. Jantungku berdegup.
Ia juga bercerita tentang kedua orangtuanya yang telah meninggal. Bercerita tentang suami dan anak-anaknya. Santai, semua terasa santai. Natural. Dan ia menceritakannya dengan sangat menyenangkan, sambil menghisap rokok itu dalam-dalam. Tawanya renyah sehingga siapapun yang mendengarnya akan turut geli dan tertawa.
Kenapa Tuhan menciptakan sosok yang sangat mempesona ini?
Menikmati wajahnya yang rupawan membuatku menghabiskan waktu berjam-jam tanpa bosan. Tanpa bosan melihat senyumnya, tanpa bosan mendengar cerita dan petualangannya ataupun sekedar mendengar guyonnya yang renyah. Ia menyihirku dalam suatu suasana yang romantis, memenuhi tubuhku dengan aliran birahi yang tak nampak namun kuat. Aku tersihir dalam keberadaannya.
"Bisakah kita bertemu lagi?" tanyaku pada akhir perjumpaan kami. Lalu ia memberikan nomor ponselnya padaku.
Menikmati wajahnya yang rupawan membuatku menghabiskan waktu berjam-jam tanpa bosan. Tanpa bosan melihat senyumnya, tanpa bosan mendengar cerita dan petualangannya ataupun sekedar mendengar guyonnya yang renyah. Ia menyihirku dalam suatu suasana yang romantis, memenuhi tubuhku dengan aliran birahi yang tak nampak namun kuat. Aku tersihir dalam keberadaannya.
"Bisakah kita bertemu lagi?" tanyaku pada akhir perjumpaan kami. Lalu ia memberikan nomor ponselnya padaku.
* * *
Kau Candu
Canduku
Senyummu Candu
Matamu Candu
Tawamu Candu
Aromamu Candu
Suaramu Candu
Kehadiranmu Candu
Kau adalah candu
Dan hari telah berganti hari. Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Namun aku dan dirinya kini telah menjadi satu. Tidak pernah seharipun kami terlepas satu sama lain. Pertemuan adalah seperti obat pereda nyeri dalam hatiku. Setiap malam, wajahnya seperti potongan kolase yang bermain-main dalam benakku.
Aku membayangkan bagaimana bila disetiap malam aku bisa membelainya, menyentuhnya dan merasakan manis bibir ranumnya. Bia. Tidak pernah terjadi apapun diantara kami, setidaknya hingga detik ini. Setiap bertemu yang kami lakukan hanyalah minum kopi bersama dan menceritakan keseharian masing-masing, berbagi tentang kepenatan dan juga cerita remeh yang kami temui disepanjang hari.
"Bagaimana jika kita pergi ke suatu tempat, aku sungguh merasa bosan namun ingin menemukan sedikit inspirasi." ujarnya sambil menghembuskan asap rokoknya dengan lembut. Bisakah aku saja yang kau hisap? lirihku dalam hati, fantasiku bermain.
Lalu kami melaju kencang menuju salah satu tempat yang sangat ingin aku kunjungi bersamanya, hal itu telah aku putuskan beberapa minggu yang lalu.
"Aku suka tempat ini. Tenang, tapi menenggelamkan." ujarnya.
"Sesekali aku kesini jika sedang merasa ingin menyendiri."
"Apakah kau pernah merasa kesepian? Seperti ada potongan dalam hatimu, hilang. Dan belum kau temukan." Bia mentap air terjun yang menggulung-gulung dihadapannya. Bahkan saat percikan air itu jatuh di wajahnya, menghembuskan rambutnya yang ikal ia terlihat sungguh menarik.
Aku diam, enggan menjawab.
Ia pun diam.
"Kenapa?" tanya nya heran.
"Aku sedang merasakan hal tersebut." jawabku. Ia membalasnya dengan kernyitan di dahi.
"Bisa jadi, sebenarnya kau adalah potongan kosong dalam hatiku. Dan selamanya aku tidak akan pernah bisa melengkapi kekosongan yang tertinggal itu. Karena potongan itu adalah dirimu."
Ia tertegun,
Dan entah apa yang mendorongku untuk berani merasakan manisnya bibir berlipstik merah menyala itu.
Dan Bia tak menolak, ia menikmatinya.
* * *
Kami saling jatuh cinta.
Menjelajahi waktu dan ruang bersama. Melupakan apa yang telah mengikat kami selama ini, meluluh lantakkan sakralnya hidup yang selama ini mengikat. Bersamanya aku melupakan dogma dan norma. Aku menikmati setiap tawa, cerita dan sentuhan kami entah itu kecil ataupun bergairah. Aku sungguh merasa jatuh cinta padanya. Pada kesederhanaannya dan juga kecerdasannya. Bagaimana ia mampu mengolah semua kata terasa indah ditelingaku, ataupun perilaku nya yang manja mampu menyihirku. Aku terbutakan. Ataukan memang begini memabukkannya jatuh cinta saat telah terikat?
Pernah suatu malam aku ingin sekali memutuskan untuk berhenti. Sungguh berhenti menemuimu. Namun keesokannya aku akan berada dalam keadaan mencari-cari kehadiranmu. Begitu terus berulang dan berulang. Sehingga aku memutuskan untuk menikmati saja. Tenggelam dalam kecanduanku padamu.
Entah apa yang kau rasakan.
Bisa jadi aku hanyalah selingan, dan seharusnya itulah yang boleh ia rasakan. Begitupun diriku.
"Harusnya, kau memang hanya remahan biskuit dalam toples makanan ku." ujarnya suatu hari.
"Tapi entah kenapa, aku merasakan porsi yang sama. antara dirimu dan dirinya."
Aku hanya diam. Mencerna semua perkataannya.
"Namun, keberadaanku berbeda denganmu. Aku, tidak bisa mengorbankan kehidupanku untuk terus bersamamu."
Aku mengernyitkan dahi, "Apa maksudmu?". Aku mencoba emmahami arah pembicaraan ini.
"Aku merasa kita harus berhenti." akhirnya kalimat itu keluar dari mulutmu.
"Setelah selama ini? Kita sudah bersama selama lima bulan, Bia! Dan semua terasa menyenangkan."
Aku menarik tubuhnya kedalam pelukanku, menciumnya dengan sepenuh hatiku. Bibirnya yang tebal memenuhi bibirku. Aku suka setiap ia melumatku. Manis.
Ia menarik diri.
"Aku tahu. Dan ini terasa terlalu menyenangkan." ia menjawab. matanya kosong. "Aku seperti membutuhkanmu setiap detik. Bahkan saat dirumah yang aku lakukan hanyalah mengecek sosial mediamu, melihat aktifitasmu dan berharap kau bisa mengirimu pesan setiap detik. Dan itu berpengaruh pada kehidupanku. Malam itu, Ben bertanya apakah ada yang salah dalam diriku. "
"Dan saat itu kau sadar bahwa kita harus berhenti?" tandasku.
Bia mengangguk, matanya terlihat berkaca-kaca.
"Aku tidak mau kehilanganmu. Aku bersedia bertemu satu kali dalam sebulan. Tapi Bia, jangan berhenti menemuiku. Aku membutuhkanmu."
"Bagaimana bisa? Aku sungguh ketakukan sekarang!"
"Tidak ada yang tahu. Kita tidak akan membicarakannya pada siapapun."
"Perasaanku kacau! Aku takut ini akan mempengaruhi keluargaku. Kita harus berhenti. Berhenti!"
"Tapi Bia... aku sungguh mencintaimu."
"Dan kau pun tahu aku mencintaimu. Bersamamu seperti surga untukku."
Lalu kami terdiam. Aku tahu, Bia membutuhkan waktu untuk mengeti apa yang ia rasakan. Aku tidak akan memaksanya, tidak akan. Ia memiliki lebih banyak yang dipertaruhkan dalam hidupnya. Ia bergantung pada suaminya. Si brengsek Ben. Pria tampan, mapan dan juga setia itu. Yang akan ia ceritakan dengan bangga kepadaku betapa ia bersyukur memiliki Ben dalam hidupnya.
Ben yang selalu ada dalam kondisi tersulit Bia. Entah itu dalam mengurus anak-anak mereka atau pun sekedar mencuci pakaian untuknya. Aku sangat membenci itu, namun bersyukur. Setidaknya Bia bahagia dalam pernikahannya. Dan aku mengerti ia dalam persimpangan.
Hanya saja, aku berharap hubungan kami selamanya.
Aku memandang ujung sepatuku. Aku tidak akan mempertahankan Bia. Biarlah ia memutuskan suara hatinya, dan kebimbangannya. Tugas ku, hanya menunggunya.
* * *
Sudah 360 hari sejak pertemuan terakhir kami. Dan tidak ada komunikasi sama sekali. Kadang hatiku memanggil-manggilnya, terasa dahaga akan kehadirannya. Namun, aku mencoba menahannya karena aku tidak ingin mengganggu keputusannya.
Sore itu aku memandang laut dari tepian jembatan. Rautmu menari-nari di pelupuk mataku. Ada rindu dalam hatiku yang mengingkan untuk meyentuhmu. Saat kau berkata betapa indahnya mata dan senyumku. Betapa kau menyukai kegenitanku. Dan betapa kau menyukai rasa yang ada diantara kita. "Bersamamu aku merasa dicintai." itu katamu.
Angin menghembus wajahku. Pori-poriku terasa menciut. Dingin. Sedingin hatiku.
"Mama, ayo kita bermain lempar bola ini. Papa menunggu." Alya memanggilku dengan nada riang. Di ujung sana Ali melambaikan tangan ke arahku. Aku tersenyum memandangnya, lalu meraih tangan Alya untuk menuju Ali. Suamiku.
Sungailiat, Desember 2019
Rabu, 24 Oktober 2018
Aku - rindu
Menjelma seperti merpati
Terbang entah kemana mencari arti
Menghirup kebebasan yang semu
Harapan seperti ambigu
Jika aku ke kiri, aku sepi
Kehilangan sebelah hati
Jika aku kekanan, aku kosong
Seperti ada yang hilang dari diri
Tapi aku belum menemukan kesempatan
Untuk menghimpun kanan dan kiri
Aku merindu
Seperti punguk kepada bulan
Seperti romeo pada juliet
Seperti ibu pada anak
Meruah...
Hambur...
Tak terbendung...
Tak termakna
Hidup seperti apa yang tercitra
Makna apa yang di duga
Aku masih berada seperti adanya
Berusaha
Berusaha
Berusaha
Rabu, 27 September 2017
The Lucky Guy
“Dan
Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya
kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di
antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu,
maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan
janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan
yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang
dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua
telah mendidik aku pada waktu kecil.’” [Al-Israa’ : 23-24]
Wajahnya
tampan, mata bulat indah dengan bulu mata lentiknya tersusun sempurna melengkapi
lengkungan alis hitam nya yang lebat. Hidungya terukir kokoh seperti melengkapi
kesempurnaan indah wajahnya. Kulitnya yang putih cemerlang akan kemerahan
ketika terpapar matahari. Dan ketampanannya akan memancar kala bibir tipisnya
melebarkan senyuman kepada siapapun yang memandangnya.
Banyak
orang menyebutnya sebagai “lucky guy”.
Sebuah julukan yang ambigu menurutku. Karena makna dari keberuntungannya
adalah, ia bisa mendapatkan segala yang ia miliki sekarang ini bukan karena
kerja kerasnya, namun pure dari factor x alias keberuntungan atau
sebenarnya ia telah berusaha maksimal dibalik sikap cengengesan-nya yang tidak meyakinkan siapapun.
Tapi ia
tidak pernah peduli dengan anggapan oranglain, entah orang menilai semua kerja
keras yang ia lakukan mati-matian dinilai “tidak berharga” karena ia sukses
karena berutung ataupun orang menilai dirinya dengan cara yang berbeda. “Aku
tidak berkeberatan samasekali jika memang aku adalah orang yang beruntung.” Ujarnya.
Pernah
aku mendapat cerita tetangnya yang mendaftar menjadi pegawai di detik-detik
terakhir dan akhirnya lulus pada satu kali tes. Pada masa nya harus
pemberkasan, ia adalah orang yang terakhir kali mengumpulkan berkas-berkas yang
dibutuhkan itu pun masih perlu dibantu temannya. Namun yang menyebalkan, justru
surat keputusan sebagai calon pegawai miliknya lebih dahulu terbit dibandingkan
teman-teman yang lain.
Itu hanya
salah satu dari kisah keberuntungannya.
Ia sering
mengatakan kepadaku, “dalam setiap keadaan selalu ada orang-orang yang bersedia
dan ikhlas membantu, atau disaat-saat genting keadaan yang baik selalu berpihak.
Makanya, jadilah orang yang ikhlas membantu oranglain.”
Aku sering
merasa iri kepadanya karena aku adalah tipikal yang selalu berusaha mati-matian
untuk meraih sesuatu. Aku tidak terlalu percaya dengan keberutungan. Menurutku,
untuk meraih sesuatu diperlukan usaha yang maksimal dan ketika kita berhasil
meraihnya itu lebih memuaskan daripada mendapatkan sesuatu secara kebetulan. Mungkin
itu yang membuat diriku menjadi sosok ambisius, sedangkan dia adalah sosok easy
going. Namun beberapa tahun terakhir aku akhirnya memahami mengapa ia selalu
menjadi oaring yang beruntung setelah menemukan hadist ini : “Sangat beruntung orang yang berbakti kepada
orangtuanya…” (HR. ath-Thabrani)
Jika pada
buku-buku yang aku baca selalu aku temukan kisah pemuda yang berbakti kepada
orangtuanya, mungkin dalam dunia nyata dia adalah salah satu dari pemuda itu. Ia
adalah pemuda paling berbakti yang pernah aku lihat didunia nyata.
Ia tidak
pernah membantah perkataan orangtuanya, apalagi bersikap dan berkata kasar. Semua
perkataan orangtua adalah titah baginya. ia akan dengan ikhlas mengurus
orangtuanya yang sekarang telah menua, mengurut kaki mereka, membuatkan jus,
memasakkan makanan dan apapun yang menyenangkan hati orangtuanya. Ia tidak
pernah bersikap nakal atau apapun yang membuat hati kedua orangtuanya jengkel. Ia
sungguh-sugguh contoh anak yang berbakti. Jangankan jika dimarahi orangtua,
dimarahi kakak-kakak nya pun ia tidak pernah marah ataupun sakit hati. Apalagi mendendam.
Kadang aku berfikir, hatinya terbuat dari apa.
Dan sikapnhya
yang lemah lembut dan berbakti kepada orangtua tersebutlah yang menurutku
membantunya dalam kehidupa. Allah membantunya dalah setiap langkah hidupnya
kini. Ia tidak pernah kesusahan karena Allah membantunya, balasan karena ia
tidak pernah menyusahkan kedua orangtuanya.
Tidak
hanya kepada kedua orangtuanya, kepada mertua-nya pun ia bersikap hormat,
patuh, tunduk dan juga penuh kasih sayang. Ia tidak perah membedakan sedikitpun
perhatian antara ibu kandungnya dan ibu mertua. Ketika ia membeli tas untuk
ibunya, maka ibu mertua akan mendapatkan serupa. Ketika ia membelikan baju
untuk mertua, maka ibunya pun akan mendapatkannya. Ia selalu berusaha bersikap
adil.
Dengan
sikap mulia seperti itu, bukankah wajar jika Allah memberikannya “hadiah”
dengan selalu melancarkan segala urusan kehidupannya yang kerap kita sebut
keberuntungan?
Selasa, 26 September 2017
Resah Sang Mama
Rasanya
ingin mencubit makhluk lucu dihadapanku ini dengan sekuat tenaga. Atau mungkin
lebih kejam : memasukkannya kembali ke dalam perutku dan me-restart nya menjadi bayi mungil yang
dapat aku program perilakunya sesuai dengan keinginanku. Tapi aku buru-buru
sadar bahwa memukulnya tidak akan menyelesaikan masalah, apalagi memprogram
ulang karakternya, ia bukan robot. Lalu yang aku lakukan hanyalah mengehala
nafas panjang dan berat, lalu diam. Yang tepat adalah mendiamkannya.
Usianya
baru tiga tahun empat bulan, walaupun badannya seperti anak lima tahun dengan
berat duapuluh delapa kilogram. Wow. Fantastis. Mungkin perkembangan tubuhnya
yang pesat selaras dengan perkembangan sel-sel otaknya sehingga ia menjadi anak
yang kritis.
“Mama,
mama tidak sopan. Pukul-pukul kaki Juna!” ujarnya setelah aku pukul pelan
kakinya karena tidak mau membereskan mainan yang telah ia hamburkan di lantai
kamar. Bagaimana bisa anak berusia tiga tahun ini bisa mendikteku tanpa
menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan. Ia melakukan kesalahan dan malah
menyalahkanku dengan mengatakan aku tidak sopan? Ia copy paste perkataannku! Itu
kata-kata yang aku ucapkan kepadanya ketika bocah tampan itu memukulku saat ia
marah atau keiginannya tidak aku penuhi, “Juna, tidak sopan memukul orangtua
atau siapapun. Juna harus sabar.”
Biasanya ia akan menjawab dengan tegas : “Juna enggak mau sabar!” jawaban yang
kerap membuatku naik pitam.
Tapi telah beberapa bulan terakhir ini aku lelah naik pitam. Lelah marah-marah panjang lebar. Aku mengambil sikap : mendiamkanya saat ia memukul dan membereskan mainannya yang berantakan tanpa berkata sepatah kata pun dan menyimpan mainan tersebut ditempat yang tidak bisa ia raih (aku menyebutnya “masa hukuman”, walaupun Juna menangis merengek merayu-rayu aku tidak akan memberikan mainan tersebut aku tidak akan memberika mainan tersebut kepadanya).
Tapi telah beberapa bulan terakhir ini aku lelah naik pitam. Lelah marah-marah panjang lebar. Aku mengambil sikap : mendiamkanya saat ia memukul dan membereskan mainannya yang berantakan tanpa berkata sepatah kata pun dan menyimpan mainan tersebut ditempat yang tidak bisa ia raih (aku menyebutnya “masa hukuman”, walaupun Juna menangis merengek merayu-rayu aku tidak akan memberikan mainan tersebut aku tidak akan memberika mainan tersebut kepadanya).
Saat
aku mendiamkannya, Juna akan mendatangiku dan memelukku dengan berkata “juna
sayang Mama, Juna rindu Mama, Mama jangan marah.”
Dan
kata-katanya yang paling terbaru adalah, “Mama jangan merajuk”
Jangan
Merajuk?
Anak
tiga tahun itu sudah tahu Mama nya merajuk? Walaupun sebearnya hatiku telah
luluh dengan pelukan, ciuman, dan kata-katanya yang menggemaskan itu, aku akan
menahan diri beberapa saat untuk tetap mendiamkannya. Setelah aku rasa cukup,
aku akan berkata : “Mama memaafkan Juna, tapi Juna tidak boleh mengulangi sikap
Juna tersebut karena itu bukan sikap yang baik.” Dan akan dijawabnya cepat dengan “Iya, Mama.”
Lalu
sikap itu akan tetap berulang keesokan harinya, atau paling cepat beberapa jam
kemudian.
Ya, kembali aku hanya bisa menghela napas panjang. Dan berdoa semoga sikap Juna ini akan segera berubah dan ia menjadi anak yang penyayang, tidak suka kekerasan dan juga berbakti. Amin.
Aku
akui sedikit banyak sikap Juna disebabkan ia mencontoh perilaku orang dewasa
disekitarnya, terutama aku. Dua sikap Juna yang membuatku was-was adalah : suka
memukul saat marah atau keinginannya tidak dituruti dan sering menyalahkan
sesuatu atau orang ketika ia gagal atau terluka.
Aku
cukup khawatir dengan sikap Juna yang akan memukul lantai rumah dengan marah
ketika ia jatuh, atau ia akan membanting helm nya karena ia kesulitan memasang
pengaitnya, juga ia akan memukul tangannya sendiri ketika ia melepaskan sesuatu
karena tidak sengaja. Aku paling tidak suka menyalahkan oranglain apalagi disalahkan. Dan aku berharap
aku dapat mengubah sikap Juna ini menjadi sikap dan perilaku yang lebih baik.
Sikap
Juna yang suka memukul saat marah bisa jadi ia mengekor sikapku yang akan mudah
memukulnya saat darah sudah mencapai ubun-ubun ditegah malam. Ya, saat Juna
masih merengek-rengek mengajak bermain padahal sudah lewat pukul duabelas
malam, dan tubuhku lelah karena selalu begadang tiap malam padahal pagi-pagi
harus bangun dan bekerja, seringkali membuatku memukul Juna disaat itu karena
lelah dan marah telah berakumulasi. Sekarang aku masih menyesali ketidak
sabaranku tersebut. Lelah bekerja membuat kemarahanku memuncak, keterbatasanku
membuat aku mengambil keputusan yang tidak tepat dalam menghadapi anakku
sendiri. Dan sekarang akulah yang berkewajiban memperbaiki kesalahanku
tersebut. Bismillah.
Honestely, sifat Juna 90% mirip sekali dengan sifatku. Pemarah, tidak sabaran, tidak mudah menyerah, selalu beranggapan ia dapat melakukan segala sesuatunya sendiri, tidak bisa dinasehati dengan kata-kata kasar, dan juga manja. Aku berharap Juna lebih memiliki sifat Papa-nya yang penyabar dan penurut (mungkin nanti kalo dapet anak perenpua bakalan punya sifat kaya si Papa kali yeeeeeeee, Amin!). Ah... Abang Juna, Mama sungguh mencintaimu apa adanya, karena bagaimana karaktermu tentunya tanggungjawab Mama sepenuhnya. Semoga Mama dan Papa bisa mendidikmu menjadi anak yang sholeh, berbakti, dan bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Amiennnnnnnnnnnnnnn.
Jadi teringat dengan kata-kata Ibu sewaktu aku masih remaja : "Nanti, kalo Adek punya anak yang 'bandel' jangan heran apalagi dipukul, soalnya Adek tuh bandel!"
Honestely, sifat Juna 90% mirip sekali dengan sifatku. Pemarah, tidak sabaran, tidak mudah menyerah, selalu beranggapan ia dapat melakukan segala sesuatunya sendiri, tidak bisa dinasehati dengan kata-kata kasar, dan juga manja. Aku berharap Juna lebih memiliki sifat Papa-nya yang penyabar dan penurut (mungkin nanti kalo dapet anak perenpua bakalan punya sifat kaya si Papa kali yeeeeeeee, Amin!). Ah... Abang Juna, Mama sungguh mencintaimu apa adanya, karena bagaimana karaktermu tentunya tanggungjawab Mama sepenuhnya. Semoga Mama dan Papa bisa mendidikmu menjadi anak yang sholeh, berbakti, dan bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Amiennnnnnnnnnnnnnn.
Jadi teringat dengan kata-kata Ibu sewaktu aku masih remaja : "Nanti, kalo Adek punya anak yang 'bandel' jangan heran apalagi dipukul, soalnya Adek tuh bandel!"
Minggu, 24 September 2017
Bahagiaku Bukan Bahagiamu
Hidup
ini selalu dinamis, berubah dan juga tidak stagnan. Selalu mengarah pada
perubahan yang tidak akan pernah berhenti berputar. Entah perubahan itu kearah yang
lebih baik, atau menjemukan bahkan merusak, kita tidak pernah tahu.
Perubahan
sedikit demi sedikit pun tidak luput dalam kehidupaku. Aku yang dahulu hanyalah
anak bungsu yang manja, hanya memikirkan tentang bahagiaku saja, karirku saja,
dan pusat kebahagiaanku hanya bermain dan menemani Ibu, lambat laun pun berubah
setelah menjadi istri.
Suamiku
yang baik hati membawaku kerumahnya yang mungil namun membahagiakan. Membesarkan
buah hati kami dan juga menjalani aktifitas sebagaimana layaknya pasangan muda
pada umumnya. Pagi hari bekerja dengan sebelumnya menitipkan anak ke
pengasuhnya, pulang kerja di sore hari (bersyukurlah kota ini bebas macet yang
membuat kepala mau pecah), dan menjalankan rutinitas ibu rumah tangga dimulai
sejak beduk magrib berkumadang. Aku menjalaninya dalam lelah yang bahagia. Setelah
pulang kerja, aku akan segera memasakkan lauk untuk makan malam, mencuci
piring, membereskan rumah dan bercanda bersama anak dan suamiku. Aku bahagia. Walaupun
harus tidur paling cepat pukul duabelas malam dan bagun pagi-pagi sekali. Aku bahagia
karena aku didukung oleh suami yang sungguh baik dan perhatian.
Namun
dalam bahagiaku, aku melupakan ada Ibu yang kesepian.
Ketika
suami memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Kota Hujan, otomatis aku dan
buah hati harus ‘hijrah’ kerumah Ibu karena selain lokasi rumah kami dan tempat
aku bekerja cukup jauh dan membuatku kesulitan untuk mengasuh anak sendirian
selepas pulang bekerja, masalah financial
pun menjadi prioritas utama. Harapan kami, dengan tinggal sementara dirumah Ibu
akan dapat mengurangi keterbatasan financial
yang akan aku hadapi ketika suami harus melajutkan kuliah. Ibu pun menyanggupi
dan dalam aku kembali masuk dalam zona nyamanku.
Ketika
seorang anak telah menikah, bagaimanapun anak tersebut akan tetap dianggap
sebagai “anak kecil” yang masih harus diatur, diarahkan dan juga diawasi. Sedangkan
dalam paradigma seorang anak yang telah menikah, ia akan berpikir bahwa ia
adalah seseorang yang telah dewasa, memiliki pendapat, pola dan pemikiran tertentu
tentang bagaimana dan apa yang harus ia lakukan. Entah itu dalam mengelola
keuangan, mengasuh anak, mengurus anak dan juga memenejemen waktu.
Tapi
perbedaan “idealisme” antara orangtua
dan anak yang telah menikah namun tinggal serumah tidak akan berjalan dengan
mulus dan rata seperti jalan tol ataupun paha cherrybelle. Perlahan tapi pasti pergesekan akan terjadi. Seperti yang
terjadi antara aku, Ibu dan Bapak.
Terutama
Ibu.
Ibu
masih seperti Ibu yang dulu, tidak berubah. Aku yang telah berubah. Ibu masih
Ibu yang manja, yang ingin dimengerti, yang mudah merajuk, dan juga keras
kepala. Ibu seyogyaya tidak pernah berubah. Aku telah mahfum dengan sikap Ibu
ini. Tapi sekali lagi, aku yang berubah.
Ibu
yang tetap ingin bisa berkisah dan bercerita denganku berjam-jam.
Ibu
yang tetap ingin aku menyapu dipagi hari, mencuuci piring disore hari.
Ibu
yang tetap ingin memarahiku ketika aku tidak mencuci baju, memasak ataupun
bangun kesiangan.
Ibu
yang tetap ingin mengatur bagaimana aku berpakaian dan bersikap.
Ibu
yang tetap ingin aku memboncengnya kemanapun ia pergi dengan senang hati.
Ibu
tidak berubah. Aku yang berubah.
Aku
yang tidak dapat lagi menemaninya bercerita sampai tengah malah dan memeluknya
sepanjang malam karena harus mengurus anakku yang aktif luar biasa, Alhamdulillah.
Aku
yang tidak dapat lagi mengerjakan pekerjaan rumah seperti seharusnya karena
anakku yang rewel tidak mau ditinggal, atau seringkali merecokiku setiap kali
aku bekerja dan juga kelelahan dahsyat yang melanda setiap kali pulang bekerja.
Aku
yang tidak dapat lagi menemani Ibu pergi dengan bebas dan nyaman karena harus
membawa anakku kemana-mana dengan segala kerepotan dan kehebohan yang ada.
Aku
yang terlalu memprioritaskan suamiku dan anakku sehingga aku melupakan bahwa
Ibu pun ingin tetap menjadi prioritasku.
Aku
yang terlalu asyik dengan duniaku sehigga aku melupaka bahwa aku adalah dunia
Ibu.
Aku
berubah.
Aku
merasa telah dewasa, sehingga walaupun aku memiliki keterbatasan financial, aku tetap memiliki hak utuk
menentukan dan mengatur ingin seperti apa aku mengasuh anakku. Dengan caraku. Dengan
polaku. Yang tentunya berbeda dengan cara mereka mendidikku.
Aku
yang berubah.
Aku
yang tidak dapat memberikan perhatian yang sama antara Ibu, Suamiku dan Anakku.
Aku mengorbakan Ibu dalam kebahagiaanku.
Sampai
saat ini aku tidak tahu bagaimana harus menjadi seseorang yang adil bagi
mereka. Ditambah dengan kenyataan bahwa kami harus mengikuti suami yang akan
ditempatkan bekerja di kota Palembang, membuat hubungan ini menjadi semakin
memburuk.
Ibu
down.
Ibu
seperti kehilangan arah. Lagi-lagi aku lupa bahwa aku adalah dunia Ibu. Karena aku
sedang menggenggam duniaku, aku lebih memikirkan duniaku sehingga melupakan
Ibu. Aku yang lebih mengejar bahagiaku sehingga melupakan bahagia Ibu.
Aku
sadar aku terlihat kejam dimata Ibu ketika aku memilih untuk bersama keluargaku dibandingkan bersama
Ibu. Bahkan aku tidak tahu apakah keputusan ini benar atau tidak. Tinggal dengan
mertua terdengar tidak lebih baik dibadingkan tinggal bersama dengan orangtua
sendiri. Bisa jadi keputusan ini akan aku sesali, tapi aku sadar aku akan lebih
menyesal jika harus membuat anak-anakku nantinya hidup seperti aku sewaktu
kecil. Selalu berjauhan dengan Bapakku. Aku hanya mampu memotivasi diriku bahwa
aku akan bahagia dimanapun aku berada asalkan aku bersama dengan keluargaku. Aku
yakin semua kesulitan akan mampu aku hadapi asalkan aku bersama dengan orang
yang aku cintai, dan mencitaiku.
Aku
berubah.
Hidupku
berubah. Aku bukan lagi anak gadis remaja Ibu yang dapat menemani Ibu seperti
yang dahulu aku lakukan.
Semoga
Allah memberikan jalan keluar atas segala kecamuk yang sedang aku hadapi.
Semoga
Allah memberikanku kesempatan untuk membahagiakan Ibu dan Bapak, setidaknya
agar mereka bisa meganggapku sebagai anak yang mereka harapkan. Bukannya sebagai
aak yang mereka sesalkan.
Langganan:
Postingan (Atom)
Aku Bumi
Aku bumi Kau bintang Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -
-
Adell dan Lais (Part I) Adell mematut wajah dan tubuhku didepan cermin lama sekali. merasa semua yang di kenakannya pagi ini semu...
-
ku lepas semua yang ku inginkan tak kan ku ulangi maafkan jika kau ku sayangi dan bila ku menanti pernahkan engkau coba mengerti lihat...